Mengenal Daun Moringga dari Ir. Ai Dudi Krisnadi

Daun moringga yang berkualitas tinggi akan diproses menjadi tepung, dan nantinya akan dipasarkan hingga diekspor.

Ir. Ai Dudi Krisnadi mampu mempertahankan 18 jenis asam amino yang terkandung dalam tepung daun moringga. Komunitas moringga dunia mengenal produsen tepung daun moringga di Kabupaten Blora, Jawa Tengah itu sebagai penemu Moringga Nutrition Lock Methode atau metode pengunci nutrisi moringga.

Moringga atau disebut juga kelor adalah semacam semak atau bisa dibilang pohon dengan tinggi 12 m dan diameter 30 cm. Kayunya lunak dan memiliki kualitas rendah. Daun tanaman moringga memiliki karakteristik bersirip tak sempurna, kecil, berbentuk telur, dan sebesar ujung jari. Moringga oleifera L. mengandung kombinasi senyawa yang unik yaitu isotiosianat dan glukosinolat. Secara in vitro, isotiosianat bisa berperan sebagai agen antikanker.

Moringga juga merupakan salah satu sumber makanan penting di beberapa belahan dunia. Karena bisa tumbuh dengan mudah, dan daunnya menyimpan banyak vitamin dan mineral saat kekeringan, moringga digunakan di India dan Afrika dalam program untuk melawan kekurangan gizi.

Oleh karena itu, daun moringga memiliki segudang manfaat, di antaranya:

  • Mengurangi kolestrol,
  • Melawan berbagai penyakit kanker
  • Meningkatkan kekebalan tubuh,
  • Menurunkan berat badan,
  • Mengatasi pencernaan dan masalah lambung,
  • Mengobati cacingan meningkatkan ASI untuk ibu menyusui,
  • Merangsangkan pertumbuhan rambut dan ketombe,
  • Menyehatkan kulit,
  • Mengobati sakit gigi,
  • Memperbaiki gizi hewan maupun manusia,
  • Menyuburkan tanah, dll.

Prosedur ketat berlangsung sejak dibudidaya. Dudi mensyaratkan bahan baku berasal dari tanaman moringga atau kelor hasil budidaya organik. Itulah sebabnya ia bermitra dengan Felix Bram Samora yang membudidayakan moringga secara organik di lahan 3 hektar. Kebun milik Bram sudah tersertifikasi lembaga sertifikasi organik, Certification of Environmental Standards (Ceres), yang berpusat di Jerman.

Dudi menuturkan sertifikasi organik sangat penting bila hendak memasarkan produk berbahan dasar tepung daun moringga ke mancanegara, terutama negara-negara di Benua Eropa. Selain itu, Dudi juga berupaya mempertahankan nutrisi daun moringga dengan panen yang tepat. Ia memanen daun moringga secara manual menggunakan gunting stek, sabit, atau pisau tajam.

Dudi memanen daun moringga beserta ranting dan mengguntingnya antara ranting ketiga dari tanah sampai batas ranting ketiga dari pucuk daun teratas. Ciri daun siap panen, berwarna hijau gelap sampai terang, tebal, dan berbentuk daun sempurna.

Ia juga memanen dengan cara memetik daun dari pangkalnya. Menurut Dudi, pekebun bisa saja memanen dengan meluruhkan daun langsung dari pohonnya, mulai dari dasar tangkai daun. Cara itu memang lebih cepat tapi merugikan tanaman karena menghambat pertumbuhannya.

Kiat lain yang menghasilkan produk bermutu adalah menjaga kebersihan daun. Dudi memanen daun pada pagi atau sore hari. Sebelum panen, ia memastikan tidak ada embun di permukaan daun, terutama jika dipanen di pagi hari.

Baca: Padi Buatan Universitas Jenderal Soedirman yang Wangi dan Kaya Protein

Lahan Ir. Ai Dudi Krisnadi

Dudi memberikan saran, cara panen tergantung jarak antara lokasi kebun dengan pusat pengolahan. Bila jarak antara kebun dengan pusat pengolahan dekat, Dudi menyarankan untuk memotong cabang besar dan mengangkut seluruh bagiannya ke pusat pengolahan. Proses peluruhan daun dilakukan di pusat pengolahan.

Namun, bila jarak antara kebun dengan pusat pengolahan jauh, sebaiknya luruhkan daun dahulu dari cabangnya, kemudian angkut ke pusat pengolahan. Peluruhan daun dilakukan lebih dulu agar menghemat ruang sarana pengangkutan sehingga bisa mengangkut hasil panen lebih banyak.

Hindari pengangkutan yang menggunakan kendaraan terbuka, apalagi ditumpuk di bawah barang atau diduduki karena akan merusak kualitas daun. Saat pengangkutan, tumpukan hasil panen tidak boleh lebih dari 20 cm.

Pengangkutan sebaiknya dilakukan pada pagi, sore, atau malam, saat cuaca tidak panas. Daun yang diangkut dalam jarak jauh wajib menggunakan kendaraan angkut berpendingin untuk menghindari kerusakan sebelum sampai di pusat pengolahan.

Baca: Cara Membuat dan Mengaplikasikan Pestisida Tembakau

Sebelum pengolahan, Dudi mensterilisasi hasil panen dengan mencuci daun dalam bak berisi air. Pria 56 tahun itu menyarankan untuk mencuci daun moringga dengan air yang telah diozonisasi supaya mencegah kontaminasi bakteri atau cendawan penyebab penyakit pada daun yang hendak diolah. Menurut peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen di Kota Bogor, Jawa Barat, Drs. Dondy Anggono Setyabudi, M.Si., ozon merupakan zat disinfektan yang kuat.

Menurut Dondy, konsentrasi ozon 0,002 mg per liter dapat bersifat racun bagi bakteri Escherichia coli dan Streptococcus faecalis. Sedangkan konsentrasi ozon yang biasanya digunakan Dudi untuk proses disinfeksi adalah 0,4-0,5 mg per liter, sudah cukup untuk membunuh mikroorganisme. Ozon bereaksi dengan protoplasma sel bakteri dengan berperan sebagai oksidator.

Setelah penanganan pascapanen selesai, lalu masuk proses pengeringan. Dudi mengeringkan daun di dalam ruang pengeringan yang steril dengan suhu ruang maksimal hanya 35o C dan kelembaban maksimal 46%.

“Jika suhu terlalu tinggi dikhawatirkan merusak kandungan nutrisi,” ujar Dudi. Ia menghindari pengeringan dengan cara penjemuran di bawah sinar matahari langsung. Sebab, suhu tidak terkontrol. Pengeringan di tempat terbuka juga dikhawatirkan kurang higenis karena terpapar debu.

Baca: Mengenal Teknik Produksi Benih Jengkol dari Biji

Penulis: Yusril Wicaksana
Mahasiswa Jurusan Agroteknologi – Univ. Muria Kudus

Referensi: Majalah Trubus

  • Anwar, F., Said, L., Ashraf, M., dan Gilani, A.H., 2007, Moringga oleifera: a Food Plant with Multiple Medicinal Uses, Phytotherapy Research, 21: 17-25
  • Bose, C.K., 2007, Possible role of Moringga Oleifera L. root in epithelial ovarian cancer, MedGenMed, 9(1):26

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.