Apakah kamu saat ini sedang merasakan bahwa toko makanan penjual daging ayam goreng yang kian menjamur di sudut perkotaan menjajakan harga yang murah? Tahukah Anda bahwa dibalik harga itu tersirat nasib peternak lokal yang tidak baik? Ya, saat ini harga ayam anjlok menyebabkan peternak kita merana.

Saat ini terjadi kelebihan pasokan ayam sehingga berdampak pada harga ayam hidup yang mencapai titik terendah hingga Rp 7.000,-/kg. Padahal harga pokok produksi (HPP) di tingkat peternak mencapai Rp 18.500/kg. Artinya, ada kerugian yang cukup dalam, sehingga bikin para peternak merana. Itulah yang menjadi penyebab harga ayam anjlok.

Baca Juga : Fitobiotik, Pengganti Antibiotik pada Ternak yang Ramah Lingkungan

“Bahkan pada Senin (24/6) beberapa penawaran menyentuh harga Rp 5.500-6.000/kg. Kondisi yang tidak terselesaikan ini menggambarkan terjadi situasi bottle neck di level ukuran ayam besar yang menyebabkan ayam hidup semua ukuran tergeret pada kondisi harga jual jauh di bawah HPP,” kata Sekjen GOPAN Sugeng Wahyudi melalui rilis yang diterima

Ia juga menjelaskan bahwa kondisi para peternak rakyat dan mandiri sudah tidak sanggup menahan beban biaya pemeliharaan.

Baca Juga : Ini Dia Modal dan Keuntungan dari Beternak Ayam Broiler

Apa Langkah Kementan Mengenai Harga Ayam Anjlok?

Dalam rapat yang dibahas dalam pertemuan di bulan ini, Kementerian Pertanian oleh Amran Sulaiman menghimbau warga dan seluruh pemangku kepentingan industri peternakan untuk bersama memperbaiki harga jual ayam hidup (livebird).

Rendahnya harga ayam mengakibatkan para peternak menjadi semakin tidak sanggup untuk menanggung biaya pemeliharaan ternaknya.
Ilustrasi : Rendahnya harga ayam mengakibatkan para peternak menjadi semakin tidak sanggup untuk menanggung biaya pemeliharaan ternaknya.

 

Kendati demikian, usaha tersebut belum terwujud. Melakukan pengurangan produksi bibit ayam (DOC FS / Day old bird final stock) sejak 24 Juni kemarin menurut Sugeng tidak berdampak banyak. Baik secara psikologis maupun riil terhadap perbaikan dimana. Namun kendati demikian, harapan anjuran ini dapat menaikkan harga ayam bila produksi bibit dikurangi.

Baca Juga Hindari 5 Hal Penyebab Keracunan Pada Hewan Ternak

“Pemotongan produksi DOC FS ini seakan berbalik ikut memberatkan biaya produksi karena secara psikologis malah naik. Sementara DOC yang hari ini akan dipelihara 30-35 hari ke depan tidak ada jaminan mendapat harga yang bagus,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, kekesalan para peternak di berbagai daerah diungkapkan dengan membagikan ayam atau menjual ayam hidup dengan harga murah.

Dikutip dari CNBC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.