Padi Buatan Universitas Jenderal Soedirman yang Wangi dan Kaya Protein

Saat nasi selesai ditanak dan akan dihidangkan di atas meja makan, wah…, kumpulan asap yang membawa aroma nasi sangat wangi dan menggugah selera. Selain aromanya yang wangi, nasi itu juga super pulen dan tidak benyek.

“Pantas saja banyak kalangan atas yang menyukai,” kata Mashuri yang gemar menyantap nasi baru itu. Nasi pulen itu adalah hasil budidaya padi di lahan Mashuri seluas 0.5 hektar. Petani di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah itu menanam padi baru besutan Universitas Jenderal Soedirman tersebut.

Varietas padi super pulen itu lahir dari tangan tim peneliti di Laboratorium Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Tim periset terdiri atas Prof. Ir. Totok Agung Dwi Hartoyo, M.P. Ph.D., Dyah Susanti, S.P., M.P., dan Agus Riyanto, S.P., M.Si. “Kami memperkenalkannya dengan nama padi kaya protein super pulen,” kata Totok. Selain pulen, padi anyar itu juga memiliki keistimewaan lain yakni mengandung protein tinggi.

Kadar protein padi super pulen mencapai 9-13%. Bandingkan dengan padi jenis lain, rata-rata proteinnya hanya 7-9%. Totok menuturkan keberadaan beras berprotein tinggi sangat penting untuk mencukupi kebutuhan gizi masyarakat. Apalagi 40% kebutuhan gizi masyarakat bersumber dari beras yang dikonsumsinya karena nasi merupakan sumber pangan utama di Indonesia.

Baca: Fakta tentang Padi (Beras) di Indonesia

Beras Protein Tinggi UNSOED

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tak perlu lagi membeli sumber protein lain (lauk) yang berlebihan, seperti daging, ikan, dan tahu-tempe. Di samping itu, kadar protein beras juga berperan untuk menurunkan kadar gula darah. Dan beras tersebut cocok untuk hidangan ala makanan Jepang.

Padi tersebut merupakan hasil persilangan dari varietas padi susu dengan galur padi yang memiliki kualitas tanam terbaik. Mereka mengawinkan silang padi-padi pilihan itu hingga memperoleh padi baru sesuai keinginan.

Kandungan protein tinggi diperoleh dengan menggunakan teknologi biofortifikasi murni melalui perbaikan genetik. Totok menuturkan varietas padi susu berperan sebagai donor protein bagi keturunannya.

Padi baru itu telah melewati uji multilokasi di 16 daerah, antara lain Kabupaten Cilacap, Kebumen, Purbalingga, Banyumas, Subang, dan lain-lain.

Petani bisa memanennya saat tanaman berumur 114 hari. Potensi produksi tanaman mencapai 7,5 ton gabah kering panen per hektar. Adapun penyusutan hasil panennya hanya 10%.

Beras berukuran kecil, cenderung bulat, dan berwarna putih susu. Kandungan amilosanya 13,56% yang membuat nasinya bertekstur pulen. Kualitas tanak beras bahkan setara dengan beras jenis japonica.

Menariknya, padi kaya protein besutan pemulia tanaman di Universitas Jenderal Soedirman itu sangat aman dikonsumsi sebab tidak melibatkan penambahan bahan kimia maupun penyisipan gen asing apa pun selama proses perakitan.

Mashuri membudidayakan tanaman dengan cara semiorganik. Ia hanya mengandalkan 2 liter pupuk organik, 75 kg urea, dan 50 kg pupuk phonska dalam 1 periode budidaya. Pupuk organik digunakan setiap 2 pekan selama masa vegetatif tanaman. Sementara, untuk mengendalikan hama dan penyakit, ia memanfaatkan pestisida nabati sebanyak 3 liter. Adapun pestisida diberikan hingga menjelang panen.

Baca: 5 Cara Ampuh Mengusir Hama Burung Padi

Padi

Saat panen tiba, ketua gabungan kelompok tani Sri Waluyo Tani itu menuai 3 ton gabah kering. Terjual dengan harga Rp 7.500 per kg, sisanya dikonsumsi pribadi dan dijual dalam bentuk beras dengan harga Rp 15.000 per kg. “Rupanya banyak konsumen yang tertarik karena beras yang didapat bermutu,” kata Mashuri.

“Budidaya secara organik lebih disarankan untuk meningkatkan nilai ekonomi beras yang dihasilkan sebab harga jualnya lebih tinggi,” katanya. Harga jual beras kaya protein yang ditanam secara organik bisa mencapai Rp 25.000 per kg. Universitas Jenderal Soedirman juga memiliki galur-galur harapan padi protein tinggi dengan daya dan kualitas hasil yang tinggi. Galur-galur itu antara lain P-CH//MR-GN95, Unsoed PK 7, dan Unsoed PK 15.

Semua galur sedang dalam tahap persiapan pelepasan varietas. Selain itu, juga sudah mendapatkan hak atas kekayaan intelektual (HaKI) berupa tanda pendaftaran Varietas Tanaman Hasil Pemuliaan dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (Pusat PVTPP) Kementerian Pertanian.

Baca: Sistem Mina Padi, Kombinasi Lahan Sawah dengan Budidaya Ikan

Penulis: Yusril Wicaksana
Mahasiswa Jurusan Agorteknologi – Univ. Muria Kudus


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.