Kedaulatan Petani dalam Berinovasi Perlu Dijaga

Petani sejatinya juga memiliki kemampuan berinovasi dengan caranya masing-masing. Mahasiswa berpotensi mengangkat dan mengembangkan inovasi yang dihasilkan petani untuk meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri.

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah khawatir, teknologi pertanian hanya dikuasai oleh pihak-pihak yang mempunyai modal tinggi sehingga petani kecil, termasuk gurem, tak dapat mengaksesnya atau hanya menjadi pengguna. Imbasnya, teknologi tersebut tak berdampak signifikan pada kesejahteraan petani.

pixabay.com

”Inovasi teknologi mestinya tak hanya top-down, tetapi juga bottom-up mengingat petani juga bisa berinovasi di lapangan. Dalam hal ini, mahasiswa yang merupakan inisiator teknologi muda memegang peran kunci, terutama untuk menjamin kedaulatan inovasi yang datang dari petani,” tuturnya pada kuliah umum berjudul ”Future Innovation and Digital Agriculture” yang diselenggarakan IPB University secara dalam jaringan, Sabtu (19/6/2021).

Teknologi yang datang dari petani atau bottom-up, menurut di, juga dapat menjawab tantangan bahwa sistem budidaya dan varietas tanaman pertanian di Indonesia membutuhkan inovasi spesifik, bukan seragam.

Kedaulatan inovasi pada petani ditandai dengan mahasiswa atau kelompok anak muda merakit teknologi bersama dengan para petani di lahan. Peningkatan kesejahteraan petani menjadi orientasinya. Tak sekadar menggunakannya, petani juga dapat memiliki data yang dihimpun dari inovasi teknologi tersebut dan memanfaatkannya.

Agar dapat menjembatani teknologi yang lahir dari petani, dia menyebutkan, mahasiswa perlu memiliki kecakapan analisis pemetaan masalah. ”Dari penguraian masalah, pilih kelompok sasaran yang akan menikmati dampak signifikan dengan kehadiran inovasi teknologi. Petani gurem patut menjadi sasaran,” ujarnya.

Sensus Pertanian 2013 yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik menunjukkan, jumlah petani gurem atau yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektar pada 2013 mencapai 14,24 juta orang atau sekitar 55,33 persen dari seluruh petani. Angka tersebut naik menjadi 15,80 juta orang atau setara dengan 58,07 persen berdasarkan Survei Pertanian Antar Sensus 2018.

Inovasi teknologi juga bisa datang dari luar ekosistem budidaya petani atau top-down. Misalnya, teknologi yang dihadirkan TaniHub Group pada rantai pasok pangan dan permodalan bagi petani. Manager of TaniAcademy Suyantoko menyebutkan, TaniHub Group dibentuk dengan menganalisis sejumlah fakta dan data yang ditemukan melalui survei lapangan. Misalnya,sebanyak 87 persen petani tidak memiliki akses internet. Proporsi petani responden yang memiliki lahan kurang dari 0,3 hektar mencapai 54 persen. Petani responden yang tidak menelusuri alur keuangannya menyentuh angka 97 persen.

Data dan fakta tersebut turut mencerminkan tantangan petani dalam memperoleh akses modal. Oleh sebab itu, Suyantoko menyebutkan, salah satu terobosan yang dihadirkan TaniHub Group adalah TaniFund. Dengan TaniFund yang memiliki sistem peminjaman antarpihak, masyarakat dapat berinvestasi dan menyalurkan modal bagi petani. Dalam hal ini, TaniHub Group berperan dalam mengadakan studi kelayakan investasi bagi budidaya petani.

Menguasai keterampilan

Selain pemetaan masalah, ada keterampilan analisis lain yang patut dikuasai mahasiswa agar mampu menjembatani inovasi teknologi pada petani. Fellow of CTSS for Sustainable Landscape and Political Ecology Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences IPB University David Ardhian menyatakan, inovasi teknologi pertanian mesti mempertimbangkan ekosistem rantai pangan secara komprehensif, bukan hanya budidaya. Oleh sebab itu, analisis multidisiplin keilmuan dibutuhkan. Analisis ini membutuhkan dialog antarpelaku dan pemangku kepentingan atau stakeholders.

Setelah menganalisis dengan perspektif lintas disiplin ilmu, dia menyebutkan, harus ada analisis trade-off. Analisis ini bertujuan menemukan titik optimal yang memberikan keuntungan bagi setiap pelaku dalam ekosistem rantai pangan terpadu.

Misalnya, komoditas jagung. Apabila perspektifnya hanya budidaya, tujuan inovasi terbatas pada peningkatan produksi dan produktivitas. Jika rantai pasok jagung yang menjadi perspektif, tujuannya akan lebih luas. Jagung merupakan komponen pakan ternak yang mempengaruhi harga telur dan daging ayam di konsumen. Dengan analisis multidisiplin ilmu dan trade-off, petani jagung dan peternak rakyat idealnya memperoleh keuntungan  dalam rantai pasok yang sama.

Baca juga: Pemanfaatan Teknologi Pertanian Belum Optimal

Keterampilan analisis lain yang dibutuhkan ialah mengidentifikasi faktor penting dalam ekosistem rantai pangan atau game changers. David mengatakan, faktor penting tersebut biasanya memiliki dampak berganda pada elemen lainnya. Dengan demikian, intervensi inovasi yang diberikan dapat mengubah sistem.

Dia menggarisbawahi, petani skala kecil juga merupakan inovator. Mereka merupakan praktisi yang menjadi fondasi inovasi. Selain itu, inovasi pertanian sarat dengan semangat memperbarui dan memberikan manfaat. Artinya, inovasi pertanian tak melulu menemukan teknologi baru. Inovasi juga tak hanya berkutat pada teknologi, tetapi juga mencakup finansial, kelembagaan, sosial, dan kebijakan.

Kepala Tani Center IPB University Hermanu Triwodo mengharapkan mahasiswa dapat lebih dekat dengan permasalahan yang dihadapi petani di lapangan. ”Mahasiswa perlu bergaul lebih banyak dengan petani. Dengan demikian, mereka akan lebih sering menyuarakan petani,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Sumber : M PASCHALIA JUDITH J / KOMPAS.ID

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.