2 Mahasiswi Denpasar Sukses Membangun Pondok Tani

Di zaman yang serba modern ini, banyak bermunculan pekerjaan baru yang menggilas pekerjaan yang sudah ada sebelumnya. Pekerjaan seperti tukang servis mesin ketik mungkin sudah tidak dapat kita temui lagi di zaman ini karena semua orang telah beralih ke komputer.

Pekerjaan yang belum pernah ada sebelumnya seperti bloggervlogger, dan influencer di Instagram menjadi sangat populer dalam dekade terakhir ini. Pekerjaan-pekerjaan tersebut menjadi sangat diminati, terutama bagi generasi muda yang melek teknologi.

Karena itu, generasi muda jadi kurang berminat pada sektor pertanian karena menganggap pertanian sebagai pekerjaan kuno, selalu berkotor-kotoran, berpanas-panasan, tidak keren, kerja keras dengan hasil sedikit, dsb. Padahal, semua orang membutuhkan petani. Pekerjaan di sektor pertanian tidak akan pernah musnah selama manusia ada karena sudah jelas bahwa kita semua membutuhkan makanan, seperti quotes dari Brenda Schoepp yang berbunyi:

“My grandfather used to say that once in your life you need a doctor, a lawyer, a policeman and a preacher but every day, three times a day, you need a farmer.”

Selain itu, pertambahan jumlah penduduk dunia semakin tidak terkontrol dan jumlah produksi pertanian tidak seimbang. Jadi, teknologi di bidang pertanian tentunya sangat diperlukan guna mengimbangi jumlah penduduk dunia yang semuanya membutuhkan makanan.

Pertanian juga merupakan kunci dari isu-isu penting global saat ini. Pertanian sangat berhubungan dengan topik-topik vital lainnya seperti lingkungan, kemiskinan, generasi muda, kelaparan, dan perkembangan. Jika digeluti dengan sungguh-sungguh, usaha di bidang pertanian juga tidak kalah menguntungkan daripada bidang lainnya.

Dengan melihat kesempatan inilah, 2 mahasiswi yang memang berasal dari Fakultas Pertanian, Universitas Udayana mengembangkan bisnisnya. Mereka adalah Made Getas Pudak Wangi (mahasiswi Agroekoteknologi) dan Ni Kadek Sri Utari (mahasiswi Agribisnis).

Bisnis yang mereka geluti adalah bisnis pertanian hidroponik dan tanaman obat, yang diberi nama Pondok Tani Denpasar. Usaha ini bertempat di Jln. Sedap Malam No. 59, Denpasar.

Baca: Perbedaan Sayur Hidroponik VS Organik

Hidroponik dari Pondok Tani Denpasar
Sumber: Instagram @pondoktanidenpasar

Mahasiswi 20 tahun ini menjelaskan bahwa selain menjual dan menyewakan instalasi hidroponik serta menjual tanaman obat, Pondok Tani Denpasar juga menjual fresh product, seperti selada dan pokcoy. Hanya bermodalkan Rp 200.000, saat ini, bisnis mereka telah beromzet jutaan rupiah per bulan.

Berbisnis di bidang pertanian hidroponik membuktikan bahwa kita tetap dapat bertani di perkotaan meskipun dengan lahan yang sempit.

Baca: Cara Mudah Tanam Bawang Merah Secara Hidroponik

Pudak menerangkan bahwa awalnya, bisnis ini hanyalah sekadar hobi. Karena kebetulan memiliki hobi yang sama dengan Sri Utari, mereka akhirnya berbisnis. Bisnis Pondok Tani Denpasar ini berkembang secara bertahap mulai dari produksi bibit, penyewaan instalasi, hingga penjualan instalasi.

Pada mulanya, pemasaran produk Pondok Tani Denpasar dilakukan dari mulut ke mulut dan melalui event-event pameran. Namun, kini bisnis mereka telah dipasarkan melalui media sosial Instagram (@pondoktanidenpasar).

Tanaman di Pondok Tani Denpasar
Sumber: Instagram @pondoktanidenpasar

Pudak mengakui bahwa Pondok Tani Denpasar merupakan bisnis pertamanya dan sudah terbilang cukup sukses. Untuk kedepannya, Pudak berharap agar usahanya tetap berkembang dan menjadi panutan pertanian kota di Denpasar.

Pudak juga berharap agar generasi muda terus berkreasi dan beraksi saat ini juga karena membuat usaha tidak dapat ditunda-tunda. Generasi muda juga harus berani mengambil resiko. Mereka perlu menyadari bahwa pertanian masa kini telah berevolusi dan tidak harus berkotor-kotoran di sawah, tergantung dari kreativitas masing-masing untuk mengemas pertanian semenarik mungkin dan menjaring pasar seluas-luasnya.

Jadi sobat Pak Tani Digital, tidak perlu minder menjadi petani karena paradigma masyarakat yang negatif tentang pertanian. Berbanggalah menjadi petani di zaman serba modern ini. Menjadi petani tidak harus berkotor-kotoran di sawah karena di lahan yang sempit, kalian juga bisa bertani. Diimbangi dengan ilmu dan teknologi yang mumpuni serta kemauan dan kerja keras, kalian pasti akan sukses di bidang ini!

Baca: Oshi Trisna, Mahasiswa yang Sudah Menekuni Hidroponik

Penulis: Nevy Widya Pangestika
Mahasiswa Agroeteknologi Universitas Udayana


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.