3 Ciri Petani Indonesia Masih Belum Kuasai Manajemen

Kita, sebagai masyarakat Indonesia, pastinya akrab banget dengan usaha tani. Contohnya aja, hampir setiap daerah di Indonesia punya usaha tani meskipun tidak semuanya merupakan sentra produksi untuk sektor pertanian.

Selain karena tanah Indonesia yang memang cocok untuk bertani, kita juga sudah mempraktekkan pertanian sejak puluhan tahun yang lalu. Ya, kalau ditarik dari sejarahnya, kira-kira usaha tani dirintis pertama kali untuk urusan komersial oleh Belanda, di zaman kolonialismenya. Banyak perkebunan dan pusat penelitian pertanian yang dibuka saat itu.

Nah, karena kita sudah lama mengusahakan pertanian, pastinya banyak pengalaman yang dimiliki oleh petani kita. Budidaya yang dilakukan turun temurun juga menciptakan insting tersendiri bagi petani dalam menjalankan usaha taninya. Sayangnya, yang sering dilewatkan oleh petani di Indonesia adalah faktor manajemen.

Fakta di lapangan menunjukkan, banyaknya usaha tani di Indonesia yang manajemennya kurang baik. Hal ini tentu berdampak pada keuntungan usaha tani yang tidak seberapa dan parahnya lagi, sampai pada kerugian alias balik modal pun tidak. Oleh karena itu, dalam artikel ini, kita akan mengangkat arti pentingnya manajemen di usaha tani untuk memaksimalkan keuntungannya.

Baca: 3 Tantangan Global Pertanian Abad Ini, Apa Saja Itu?

Apa itu manajemen dalam usaha pertanian?

Berdasarkan pengertian ahli, manajemen bisa dikategorikan sebagai pekerjaan, sumber daya (faktor produksi dalam usaha), ataupun prosedur.

Jika dalam usaha tani, manajemen disebut sebagai pekerjaan, maka petani harus dapat menjabarkan dan merealisasikan ide atau buah pikirannya sehingga usaha taninya mampu menghasilkan keuntungan seperti keinginannya. Manajemen menjadi skill yang digunakan petani untuk menyukseskan usahanya.

Sebagai sumber daya alias faktor produksi, manajemen menjadi syarat penting berdirinya suatu usaha tani hingga mencapai keberhasilan. Hal ini pun sangat ditentukan oleh kemampuan pengelolanya. Misalnya saja, 2 orang petani dengan luas lahan dan kondisi yang sama, seusai memanen, dapat memperoleh hasil yang berbeda karena pengelolaannya juga sudah berbeda. Selain itu, manajemen ini merupakan sebuah seni, sehingga untuk bisa sukses dalam me-manage suatu usaha, caranya bisa bermacam-macam pula.

Sebagai prosedur, artinya manajemen tidak bisa dilakukan asal-asalan juga. Ada tahapan yang perlu diikuti untuk memecahkan masalah dalam usaha tani. Petani haruslah menguasai masalah tersebut terlebih dahulu hingga ke akar-akarnya dengan mengumpulkan data dan fakta. Lalu, dilakukan evaluasi dan alternatif pemecahan masalahnya.

Masalah – Masalah Umum dalam Manajemen Pertanian Indonesia

1. Petani hanya mengetahui gejala dari permasalahan di usaha taninya

Petani di Sawah

Hal ini berhubungan dengan karakter petani di Indonesia yang secara umum sering memandang sepele masalah-masalah yang ada di usaha taninya. Akibatnya, masalah tersebut tidak pernah tuntas atau lebih parahnya, bila keputusan yang diambil bukan menyelesaikan masalah tadi, malah merugikan.

Jarang sekali petani mengambil keputusan yang layak yaitu secara ilmiah, berdasarkan data dan kajian ilmu pengetahuan. Permasalahan dan kondisi yang jelas, fakta dan data aktual, serta analisis yang tepat dan akurat hampir tidak pernah diterapkan di dunia pertanian rakyat.

Misalnya saja, masalah sumber bahan tanam. Banyak sekali petani kita yang tidak mempedulikan asal bahan tanam seperti benih dan bibit yang benar-benar bersertifikat yaitu terjamin mutu genetis, fungsional, dan kesehatannya. Atau, sepele dengan masalah hama dan terlalu ambil pusing masalah gulma. Pengeluaran pun habis untuk membeli herbisida.

Baca: Petani Muda Sukses di Era Milenial

2. Anggapan bahwa mengelola usaha tani adalah kewajiban yang begitu-begitu saja

Merintis usaha tani, sebagaimana model bisnis lainnya, perlu penentuan tujuan dan harapan yang jelas. Akan tetapi, karena kesibukannya, petani sering tidak menganggap penting tujuan-tujuan demikian. Usaha tani dilakukan seperti pekerjaan sehari-hari, dilakukan berulang-ulang sejak bertahun-tahun yang lalu dan terima saja kondisi usahanya yang juga begitu-begitu saja.

Nah, kata “begitu-begitu saja” ini berarti tidak ada perkembangan di usaha taninya. Tidak adanya ambisi atau tujuan jelas akan menghambat perkembangan usaha tani karena tidak ada ukuran keberhasilannya. Keputusan yang diambil juga hanya “begitu-begitu saja” karena tidak ada arah yang dituju.

3. Kurang dapat menangkap atau mengambil peluang yang ada

Lahan Pertanian Bisa Menjadi Peluang

Kurangnya penguasaan terhadap permasalahan/kondisi yang dihadapi, menyebabkan petani sering merasa kebingungan bila terjadi perubahan kondisi. Misalnya, saat ini, dimana perkembangan era digital yang sangat cepat baik dalam perputaran informasi maupun ekonomi. Petani yang kurang mengikutinya bisa terjebak dalam ketidaktahuan dan peluang-peluang yang ada pun terlewatkan.

Contoh peluang zaman sekarang adalah agrowisata. Khususnya di Pulau Jawa, sektor ini sedang ramai-ramainya dikunjungi anak muda ataupun keluarga. Banyak orang rindu melihat kehijauan desa dan merasa suasana demikian cocok diabadikan di media sosial. Maka dari itu, banyak sekali lahan-lahan tani disulap sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan keuntungan berlipat.

Baca: Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia

Penulis: Junita Solin
Mahasiswa Agronomi Universitas Gadjah Mada


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.