petani

Yukk ketahui, diantara petani, buruh tani atau juragan tani. Siapa pemilik kemiskinan yang sesungguhnya? Nah PTD akan mengulasnya pada artikel pertanian kali ini.

Petani merupakan salah satu profesi tertua di dunia yang memiliki prospek yang sangat panjang, dan tetap akan bertahan selama manusia masih membutuhkan bahan makanan untuk dikonsumsi sebagai sumber energi bagi tubuh.

Profesi sebagai petani pula kadangkala tidak luput dari sorotan akan polemik sosial yang selalu membelenggu negeri ini seperti ketimpangan sosial, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan hidup dan sebagainya.

Berkaca dari profesi serupa namun berada di belahan bumi yang lain, petani seolah menjadi profesi pekerjaan yang mulia.

Dengan tingkat kesejahteraan keluarga yang paling makmur, diantara profesi yang lain berbeda jauh, dengan harapan di dalam negeri ini yang katanya berselimut kolam susu dan sumber daya yang melimpah.

Lalu siapakah pemilik kemiskinan yang sesungguhnya?

Profesi Petani

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Petani merupakan orang yang bercocok tanam atau orang yang bertani.

Siapapun yang mengusahakan tentang bercocok tanam atau kaitannya dengan melakukan sector pertanian maka dapat disebut sebagai petani, sehingga semua orang Indonesia bisa dikatakan petani secara umum.

Pelaku pertanian yang bergerak secara langsung atau tidak langsung dalam bercocok tanam dengan catatan mengusahakan sektor pertanian, tentu dapat masuk ke dalam bagian ini namun memiliki nama lain seperti Pelaku Usaha Pertanian dan pemilik modal atau yang disebut sebagai kapitalisme.

Bergerak dengan mengusahakan sektor pertanian berupa bantuan modal untuk pertanian menjadi bagian dalam pertanian dengan nama lain yang dikenal dengan sebutan Jurangan Tani.

Lalu siapa petani yang sesungguhnya dan seperti apa kemiskinan yang membelenggu negeri ini. Sayangnya kita tidak mengenal profesi yang satu ini, namanya Buruh Tani.

Profesi ini bergerak dengan menjadi pelaku utama dalam bercocok tanam, mulai dari memilih benih yang baik, melakukan persemaian, perawatan setiap hari, pemberian pupuk, pemanenan hingga yang paling terakhir ialah mengemas menjadi bahan makanan siap untuk dimakan.

Baca Juga: Pentingnya Pembukuan Akuntansi untuk Petani

Tetapi, perlu diketahui bahwa kerja keras yang telah mereka lakukan pun tidak juga lebih popular untuk disebutkan, bahkan yang lebih miris daripada itu ialah mereka kadang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Makannya, sekolahnya, kadangkala tempat tinggalnya hanyalah rotan rakitan yang seketika diterpa angin ribut akan beterbangan kesana kemari.

Dari kejadian tersebut munculah ikon kemiskinan, tetapi anehnya kata miskin pula tidak pernah sekalipun menyeruhkan nama mereka.

Malahan kata yang paling dekat dengan itu ialah “petani” sehingga semua pelaku sektor pertanian akan mengambil bagiannya untuk dikategorikan miskin.

Sehingga tinggalah sisa pada buruh tani itu atau kemungkinan yang lebih buruk tidak ada sama sekali yang tersisa.

petani
pasundanekspres.co

Kepemilikan Lahan

Berbeda dari profesi lainnya, buruh tani mengusahakan ladang pertanian dengan menerima upah dari pekerjaan yang diusahakannya.

Sehingga bagaimana sektor pertanian dihargai di dalam negeri, maka seperti itu pula penghasilan yang bisa diterima oleh buruh tani.

Pada umumnya, buruh tani memperoleh pekerjaan dari pelaku usaha pertanian dan juragan tani, yang memberikan modal serta lahan untuk diusahakan dengan menerapkan beragam pola kerjasama seperti bagi hasil, kontrak, sistem titip, pemberian modal dengan catatan bunga, hingga beragam sistem yang dikembangkan.

Sistem tetaplah sistem sehingga sebaik apapun sistem bila mengalami kendala lapangan, maka tinggal buruh tani akan menjadi penentu dari semua kerugian yang telah dialami.

Gagal panen, kekeringan, musibah dan serangan hama adalah semua masalah yang selalu ditimpakan pada buruh tani, tanpa diketahui sedikitpun oleh profesi petani yang lain diantaranya pelaku usaha pertanian dan juragan tani.

Apalagi bila masih memiliki pinjaman serta bunga yang belum dibayarkan, maka bukanlah menjadi pribahasa lagi “lingkaran kemiskinan” mengulang siklusnya untuk berputar.

Belakangan ini, kita mendengar HGU “Hak Guna Usaha”, merupakan kekayaan lahan tidur yang dimiliki oleh sang adidaya dengan kepentingan badan atau usaha. Tentu saja, dengan pertimbangan demikian bahwa lahan yang tidur itu perlu dikelola dengan bijak.

Sehingga menghasilkan keuntungan guna kemakmuran petani, sehingga kembali ke defenisi awal bahwa petani mencakup tiga profesi yakni pelaku sektor usaha pertanian, juragan tani dan buruh tani.

Alhasil buruh tani sebagai bagian utama pertanian, bukannya tak mau menuntut bahkan tahu saja tentang kepemilikan lahan, tidak pernah sekalipun terlintas dibenaknya.

Profesi petani di dalam negeri pula kadang dimiliki sepenuhnya oleh penyelenggara kepentingan dengan beragam jalur yang ada.

