Kebun Kumara, Agrowisata yang Menarik Kaum Muda untuk Bertani

Di Indonesia, memang sudah banyak generasi muda yang berkutat di dunia pertanian karena adanya kesadaran mereka akan pentingnya mengembangkan pertanian di Indonesia. Namun, jumlah mereka yang tertarik dengan dunia pertanian masih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah generasi muda (usia produktif) di Indonesia serta julukan Indonesia sebagai negara agraris.

Selain masalah ketertarikan, luas lahan juga sering dianggap sebagai masalah besar dalam pertanian, terutama di wilayah perkotaan. Kebun Kumara, sebuah tempat agro-wisata di pinggiran Kota Jakarta Selatan, menjadi bukti bahwa bertani di wilayah perkotaan adalah hal yang sangat mungkin dilakukan. Ini terbukti dari luas Kebun Kumara yang hanya seluas 1,5 hektar tapi memberikan banyak manfaat bagi banyak orang.

Kebun Kumara didirikan oleh Soraya Cassandra, akrab dipanggil Sandra, seorang perempuan lulusan Psikologi Universitas Indonesia dan University of Queensland. Meskipun pertanian bukanlah jurusannya sejak awal, namun minatnya untuk mengembangkan dunia pertanian Indonesia membawanya bersama suami, adik, dan suami adiknya untuk mendirikan Kebun Kumara pada Juli 2016.

Soraya Cassandra dan suaminya sebagai pemiliki Kebun Kumara
Soraya Cassandra dan suaminya | Sumber: petanimuda.org

Baca: Ketahui 5 Keuntungan Berkebun Di Rumah

Kata “Kumara” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti “generasi yang akan datang”. Awalnya, pendirian Kebun Kumara memang didasari oleh keresahan Sandra terhadap minimnya minat generasi muda di Indonesia untuk bertani. Harapannya, Kebun Kumara dapat dijadikan sebagai wadah bagi generasi muda untuk memahami pentingnya bercocok tanam.  Sandra juga menemukan masalah lain, yaitu sempitnya lahan pertanian di daerah perkotaan dan banyaknya masalah sampah, baik organik maupun non-organik, yang tidak kunjung usai.

Saat ini, Kebun Kumara banyak dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai kalangan usia. Berbagai pelajaran bisa didapatkan dengan membayar tiket sebesar Rp 45.000,-.

Di Kebun Kumara, semua pengunjung diajak untuk bercocok tanam dengan mengutamakan prinsip permakultur, yaitu menanam dan mengondisikan kebun sebagaimana alam bekerja. Jadi, pengunjung tidak hanya sekedar menanam, tetapi juga memahami prinsip bagaimana tanaman itu bisa tumbuh dan berkembang. Kegiatan bercocok tanam di Kebun Kumara juga dilakukan dengan berbagai cara yang menghemat lahan. Contohnya, menanam tanaman di pot atau menaruh benih di media cangkang telur.

Pengunjung Kebun Kumara sedang bercocok tanam
Pengunjung Kebun Kumara sedang bercocok tanam | Sumber: Instagram @kebunkumara

Selain belajar tentang cara bercocok tanam, Sandra dan ketiga founder Kebun Kumara —beserta beberapa relawan dan pekerja lain — juga mengajarkan pengunjung bagaimana cara membuat pupuk organik. Pertama-tama, pengunjung akan diminta untuk memilah antara sampah organik dan non-organik. Kemudian, sampah organik dikumpulkan di suatu wadah, ditutupi, dan dibiarkan hingga membusuk.

Baca: 5 Dampak Berbahaya, Stop ‘Kecanduan’ Pupuk Kimia!

Pengunjung akan mempelajari hal-hal yang berkaitan tentang durasi sampah organik hingga membusuk dan dapat digunakan sebagai pupuk alami. Mereka juga akan belajar tentang pengaturan cahaya dan kelembaban udara di wadah sampah organik agar mikroorganisme dapat berkembangbiak dengan baik.

Pembuatan Ecobricks di Kebun Kumara
Pembuatan Ecobricks | Sumber: Instagram @kebunkumara

Selain berkaitan dengan pertanian, hal lain yang dapat dipelajari di Kebun Kumara adalah membuat ecobricks. Pengunjung akan mengisi botol bekas dengan sampah-sampah plastik hingga ruang di dalam botol tersebut tidak tersisa sedikit pun. Nantinya, ecobricks ini dapat digunakan sebagai pengganti material bangunan sederhana seperti batu bata.

Kisah Sandra membuktikan bahwa siapa pun bisa sukses dengan bertani (dalam hal ini, bercocok tanam), tidak peduli latar belakang pendidikannya apa, yang terpenting adalah kemauan.

Baca: 2 Mahasiswi Denpasar Sukses Membangun Pondok Tani

Sumber gambar utama: Instagram @kebunkumara

Penulis: Hutri Cika Berutu 


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.