6 Penyebab Lahan Pertanian di Indonesia Semakin Kritis

Seperti yang kita ketahui, pertanian merupakan salah satu aspek paling penting dalam kehidupan karena dari hasil pertanian-lah, kita dapat memperoleh pangan. Pertanian juga merupakan objek vital yang berhubungan dengan isu-isu penting dunia saat ini, seperti kemiskinan, kelaparan, GM (Genetic Modified), dan pengembangan yang sangat erat kaitannya dengan pertanian.

Namun demikian, di Indonesia, lahan pertanian semakin kritis atau menyempit, disebabkan oleh alih fungsi lahan menjadi perumahan, hotel, dan bangunan lainnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mari simak uraian berikut.

SDM pertanian Indonesia yang rendah

Petani sebagai SDM yang penting dalam memproduksi pangan

Mayoritas petani Indonesia berusia lebih dari 50 tahun. Mereka tentunya kurang atau bahkan tidak melek teknologi. Padahal, dengan penguasaan teknologi, dapat sangat membantu dalam pengembangan pertanian.

Selain itu, bagi generasi muda, mereka biasanya gengsi untuk kuliah di pertanian atau bekerja di bidang pertanian karena paradigma masyarakat yang negatif terhadap petani. Oleh karena itu, kebanyakan anak muda gengsi, mereka lebih memilih untuk kuliah di jurusan yang dianggap keren.

Baca: Indonesia Krisis Padi atau Krisis Petani?

Tidak ada jaminan dari pemerintah

Biaya produksi yang tinggi dan harga jual yang rendah seringkali merugikan petani. Padahal, rata-rata petani di Indonesia termasuk petani kecil dengan skala kepemilikan lahan yang tergolong sempit dibandingkan dengan negara lain seperti Australia dan AS.

Hal ini mengakibatkan petani semakin terpuruk. Jika produksi berlebih dan harga anjlok, tidak ada jaminan keamanan harga dari pemerintah sehingga banyak petani yang memilih mengalihfungsikan lahannya dan bekerja di sektor lain.

Sistem distribusi yang rumit

Hasil panen petani pada umumnya akan dibeli oleh tengkulak dan akan berpindah ke beberapa tengkulak/pedagang sampai ke tangan konsumen. Harga dari petani sebenarnya murah tetapi saat sampai ke konsumen, harganya dapat berkali lipat lebih mahal. Bukan petani yang mendapatkan keuntungan, melainkan para pedagang.

Baca: Fakta dan Tantangan Pertanian di Indonesia

Penguasaan teknologi pasca panen yang rendah

Hal ini berkaitan erat dengan poin sebelumnya. Karena penguasaan teknologi pasca panen di kalangan petani yang rendah, petani terpaksa langsung menjual hasil panennya kepada tengkulak saat keadaannya masih segar. Padahal, jika bisa mengolahnya menjadi bentuk lain, hal itu akan meningkatkan nilai jualnya.

Tingkat impor yang tinggi

Perbedaan Kedelai Lokal dan Impor
Sumber: digikedelai.com

Karena biaya input yang tinggi, harga produk pertanian lokal pun juga tinggi dan kalah saing dengan produk impor yang lebih murah, Produk impor memiliki kualitas yang lebih baik dan terlihat lebih menarik karena sudah didukung oleh bibit unggul dan alat pertanian modern. Alhasil, banyak orang malas bertani dan mengalihfungsikan lahannya.

Bidang usaha non-pertanian yang terlihat lebih menjanjikan

Hasil ekonomi dari sektor pertanian selama ini terlihat tidak menjanjikan dibanding sektor lainnya karena pada dasarnya, banyak masyarakat Indonesia yang tidak menekuni pertanian, mereka hanya memanfaatkan pertanian sebagai sampingan atau saat mereka sudah pensiun dari pekerjaan utamanya.

Bekerja di sektor pertanian harus giat, dan hasilnya tidak bisa diprediksi, kemungkinan gagal panen selalu ada. Jadi, banyak masyarakat yang mengalihfungsikan lahannya untuk sektor lain. Misalkan, properti yang disewakan, menyewakan properti dianggap lebih menjanjikan karena akan menghasilkan nilai ekonomi yang jelas dan tidak ada resiko gagal panen.


Hal-hal di atas lah yang mengakibatkan banyak petani mengalihfungsikan lahannya. Sementara di sisi lain, teknologi kita belum mumpuni untuk bertani dengan lahan minim seperti Jepang. Meskipun negaranya kecil dan lahan pertanian sangat minim, mereka mampu bertani modern dengan hasil yang sangat menjanjikan.

Baca: Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia

Sumber gambar utama: sinergi.radarmalang.id

Penulis: Nevy Widya Pangestika
Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.