Kementan Berhasil Identifikasi Penyakit Yang Menyerang Cabai di Magetan

Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementan, bersama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Dinas Pertanian Magetan, Petugas Pengawas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dan PPL setempat berhasil mengidentifikasi penyebab serangan penyakit terhadap tanaman cabai di Kabupaten Magetan.

Menurut paparan Tani Niti Mulyo selaku Ketua Kelompok, petani pada umumnya masih berharap kepada pembuahan tanaman cabai yang sudah tua. Hal ini dilakukan karena harapannya cabai kembali berbuah dengan biaya yang minimal saat ada hujan.

Baca Juga : Hebat! 3 Mahasiswa Pertanian Universitas Brawijaya Temukan Bakteri Penghambat Patek Cabai

“Lha itu lahan dari tanaman cabai sudah tua, apkir, hanya sekitar 3 ribuan meter. Wajar kalau kena jamur dan beluk. Lagipula tanaman memang mau dibongkar dan akan ditanami lagi. Wong sudah panen 13 sampai 21 kali,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (2/7/2019).’

Dari paparan Sujono, adapun serangan yang terjadi pada cabai terjadi di ribuan hektar saja. “Yang diberitakan itu tidak jelas, lahan tanaman siapa, yang diwawancara juga beda, yang masuk berita nama petani juga beda,” kata Sujono.

Apa Identifikasi Penyakit Cabai Ini?

Menurut Koordinator POPT Kabupaten Magetan, Sumarlan mengatakan bahwa hasil observasi di daerah Desa Nitikan dan Pacalan ternyata memiliki persentase yang cukup rendah. Fakta yang terjadi di lapangan hanya 1% saja yang terserang virus yaitu hanya sekitar 3400 batang cabai keriting yang terkena imbasnya.

Baca Juga : 5 Cara Mencegah Kering Batang pada Tanaman Cabai

Ia juga menambahkan bahwa kecamatan Plaosan sangat luas memiliki lahan cabai sebesar 6488 hektar sehingga yang terserang penyakit hanya 0,2 hektaran.

Menurut Sumarlan, ada beberapa tanaman yang terserang gangguan jamur namun jumlahnya tidak banyak. Adapun penyebab mengapa serangan virus dan jamur terjadi karena pola penanaman petani dilakukan tidak serempak.

Kementan Berhasil Identifikasi Penyakit Cabai
Foto : Kementan Berhasil Identifikasi Penyakit Cabai (Kementerian Pertanian)

Tidak hanya itu, cara budidaya yang dilakukan dinilai sembarangan, tidak termanajemen dengan baik. Benih yang sudah terinfeksi yang disemai, dengan baby bag yang tidak dilepas saat tanam dapat mengganggu perkembangan akar dan pertumbuhan pun terganggu.

“Penggunaan pestisida juga cenderung asal, karena petani rata-rata belum bisa membedakan antara hama, penyakit, atau fungi atau jamur. Semua disamaratakan. Yang terjadi bukannya menekan malah membuat hama penyakit makin kebal,” terangnya.

“Waktu ada air, petani menggunakan sistem ‘leb’ dengan drainase yang kurang baik sehingga tanah menjadi lembab dan rentan ditumbuhi jamur,” imbuh Sumarlan.

Solusi Cepat Dari Kementan

Menurut Mardiyah Hayati, Kasubdit Cabai dan Sayuran Buah Ditjen Holtikultura menyarankan memperbaiki pola budidaya cabai. Selain itu , petani juga harus dapat menerapkan manajemen tanaman sehat. Penerapan manajemen tersebut dapat dilakukan dari pemilihan benih sehat dan bebas hama penyakit sebelum ditanam.

Kementan Berhasil Identifikasi Penyakit Yang Menyerang Cabai
Kementan Berhasil Identifikasi Penyakit Yang Menyerang Cabai

“Coba lakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan satu famili. Jangan menanam cabai terus-terusan nyambung dengan cabai lagi atau tomat,” kata Mardiyah.

“Pengairan sebaiknya pakai sistem kocor. Pucuk tunas sebaiknya dipotong sebelum benih dibawa ke lapang untuk mengurangi vektor penyakit atau hama,” tambahnya.

Sementara menurut Moh. Ismail Wahab selaku Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Holtikltura upaya dari Kementan untuk penanganan masalah sudah dilakukan dengan cepat.

Arahan Pak Mentan Amran memang kita semua harus gerak cepat terjun lapangan, sigap ke petani, kapanpun dan dimanapun, karena petani kerja juga tidak kenal hari libur,” pungkasnya.

Disadur dari Detik Finance

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.