Ini Dia Mahasiswa Pascasarjana, Gita Yuliarti, yang Menekuni Hidroponik

Penyempitan lahan akibat alih fungsi lahan merupakan salah sau masalah dalam bidang pertanian. Namun, semua itu dapat kita siasati dan atasi dengan cara hidroponik. Hidroponik merupakan salah satu teknik dalam bidang pertanian yang digunakan untuk mensiasati lahan yang semakin hari semakin berkurang. Hal itulah yang dilakukan oleh seorang mahasiswi pascasarjana asal Padang.

Mahasiswi yang memiliki nama lengkap Gita Yuliarti AP ini memiliki ide untuk membuka usaha hidroponik sejak 3 tahun yang lalu yakni pada tanggal 20 November 2015. Mengapa ia memilih teknik hidroponik? Karena lahan yang dibutuhkan dalam teknik ini tidaklah luas. Ia beranggapan bahwa dengan menggunakan teknik ini, hasil pertaniannya memiliki nilai lebih di pasaran karena teknik ini tidak menggunakan pestisida, lebih alami dan sehat. Selain, teknik hidroponik memiliki nilai estetika yang lebih, menurutnya.

Baca juga: Perbedaan Sayur Hidroponik VS Organik

Gita Yuliarti AP

Dengan keinginan dan tekad yang kuat serta modal awal Rp. 3.000.000, mahasiswi yang akrab disapa Gita ini mampu membuat seperangkat alat hidroponik untuk lahan yang ia miliki dengan 10 paralon dan 320 lubang tanam.

Mahasiswi kelahiran Kubu Baru tahun 1994 ini pada awalnya memiliki modal dari tabungannya sendiri. Saat ini, usaha hidroponik yang ia jalankan 3 tahun yang lalu sudah semakin besar dan telah mendapatkan bantuan dana dari PWMP (Pengembangan Wirausaha Muda Pertanian) dan kini lahannya sudah bertambah luas yaitu sekitar ¼ hektar dengan 8000 lubang tanam.

Mulanya, usaha ini hanya dilakukan dengan suaminya saja. Namun, mengingat usahanya sekarang semakin berkembang, ia mendirikan sebuah komunitas hidroponik yang bernama Hidroponik_55 yang sekarang sudah ada 3 orang owner yang dia rekrut dari penggerak hidroponik juga, Andres dan Muchsectio, merekalah yang membantunya sekarang.

Baca juga: Mengenal Hidroponik Sistem Tetes dan Cara Membuatnya

Hasil Panen Gita Yuliarti dari Teknik HidroponikDalam usaha hidroponiknya, Gita Yuliarti membudidayakan komoditas sayur-sayuran yang termasuk sayuran brasicae seperti pakcoy, kaila, kale, pagoda yang dapat dipanen 21 hingga 30 hari, tanaman kangkung dengan masa panen 15 hari, dan juga bayam yang bisa dipanen saat berusia sekitar 3 minggu. Ia juga menanam benih-benih rumput liar yang dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk ternak. Selain itu, ia juga membudidayakan tanaman obat-obatan, misalnya saja daun mint dan kemangi yang dapat dipanen setiap hari setelah dikembangkan sekitar 2 minggu.

Dari hasil panennya itu, ia biasanya menjualnya ke kalangan dosen dan karyawan rumah sakit dengan sistem pre-order dimana konsumen harus memesannya terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi. Namun, ia pun mengaku bahwa sebelum menggunakan sistem pre-order, ia juga pernah menggunakan sistem jual beli seperti biasanya. Segmen pasarnya pun hanya masyarakat yang tinggal di sekitar rumahnya. Harga dari penjualan setiap lobangnya yakni Rp. 5.000 dengan keuntungan sekitar Rp. 15.000.000 per bulannya.

Baca: Oshi Trisna, Mahasiswa Yang Sudah Menekuni Hidroponik

Penulis: Ahkmad Zaynuri Alfarizi
Mahasiswa S1 Agribisnis Universitas Trunojoyo


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.