Asuransi Usaha Pertanian

Hadirnya empat buah asuransi usaha pertanian menjadi program yang sangat dinanti bagi petani. Adapun terbagi atas Usaha Tani Padi (AUTP), Usaha Ternak Sapi (AUTS) atau Kerbau (AUTK) serta Asuransi Nelayan. Semuanya ini membawa angin segar bagi pelaku sektor industri. Sebab hadirnya asuransi ini menjadi perlindungan bagi petani menghadapi ketidakpastian.

Oleh sebab itu Budhy Setiawan selaku Anggota DPR RI Komisi IV meminta Kementerian Pertanian untuk segera mensosialisasikan tentang Asuransi Usaha Pertanian secara menyeluruh.

Baca Juga : Musim Kemarau Tiba, Petani Dihimbau Mengikuti Asuransi Pertanian

“Asuransi ini menjadi perlindungan usaha dari resiko ketidakpastian, sehingga petani lebih termotivasi menjalankan usaha budidayanya,” kata Budhy dalam keterangannya, Rabu (20/11/2019).

Ketidakpastian tersebut mencakup beberapa hal. Seperti faktor bencana alam, serangan hama dan penyakit penyebab gagal panen. Harapannya dengan mengikuti asuransi, petani dapat menjadi lebih nyaman untuk bertani.

“Melalui jaminan asuransi, kita bisa mendorong kepastian keberlanjutan usaha pertanian, sehingga nantinya mampu menjamin kelangsungan hidup keluarga petani dan mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional,” jelas Budhy.

Bagaimana Pengajuan Proses Asuransi Usaha Pertanian?

Proses pengajuan asuransi usaha tani ini kelak dapat dilakukan oleh petani lewat Dinas Pertanian Kabupaten/Kota setempat. Setelah itu Dinas akan mengajukan daftar peserta asuransi definitif ke Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian dengan tembusan Dinas Pertanian Provinsi.

Jika disetujui, pembayaran asuransi dapat dilakukan oleh petani melalui transfer bank yang buktinya dapat diserahkan kepada petugas asuransi untuk ditukar dengan sertifikat asuransi.

Baca Juga : Asuransi Pertanian, Membantu Petani atau Tidak?

Berapa Biaya yang Diperlukan?

Adapun besaran premi yang harus dibayarkan oleh peserta adalah sebesar 3 persen dari asumsi besaran biaya input usaha tani Rp 6 juta/ha setiap musim tanam. Atau sekitar Rp 180 ribu/ha setiap musim tanam.

Dalam rangka ini, pemerintah pun turut memberikan subsidi sebesar 80% dari besaran premi ini. Sehingga petani hanya membayar sekitar 20 persen atau sekitar Rp 36 ribu per/ha di setiap musim tanam. Jumlah ini kemudian diakumulasikan dengan total luas lahan yang dimiliki petani.

“Sesegera mungkin sosialisasi menyeluruh terkait asuransi ini harus dilakukan, agar lebih melindungi dan memotivasi petani Indonesia mengembangkan usaha pertaniannya,” pungkasnya.


Nah itu dia sedikit ulasan artikel pertanian tentang . Bagaimana menurut kamu sobat PTD? Ada yang sudah ikut asuransi pertanian sebelumnya?

Baca Juga : Air dan Alsistan, Dua Faktor Utama Usaha Tani

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.