Kementan Klaim Nilai Tukar Petani Naik Signifikan Tahun Ini, Bagaimana Datanya?

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan bahwa kenaikan nilai tukar petani (NTP) dan nilai tukar usaha petani (NTUP) secara nasional sebagai salah satu capaian yang patut disyukuri

Amran juga menyebutkan bahwa tingkat kesejahteraan petani ternyata meningkat secara signifikan selama satu tahun terakhir ini.

Baca Juga : Mengenal Arti Nilai Tukar Petani (NTP)

“Keberhasilan Kementan bukan hanya dalam konteks pengadaan pangan yang kita lihat selama ini, terutama menjelang puasa, selama puasa dan setelah puasa. Kemudian secara kuantitatif NTP dan NTUP naik secara signifikan,” kata Amran saat acara halal bihalal di kantor Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (10/6/2019).

Bagaimana Datanya? Apa Penyebab Kenaikan Nilai Tukar Petani?

Dari data Badan Pusat Statistik untuk Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) di bulan Mei 2019 mengalami kenaikan. Sementara untuk angka di bulan April kemarin NTP naik sebesar 0,38% menjadi 102,61. Untuk nilai NTUP sendiri mengalami kenaikan 0,73% menjadi 111,94.

Baca Juga : Mentan Beberkan 7 Negara Untuk Ajak RI Kerja Sama Di Upacara Hari Pancasila 1 Juni

Jika melihat pada tahun 2017 dan 2018, NTP nasional hanya menyentuh angka 101,91 periode Mei 2017 dan angka 101,99 di periode Mei 2018.

Yang menyebabkan kenaikan secara signifikan di Mei 2019 disebabkan indeks harga yang diterima petani (IT) mengalami kenaikan 0,86% dibanding Indeks yang dibayar oleh petani (IB) Sebesar 0,48%.

Tidak hanya itu, kenaikan juga dipengaruhi oleh meningkatnya NTP di empat sub sektor pertanian. Seperti sektor tanaman holtikultura sebesar 1,42%, tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,43%, peternakan 0,83% dan perikanan sebesar 0.37%.

Kementan Klaim Nilai Tukar Petani Naik Signifikan Tahun Ini
Ilustrasi : Kementan Klaim Nilai Tukar Petani Naik Signifikan Tahun Ini

Menurun di Sebagian Sektor

Namun sayangnya, untuk bagian sektor tanaman pangan justru menurun hingga 0,55% pada bulan Mei lalu. Menurut kepala BPS Surhayanto berpendapat bahwa menurunnya sub sektor tanaman pangan berkolerasi pada rendahnya harga beras di pasar di bulan Ramadan lalu.

Pada bulan Mei 2019, beras menyumbangkan deflasi sebesar 0,02% menurut catatan BPS. Didiukung pula oleh faktor musiman sehabis panen raya sehingga menyebabkan stok beras yang cukup banyak.

Baca Juga : Pentingkah Strategi Adaptasi Perubahan Iklim Di Sektor Pertanian?

“Harga padi turun karena harga gabah masih rendah jadi di satu sisi kita harus pikirkan panen raya harganya tidak jatuh untuk seimbang menguntungkan dua pihak,” ucap Suhariyanto Senin (10/6/219) kemarin.

Sementara harga beras premium yang tercatat pada Mei 2019 mencapai Rp 9.462/kg , atau turun 0,03% dibanding April 2019. Untuk beras medium senilai Rp 9.143/kg atau turun 0,02%. Sementara itu beras jenis rendah senilai Rp 8.953/kg atau naik sekitar 0,19% persen dibanding April 2019.

Disadur dari Tirto.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.