satwa liar

Satwa liar sudah mulai memasuki permukiman penduduk. Apa pentingnya lahan untuk habitat satwa liar? berikut ulasan mengenai info tersebut!

Satwa Liar

satwa liar
pixabay.com

Satwa liar yang beragam dan unik di Indonesia menghuni bentang alam dan laut dari Sabang hingga Merauke.

Banyak spesies-spesies yang saat ini terancam populasinya di alam akibat pemanfaatan yang tidak berkelanjutan, degradasi, fragmentasi, dan hilangnya habitat serta kejadian konflik antara satwa dan manusia.

Spesies yang hidup di ekosistem laut dan pesisir juga terancam menjadi tangkapan sampingan (by-catch) pada sektor perikanan serta ancaman pencemaran di laut.

Baca juga: Data Pertanian Sudah Satu Pintu dari BPS Mulai 1 Desember 2019

Satwa Liar Mulai Memasuki Kawasan Penduduk

Pengamat menilai perlu ada lahan yang dipertahankan untuk pertanian dan sebagainya untuk habitat satwa liar. Hal ini mengingat berbagai jenis satwa liar masuk ke permukiman padat penduduk.

Masuknya satwa liar ke permukiman karena ada siklus setiap tahun yang disebabkan habitatnya makin terhimpit oleh pertumbuhan pembangunan untuk kepentingan manusia.

Dr Boedi Setiawan merupakan salah satu pengamat satwa liar dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengatakan  siklus tersebut biasanya terjadi di setiap pergantian musim pada wilayah permukiman penduduk yang berbatasan dengan hutan atau habitat satwa liar.

Baca juga: 35 Ha Lahan Pertanian Terdampak Tol DIY, Pemda Cari Pengganti

Salah satu fenomena yang belakangan terjadi adalah masuknya kawanan ular kobra di sejumlah perkampungan di Jakarta dan Jember, Jawa Timur, fenomena itu terjadi karena sekitar tiga bulan yang lalu merupakan musim kawin ular kobra.

Karena sekarang ini bertepatan dengan awal musim hujan, telur-telurnya mulai menetas dan insting anak-anak ular kobra itu mencari makan sekaligus mencari kehangatan di luar habitatnya yang telah rusak akibat perekembangan pembangunan, yaitu dengan masuk ke perkampungan padat penduduk

Sepanjang tiga bulan terakhir, berbagai jenis satwa liar diberitakan masuk ke permukiman padat penduduk di sejumlah wilayah Indonesia.

Pada akhir November lalu, kawanan gajah liar diberitakan merusak 14 unit rumah penduduk di Kampung Rime Raya, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

satwa liar
merdeka.com

Gajah Sumatera liar, pada awal Desember ini, juga terlihat berkeliaran di Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Seekor bekantan jantan pada Oktober  juga diberitakan masuk ke perkampungan warga di Mantuil, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Ada Kesalahan Tata Ruang

Adanya kesalahan tata ruang yang menyebabkan berbagai satwa liar tersebut pada siklus tertentu masuk ke permukiman padat penduduk demi bertahan hidup.

Mungkin dikarenakan pertumbuhan penduduk semakin meningkat, otomatis kebutuhan rumah juga sangat meningkat. Artinya di sini memang ada lahan-lahan yang harus dibatasi, tidak semua lahan dibuat perumahan.

Harus ada lahan yang dipertahankan untuk pertanian dan sebagainya, sehingga masih menyisakan habitat untuk satwa-satwa liar, yang selama ini menjadi korban dari pertumbuhan pembangunan dan tidak ada pembruan atau pembunuhan terhadap satwa liat.

Warga diminta untuk menghubungi petugas “rescue” di instansi perlindungan masyarakat (linmas) yang ada di tiap daerah. Yang bertujuan untuk mengevakuasi dan mengembalikan satwa liar yang memasuki perkampungan penduduk tersebut ke habitatnya.


Itulah informasi mengenai satwa liar yang mulai memasuki wilayah permukiman penduduk. Semoga informasinya bermanfaat ya sobat PTD!

Baca juga: [Review Buku] Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh untuk Pertanian dan Kehutanan

Sumber: liputan6.com

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.