Beberapa petani memiliki dwi profesi yang bekerja sepenuhnya di perkotaan, sehingga mereka akan mendapatkan banyak keuntungan profesi yang digelutinya di kota.

Hasil pertanian dari desa atau perkampungan kesannya pertanian ini masih dimonopoli oleh mereka yang memiliki kekuasaan.

lahan
beritagar.id

Jalur Distribusi

Buruh tani sebagai salah satu pelaku pertanian, merupakan profesi yang menerima upahan dari pelaku pertanian yang lain yaitu pelaku sektor usaha pertanian dan jurangan tani.

Upah yang diterima tentunya akan mengikuti tren pasar pertanian dan alur ekonomi sebuah Negara. Berbeda dengan negara seberang yang memiliki tingkat mata uang yang tinggi.

Rupiah Indonesia termasuk yang paling rendah, sehingga ketika dikalkulasikan upah tenaga kerja Indonesia di luar negeri akan sebanding dengan daya kerja atau usaha yang diberikan oleh buruh tani, namun gajinya akan setara dengan pekerja kantoran di Indonesia.

Namun nilai mata uang bukanlah satu-satunya masalah yang menghimpit petani, tetapi jalur distribusi yang bisa dibilang berbelit-belit.

Imbasnya, distributor kadangkala dimainkan oleh pelaku sektor pertanian yang lain ditambahkan dengan pihak ketiga, calo (perantara), dan perusahaan.

Nilai permintaan di dalam negeri yang berfluktuasi dengan produksi yang besar menyebabkan nilai jual tidak akan pernah mendapatkan hasil yang memuaskan.

Kegiatan ekspor menjadi dorongan yang diharapkan oleh para buruh tani tetapi jalur yang ribet, modal yang tidak ada serta calon pembeli menjadi masalah klasik yang tidak pernah terselesaikan.

Hidup pun tidak akan pernah cukup karena ladang yang dikelola bukanlah hak milik serta modal dan pinjaman yang diperoleh haruslah dibayarkan, mau tidak mau buruh tani harus banting tulang dalam bekerja.

Baca Juga: Indonesia Akan Krisis Petani 15 Tahun Mendatang

Budaya Timur dan Sejarah

Tidak bisa dipungkiri bahwa budaya yang merupakan peninggalan para leluhur, merupakan salah satu yang melatarbelakangi ketimpangan sosial yang terjadi di negei ini.

Pola Negara Indonesia yang pada awalnya disebut “nusantara”, merupakan hasil gabungan dari beranekaragam suku, budaya, ras dan agama yang notabenenya dekat dengan kekuasaan dan kerajaan.

Sejarah negeri ini oleh kekuasaan yang memberikan ruang dalam memetakan kepemilikan lahan, sehingga sebuah pepatah “siapa yang kuat maka dia pemenang” menjadikan beberapa orang menerima warisan lahan yang luas dari leluhur karena garis keturunan.

Berbeda dengan sejarah Eropa ‘budaya barat” yang memiliki seorang raja yang berkuasa di dalam sebuah negeri, sistem kerajaan di Indonesia pada mulanya hampir dipetakan oleh beragam kepentingan.

Oleh karena itu, lahirnya penguasa akan membuat kekuasaan semakin terpetak-petakan mulai dari hulu hingga hilir, bahkan di jajaran buruh tani sekalipun memiliki penguasa untuk mengatur kesemuanya.

Hal demikian tidak lepas dari budaya timur yang menurun dari leluhur, berbeda dengan budaya barat yang menginginkan “kebebasan” sehingga orang bebas melakukan perjuangannya untuk keluar dari kemiskinan.

Budaya kita menggariskan “keteraturan” yang membuat garis komando untuk ditaati, sehingga munculnya penguasa yang tidak bijak berakibat pada kebijakan yang salah.

Alhasil buruh tani akan terjebak dalam keteraturan dan butuh kerja keras, peluang dan keberuntungan untuk bisa bangkit dari garis lingkaran kemiskinan.

Kebijakan Pertanian

Kebijakan yang dilakukan pemerintah merupakan langkah konkrit yang harus juga mendapat bantuan dari semua pihak yang terlibat dalam perbaikan sektor pertanian, untuk mencapai ketahanan pangan di dalam negeri.

Lahirnya program seperti Asuransi Pertanian sebagai jaminan akan peluang lahirnya musibah pertanian, Koperasi Pertanian sebagai wadah perkumpulan buruh dan petani untuk bertukar informasi dan media pembelajaran sektor pertanian.

Lahirnya inovasi anak negeri Teknologi Informasi Pertanian seperti Pak Tani Digital yang mampu mendorong jalur distribusi yang lebih baik, dimana produsen dapat menyalurkan hasil kepada konsumennya.

Tanpa jalur distribusi yang berbelit-belit harus langsung tepat sasaran pada buruh tani bukan sekedar opini dan wacana belaka.

Selain hal tersebut, beberapa kebijakan yang kemungkinan bisa dipertimbangkan untuk diterapkan diantaranya ialah Program Ekspor.

Berguna untuk meningkatkan nilai jual pertanian, dengan turun langsung kepada pelaku utama pertanian yaitu buruh tani untuk menilai dan menjual hasil pertanian mereka.

Program Kesejahteraan Petani yakni program utama untuk pendidikan wajib dan kesehatan gratis bagi anak buruh tani sehingga memberikan dorongan untuk keluar dari jurang kemiskinan.


Nah, itudia sedikit ulasan mengenai petani, buruh tani, atau juragan tani. Semoga bermanfaat.

Jangan lupa SHARE artikel ini kepada teman-teman kamu ya!

Baca Juga: Lawan Alih Fungsi Pertanian dan Upaya Pemerintah

Penulis: Suryadi Pappa

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.