Melihat Pertanian Desa Kruwisan di Temanggung

Apakah kamu sudah pernah melihat potret pertanian di Desa Kruwisan, Temanggung?

Desa Kruwisan adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Desa ini terletak di lereng Gunung Sumbing pada ketinggian 1200 mdpl dan suasana dingin desa ini selalu menyelimuti. Desa Kruwisan juga berada di wilayah kaki Gunung Sindoro 3350 mdpl. Dari desa ini, kita bisa melihat keindahan Gunung Sindoro saat pagi ataupun senja hari bila cuaca cerah.

Luas wilayah Desa Kruwisan yaitu 313,1 hektar yang sebagian besar wilayahnya terdiri lahan pertanian. Penduduk Desa Kruwisan berjumlah 2234 jiwa yang tingkat pendidikan sebagian besar masyarakatnya 95% adalah lulusan SMP dan mata pencaharian masyarakat Desa Kruwisan sebagian besar adalah petani.

Pertanian Tembakau di Desa Kruwisan

Walau sebagian besar penduduk Desa Kruwisan hanya lulusan SMP, tetapi pola pikir mereka tidak kalah dengan masyarakat di daerah lain di Temanggung, terbukti mereka sukses menjadi petani Tembakau dengan omzet jutaan rupiah setiap musim panen tembakau.

Tanaman tembakau tumbuh subur di wilayah Desa Kruwisan apalagi ketika panen tiba, masyarakat di desa ini sibuk memetik, merajang hingga menjemur hasil panen tembakau setiap harinya. Tembakau adalah komoditi pertanian yang menjanjikan bagi kehidupan penduduk desa ini.

Mereka bisa meraup keuntungan yang begitu banyak saat musim panen tembakau tiba. Dari panen tembakau, mereka bisa meraup ratusan juta sekali panen tembakau. Tak heran, sampai sekarang, masih banyak penduduk di Desa Kruwisan yang bertahan menjadi petani.

Baca juga: Cara Membuat dan Mengaplikasikan Pestisida Tembakau

Selain tanaman tembakau, terdapat juga tanaman lain di ladang pertanian di wilayah Desa Kruwisan seperti bawang putih, bawang merah, padi, jagung, cabai, tomat, wortel, kentang, kol, kubis, dan tanaman sayuran lainnya.

Daerah Desa Kruwisan memang berada di kawasan pelosok pegunungan yang jauh dari keramaian kota. Namun, pola pertanian masyarakat Desa ini banyak mengalami kemajuan pesat dalam bertani, membuat petani di daerah ini meraih kesuksesan dalam bidang pertanian.

Pertanian Tembakau Desa Kruwisan

Pertanian Desa Kruwisan Menerapkan Media Mulsa Plastik

Para petani di Desa Kruwisan ini juga tak mau kalah dalam berinovasi. Mereka mulai mengenal dan mengembangkan sistem pertanian dengan memakai media Mulsa plastik.

Mulsa plastik begitu fenomenal akhir-akhir ini, hampir setiap petani di berbagai daerah di Indonesia menggunakan Mulsa plastik dalam bertani. Nah, apa sebenarnya Mulsa plastik itu? Bagi petani, istilah Mulsa plastik demikian populer, tetapi bagi masyarakat awam, tidak banyak mengetahui apa Mulsa plastik itu sesungguhnya?

Mulsa plastik adalah lembaran plastik penutup lahan pertanian  budidaya  tanaman sayuran. Mulsa plastik sebagian dimanfaatkan oleh petani Desa Kruwisan untuk menjaga kelembaban tanah, menahan erosi tanah, dan menghambat pertumbuhan gulma. Beberapa jenis warna Mulsa plastik seperti putih, perak, hitam, bening, hitam perak telah banyak dimanfaatkan oleh petani Desa Kruwisan.

Mulsa plastik dalam budidaya pertanian di wilayah Desa Kruwisan mulai dikembangkan pada beberapa komoditi pertanian seperti bawang merah, bawang putih, tanaman kacang, dan tanaman cabai.

Baca juga: 5 Cara Mencegah Kering Batang pada Tanaman Cabai

Budidaya bawang merah dengan media Mulsa plastik melalui cara selang seling dengan tanaman kubis. Pola pertanian seperti ini terbukti berhasil, tanaman bawang merah dan tanaman kubis tumbuh subur, meski jaraknya saling berdekatan.

Di sisi lain, pola pertanian dengan media Mulsa plastik di wilayah ini juga berhasil terlihat tidak hanya tanaman bawang merah yang tumbuh subur, melainkan juga tanaman bawang putih dan cabai.

Temanggung Sebagai Penghasil Bawang Putih Kedua Setelah Lombok

Dari pola pertanian Mulsa plastik ini pula, para petani di Desa Kruwisan seringkali melakukan panen bawang putih, bawang merah, dan berhasil mengembangkan budidaya bawang putih hingga daerah Temanggung termasuk Desa Kruwisan menjadi central penghasil bawang putih kedua setelah Lombok ,Nusa Tenggara Timur.

Luas lahan pertanian bawang putih di Temanggung yaitu 3300 hektar dengan pola pertanian khas Temanggung mampu menghasilkan bawang putih terbanyak kedua di Indonesia.

Mulsa plastik sebagai media dalam pertanian ternyata telah mampu meningkatkan produksi pertanian selain tembakau. Media Mulsa plastik pada budidaya tanaman sayuran di Desa Kruwisan terletak di sekitar kaki atau lereng Gunung Sindoro sehingga terlihat seperti sawah terasering dari kejauhan.

Padi adalah komoditi pertanian selain tembakau yang ada di wilayah Desa Kruwisan, Temanggung. Tanaman padi ditanam ketika setelah panen tembakau tiba. Komoditi pertanian padi pun juga berhasil dikembangkan di Desa ini.

Sistem pertanian dengan pola pertanian tanam lewat membuat teras sawah yang dibentuk menurut garis kontur menjadi ciri khas pertanian di daerah Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Pola pertanian seperti ini sebagai bentuk konservasi lahan mencegah tanah longsor.

Sisi lain dari sistem pertanian di Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing adalah Pronoto Mongso atau waktu musim. Kearifan lokal dalam mengelola pertanian seperti Mulsa plastik, membuat teras sawah yang dibentuk menurut garis Kontur dan Pronoto Mongso atau waktu musim menjadi kunci keberhasilan petani Temanggung.

Klik & Baca: Budidaya Pepaya Aloha Prime di Desa Selosabrang, Jawa Tengah

Sumber gambar utama: kruwisan.blogspot.com

Penulis: Suryatiningsih

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.