pangan

Berikut informasi dari Pak Tani Digital mengenai ketahanan pangan saat pandemi Covid-19

 Ketahanan Pangan

Menjaga Ketahanan Pangan

pangan
medium.com

Baca juga: Siapkah Indonesia Dengan Resesi Ekonomi ?

Ditengah pandemi pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan nilai negatif diakibatkan saat masa pandemi yang masih saya berlanjut.

Pertumbuhan ekonomi yang dinilai semakin menurun tidak membuat gentar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui komoditas pangan lokal.

Salah satunya dengan menggairahkan pengembangan budidaya ubi kayu hingga industri tapioka dan komoditas sagu yaitu PT. Bangka Asindo Agri (BAA) pabrik tepung tapioka yang sudah lama berdiri di Kabupaten Bangka.

Dalam menjaga pasokan pangan di masa pandemi Covid-19 diperlukan alternatif pengembangan pangan lokal seperti sagu, ubi kayu, ubi jalar, jagung, talas, sorgum, dan lainnya.

Penguatan pangan lokal sangat penting karena sektor pertanian saat ini menjadi salah satu penopang ekonomi di Indonesia.

PDB pertanian tumbuh 16,24 persen pada triwulan-II 2020 (q to q) dan bahkan secara yoy, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19 persen.

Subsektor tanaman pangan tumbuh paling tinggi yakni sebesar 9,23 persen sehingga penyelamat pertumbuhan PDB sektor pertanian dan PDB nasional.

Ubi kayu beserta olahannya dapat menjadi pendorong perekonomian saat ini karena olahannya dibutuhkan oleh masyarakat  hingga ke pasar ekspor dan diharapkan akan terus menjadi kekuatan Indonesia kedepannya.

Dukungan juga didapatkan dari  Gubernur Babel Erzaldi Rosman untuk memprioritaskan program ketahanan pangan lokal, berbagai jenis pangan menjadi salah satu alternatif yang harus serius dikembangkan.

Industri Tepung Tapioka dan Sagu

pangan
tribunnews.com

Baca juga: Asuransi Merupakan Solusi Untuk Kerugian Usaha Tani

PT BAA salah satu industri yang bergerak di tepung tapioka dan sagu berbahan baku singkong yang diperoleh dari petani yang tergabung dalam Gapoktan.

Setiap hari dibutuhkan 500 ton ubikayu yang menghasilkan tapioka 125 ton/hari.

Pasar tapioka selama ini dijual ke Palembang, Lampung, Surabaya dan Sidoarjo dan beberapa Kota Lainnya di Nusantara

BAA memproduksi dan mengolah sagu Rumbia yang menghasilkan tepung sagu sebagai Bahan Baku Sagomee. Tepung sagu ini dengan kualitas tinggi dan terjamin, di mana warna produknya putih dan bersih.

Oleh karena itu, petani harus bergabung menjadi korporasi.

Hal ini disarankan karena adanya kondisi pasar yang kurang menarik dan adanya kompetisi dengan produk lain serta beberapa varietas ubi kayu unggul lainnya yang perlu dikembangkan petani.

Lebih lanjut Suwandi menjelaskan untuk memajukan dan mensejahterakan petani ubi kayu perlu penanganan model korporasi karena di korporasi terintegrasi jadi satu inputnya.

Dengan korporasi yang memanfaatkan mekanisasi dan bekerjasama menjadi off taker industri maka petani akan mendapat kemudahan sumber pendanaan untuk KUR.

Yang menjadi kunci selanjutnya, sambungnya, adalah teknologi pengolahan.

Ada sekitar 28 produk turunan yang bisa dimanfaatkan untuk dikembangkan ke pasar maupun supermarket dengan branding yang bagus.


Itulah informasi mengenai menjaga ketahan pangan  Indonesia saat pandemi. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat ya sobat PTD!

Baca juga: Resesi Ekonomi di Indonesia Saat Pandemi Covid-19

Sumber: Liputan6.com

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.