Startup Sosial Petani Indonesia
Seperti yang kita ketahui beberapa tahun belakangan, perubahan iklim merupakan salah satu topik yang sangat gencar dibicarakan, terlebih lagi semenjak aktivis muda Greta Thunberg memulai gerakan membolos sekolah untuk lingkungan atau yang lebih dikenal dengan “school strike for climate”, dimana saat berusia 15 tahun Greta membolos untuk berdemo di depan Parlemen Swedia dan menuntut para politisi dunia untuk melakukan lebih banyak untuk lingkungan.
Dalam segala bidang, berbagai perubahan mulai dilakukan demi keberlangsungan lingkungan. Kata ‘eco-friendly’ atau ‘sustainability’ juga lebih sering kita dengar, kendaraan listrik juga semakin banyak. Pertanian pun juga menjadi salah satu bidang yang semakin ramah lingkungan, semakin banyak bermunculan komunitas pertanian organik. Salah satu sistem pertanian organik yang terkenal adalah permakultur. Apa permakultur itu sebenarnya? Apakah sahabat PTD sudah pernah mendengar tentang permakultur?

Permaculture Visions
Permakultur disadur dari bahasa Inggris “Permaculture” yang merupakan singkatan dari ‘permanent agriculture’ yang berarti pertanian dengan sistem atau tatanan kehidupan yang lestari atau terus-menerus. Sistem permakultur memiliki prinsip keseimbangan dan berkelanjutan. Konsepnya serupa dengan sistem pertanian terpadu dan pertanian organik. Yang mana pada pertanian terpadu memanfaatkan kembali segala sumber daya yang ada agar tidak terbuang, seperti pertanian organik, pertanian terpadu juga menekankan penggunaan pupuk organik. Lalu apa bedanya permakultur dengan pertanian terpadu dan pertanian organik?
Baca juga: Kebun Kumara, Agrowisata yang Menarik Kaum Muda untuk Bertani
Salah satu yang membedakan permakultur dengan pertanian terpadu atau pertanian organik adalah, permakultur lebih menekankan pada desain, perencanaan pertanian, serta integrasinya dengan implementasi yang berupa praktek pertanian. Permakultur berawal dari pemikiran Bill Mollison untuk bekerja dengan alam, bukan melawannya. Permakultur memiliki 3 etika, yaitu:
- Peduli bumi: bagaimana kita mengelola elemen biotik dan abiotik di bumi agar tetap berkelanjutan,
- Peduli manusia: bagaimana kita memanfaatkan dan memperluas akses sumber daya untuk keberlangsungan hidup manusia,
- Keadilan/pengaturan batas konsumsi dan populasi: bagaimana kita mengatur jumlah kebutuhan sendiri agar kita bisa menyisihkan untuk kebutuhan di masa depan. Apa yang diambil harus dikembalikan.
Dengan etika-etika di atas, berarti dalam penerapannya permakultur memerlukan rancangan ekologis yang dapat membangun sistem pemanfaatan energi agar keluar masuknya energi bisa efisien.
Mungkin masyarakat Indonesia belum terlalu familiar dengan permakultur, namun berdasarkan penelitian Putro dan Miyaura pada tahun 2020, permakultur sudah mulai masuk Indonesia sejak tahun 1999 lebih tepatnya di Bali. Saat itu konsep permakultur masih sangat asing dan pengaplikasiannya difasilitasi oleh Yayasan IDEP. Yayasan IDEP didirikan pada tahun 1998 untuk membantu masyarakat dengan pelatihan saat terjadi krisis ekonomi dan sosial pada tahun 1998. Dalam periode tersebut, permakultur digunakan sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan energi selama masa krisis tersebut. Kemudian operasi Yayasan IDEP berkembang sampai ke Bali, Flores, dan Sulawesi. Kemudian pada tahun 2006 ke atas, mulai muncul lembaga lain yang memfasilitasi pertanian permakultur seperti Institut Bumi Langit, Taman Organik Jiwa Damai dan Moksa Ubud Restaurant.

Permaculture Sydney Institute
Pertanian permakultur Indonesia tidak hanya fokus pada ketahanan pangan, namun juga masalah sosial melalui pendidikan dan pelatihan. Konsep permakultur ini bisa menjadi solusi berkelanjutan bagi petani Indonesia, dengan memberikan edukasi kepada petani bahwa penggunaan pupuk kimia memiliki dampak buruk dalam jangka panjang, begitu juga dengan pola tanam monokultur. Meskipun pertanian organik sudah menjadi tren dan cukup familiar di kalangan masyarakat, sayangnya sistem permakultur belum terlalu dikenal.
Baca juga: Mengenal Teknologi Agrikultur Modern yang Bermanfaat Bagi Petani
Referensi: https://www.caritra.org/2017/11/10/memahami-lebih-dalam-tentang-permakultur/