Pengambilan air asin garam

Siapa yang tidak tahu garam? Mungkin semua orang akan beranggapan bahwa garam dibuat di pesisir laut. Tapi berbeda dengan yang satu ini. Garam Krayan justru diproduksi di dataran tinggi loh!

Garam Krayan ini berasal dari pedalaman hutan di Kalimantan, yang terletak di daerah pegunungan.

Tidak hanya alam indah yang terpapar disini, namun keunikan seperti garam juga diproduksi disini.

Garam Krayan, Garam Gunung
Foto : Pengambilan air asin untuk pembuatam garam krayan (Pradita Utama – Detik Travel )

Helmi Asfikar selaku Camat Krayan Induk mengungkapkan bahwa hasil penelitian Universitas Padjajaran tahun 2018 lalu, garam Krayan sangat unik. Mulai dari letaknya, potensinya, itu sangat tinggi. Konon air asin yang terjebak karena proses geologi yang terbentuk karena jutaan tahun yang lalu, dimana pada saat krayan ada di dasar samudra.

Proses geologi air asin yang terjebak inilah yang menjadi sumber dari produksi garam di Krayan, tungkas Heli lagi.

Baca Juga : 6 Alasan Menanam Kurma di Indonesia

“Proses geologi yang lama, terjebaklah air asin ini di terowongan yang sangat panjang yang mereka sebut dengan jaringan sabuk Pegunungan Kuching. Sehingga sumur-sumur garam itu terdapat di perbatasan Indonesia memanjang sepanjang sampai ke Malaysia,” tambahnya.

Garam Krayan, Garam Gunung
Foto : Rumah produksi garam gunung, Pondok Pa’Nado (Pradita Utama – Detik Travel)

Melihat Produksi Garam Krayan

Kamu yang ingin melihat produksi garam ini harus bergerak ke rumah produksi garam gunung Pa’Nado. Rumah produksi ini berada di Long Midang, tidak jauh dari perbatasan Indonesia-Malaysia yang dijaga oleh posko TNI.

Saat hendak berkunjung kesana, harus melapor terlebih dahulu untuk mengunjungi rumah produksi garam sembari menunjukkan identitas kamu.

Dalam memproduksinya, air garam akan diambil terlebih dahulu lalu direbus selama 12 jam hingga bulir garam terlihat. Setelah itu bulir-bulir garam akan dijemur hingga kering lalu dibungkus.

Pembuatan yang cukup simpel dengan produksi 26 Kg dalam sehari, namun semuanya akan habis terjual loh.

Baca Juga :

Salama selaku seorang petani garam wanita paruh baya di rumah produksi Pa’Nado mengatakan “Paling banyak kita produksi bisa hingga 26 Kg sehari, tergantung cuaca. Kalau musim hujan kita hanya bisa produksi 10-15 kg saja, dan kalau musim kemarau biasanya di atas 20 kg,”.

Untuk penjualan, harga perkilo garam berkisar Rp 40-50 ribu. Biasanya sudah ada yang memesan perharinya atau ada juga yang datang langsung ke sini.

Garam Krayan, Garam Gunung
Foto : Proses garam Krayan yang direbus (Pradita Utama – Detik Travel)

“Biasanya kita jual hingga Malaysia. Ada juga yang memesan via telepon, dan banyak juga yang datang langsung. Kita bisa semuanya, yang penting garam habis saja,” ungkap Salama sembari tertawa.

Garam Gunung vs Garam Laut, Apa Bedanya?

Kamu penasaran akan perbedaan kedua jenis garam ini?

“Kalau garam gunung harganya mahal, dan garam laut murah. Juga garam gunung bagus untuk membuat sayur karena dia tidak mengubah warna sayur dan juga tidak cepat basi,” ungkap Salama lagi.

Jika kamu ingin berkunjung ke rumah garam ini, para petani garam akan menimba sumur saat siang hari.

Garam Krayan, Garam Gunung
Foto : Penjemuran (Pradita Utama – Detik Travel)

Bila kamu ingin melihat proses jadi dan pengangkatannya, kamu bisa datang jam 08.00 WITA.

Disadur dari Detik Travel

Nah itu dia sedikit ulasan artikel tentang Garam Krayan, Garam Gunung Dari Dataran Tinggi. Bagaimana menurut kamu sobat PTD?

Baca Juga : Pepaya California Mudah Dibudidayakan dengan 5 Langkah Ini

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.