Startup Sosial Petani Indonesia

Padi merupakan salah satu budidaya tanaman terpenting dan merupakan kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia. Padi sebagai sumber energi dan juga karbohidrat bagi manusia. Padi (Oryza sativa L.) termasuk suku padi – padian atau poaceae. Pada awalnya tanaman padi diduga berasal dari negara India yang dibawa masuk ke negara Indonesia oleh nenek moyang sekitar tahun 1500 sebelum masehi. Cara menanam padi dengan baik dan benar sangat penting untuk diketahui oleh para petani, agar dapat meningkatkan hasil produksi padi dan hasil panennya melimpah. Kebutuhan akan beras tidak akan pernah menurun, sehingga petani berharap setiap masa panen datang hendaknya memberikan hasil yang baik dan tidak merugikan. Untuk dapat memperoleh hasil panen yang melimpah, tentunya para petani akan melakukan berbagai cara agar padi yang ditanam dapat tumbuh bagus dan memberikan hasil panen yang baik.
Baca Juga : Fakta tentang Padi (Beras) di Indonesia
Apabila hal ini terwujud, tentunya akan membahagiakan para petani, karena tujuannya tentu saja demi terpenuhinya seluruh kebutuhan pokok bagi seluruh masyarakat utamanya untuk masyarakat yang memiliki kebutuhan pokok pangan yaitu beras. Segala kendala selama masa penanaman padi hingga masa panen tiba sangat perlu dikendalikan. Karena hal apa saja yang kita lakukan tentunya memiliki resiko yang tinggi, bisa saja menguntungkan dan tidak dipungkiri juga bisa merugikan bagi para petani. Banyak kendala yang sering dihadapi seperti serangan hama dan juga pengelolaan lahan sawah yang kurang tepat. Berikut cara yang bisa membantu para petani agar dapat memperoleh hasil panen yang melimpah:
Baca Juga : Cara Menanam Sayur di Rumah dengan Urban Gathering

- Memilih benih padi yang berkualitas serta menyiapkan lahan yang tepat
Tentunya agar memperoleh hasil panen yang melimpah, cara awal yang dapat dilakukan adalah dengan memilih benih yang berkualitas atau unggul. Ciri – ciri benih yang berkualitas adalah, tahan terhadap serangan hama dan juga penyakit, selain itu toleran akan kondisi lingkungan, mampu menghasilkan panen yang melimpah, serta pada saat padi direndam dengan larutan ZA 20 gr, benih tidak ada mengapung ke permukaan air. Kemudian daripada itu, kondisi lahan sawah juga sangat berpengaruh. Lahan yang akan digunakan harus dipastikan sudah bersih dari rumput liar atau gulma, karena hal ini sangat mengganggu bagi pertumbuhan padi. Tanah harus dialiri air hingga gembur agar mudah dibajak menggunakan traktor, dan biarkan air menggenangi tanah sebelum proses penanaman padi dimulai, agar tanah lunak dan racun – racun dapat dinetralisir.
Baca Juga : Budidaya Lengkuas di dalam Pot, Terapkan 5 Langkah ini
- Memperhatikan proses pembibitan dan juga penanaman padi
Benih dengan kualitas yang unggul dapat direndam selama 2 hari sebelum disebar agar dapat menghasilkan kecambah. Pastikan benih yang digunakan sesuai dengan kebutuhan lahan yang akan ditanami padi. Setelah benih yang disebar tumbuh sesuai dengan waktu yang tepat, maka padi siap untuk ditanam. Pada umumnya umur benih yang siap dipindahkan adalah sekitar 20 hari hingga 30 hari, dengan ciri – ciri sudah mempunya daun 5 hingga 6 helai dan dengan tinggi 20 hingga 25 cm. Pastikan batang bagian bawah besar dan keras agar tidak mudah patah ketika akan dipindahkan.
- Melakukan perawatan dan juga pemeliharaan padi hingga proses pemupukan
Benih padi yang sudah dipindahkan tentunya butuh perawatan dan juga pemeliharaan, tentunya hal ini perlu ketelitian yang lebih karena jika kita terlambat maka akan memberikan hasil panen yang kurang baik. Lakukan penyiangan dan juga pengairan yang wajar, tidak kelebihan dan tidak kekurangan. Tanaman padi tidak cukup memperoleh makanan dari tanah saja, karena budidayanya akan lambat karena kekurangan unsur hara. Maka solusi yang tepat adalah dengan memberikan pupuk, baik pupuk organik dan juga anorganik. Apabila tanaman padi sudah mencapai 7 hingga 15 hari, maka petani dapat memberikan pupuk urea dan juga TSP dengan perbandingan 100 : 50 untuk perhektarnya. Untuk hari ke 25 hingga 30 dapat memberi pupuk urea dan phonska dengan perbandingan 50 : 100 untuk perhektarnya. Para petani juga bisa menggunakan pupuk alami yang dibuat sendiri, agar lebih membantu dalam pertumbuhan tanaman padi.
Baca Juga : 6 Strategi Budidaya Padi dalam Pengendalian Penyakit
- Melakukan pengendalian serangan hama dan proses panen
Pada umumnya, jenis hama yang sering mengganggu pertumbuhan tanaman padi adalah walang sangit, belalang, wereng, dan juga tikus. Untuk mengatasi hama tersebut dapat menggunakan pestisida, akan tetapi ada juga predator alami yang mampu mengusir hama tersebut. Apabila predator alami mengganggu maka bisa dimusnahkan dengan memberikan pestisida organik. Dengan proses yang baik maka akan diperoleh hasil yang baik juga. Berikut ini ciri – ciri gabah yang sudah siap untuk dipanen:
- Daun mengering dan gabah berwarna kuning berkisar 95%
- Tanaman padi sudah mencapai 30 hingga 35 hari sesudah proses berbunga
- Gabah mudah rontok apabila diremas menggunakan tangan
- Untuk kadar air yang terdapat pada gabah besisa 16 hingga 30%
Gabah yang sudah dipanen ada baiknya diletakkan pada tempat yang beralaskan terpal agar mengurangi atau menekan penyusutan hasil panen. Setelah dilakukan proses perontokan bulir padi, maka gabah perlu dijemur untuk mengurangi kadar air kurang lebih selama 2 hingga 3 hari. Setelah proses pengeringan selesai, maka padi dapat disimpan pada tempat yang bersih dan juga kering.
Baca Juga : Pemanfaatan Popok Bayi (Diapers) menjadi Pupuk Tanaman
–
Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di