petani

Zaman semakin maju, banyak orang-orang berlomba bekerja di perusahan-perusahan besar. Begitupun para anak-anak muda. Menyebabkan tidak adanya penerus masa depan pertanian. Bagaimana pendapat kamu sebagai anak milenial?

Problematika dan Paradigma Pertanian Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara kaya dan melimpah akan sumberdaya alam hingga ke seluruh pelosok negeri. Indonesia konon lahir dari rahim agraris dan maritim.

Namun agaknya, wajahnya semakin menua. Kurang dari 80 persen petani yang ada di Indonesia berusia lebih dari 50 tahun.

Kebanyakan dari mereka tidak berpendidikan tinggi. Namun, kami masih percaya bahwa masa depan dan kesejahteraan bangsa ini ada di pundak anak-anak muda.

Keterpurukan para petani semakin lengkap, tatkala dari hari ke hari lahan pertanian yang mereka miliki semakin menyempit. Luasan lahan yang dimiliki oleh petani Indonesia tercatat kurang lebih 87,63%.

Dapat dikatakan 22,9 juta rumah tangga petani adalah para petani yang memiliki kepemilikan lahan kurang dari 2 hektar. Sedangkan sekitar 5 juta rumah tangga petani dilaporkan memiliki luasan lahan di bawah 0,5 hektar.

Dengan kondisi seperti ini, petani tidak dapat lagi memaksimalkan produksi di lahannya. Tentu saja hal ini menjadi salah satu pemicu yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani.

Akibatnya profesi petani bagi sebagian anak muda tidak masuk ke dalam daftar cita-cita. Mimpi menjadi petani muda sukses terkubur bersama tanah dan air yang sejatinya subur makmur.

Banyak anak muda beranggapan profesi petani identik dengan pekerjaan orang tua. Harus mau kotor-kotoran bersama lumpur, menanam, dan memanen secara manual.

Keuntungan yang didapat biasanya tak terlalu menjanjikan. Belum lagi apabila muncul permasalahan, seperti; kekeringan, cuaca ekstrim yang tidak menentu, ketersediaan bibit terbatas, pupuk yang mulai langka di lapangan, serta berbagai serangan OPT lainnya yang berimbas pada gagalnya panen.

Menurunnya jumlah petani di Indonesia, ditambah kurangnya minat para anak muda mengancam kegagalan mimpi Indonesia, yakni mewujudkan kedaulatan pangan untuk rakyatnya.

Penyelesaian problematika yang dialami oleh petani dalam usaha tani, diperlukan peran pemuda yang memiliki kekuatan dan semangat tinggi.

Banyak ide kreatif serta inovatif yang dapat muncul dari para pemuda. Kelak hal tersebut tentu saja diharapakan berpengaruh pada pengembangan dan pembangunan pertanian.

Baca Juga: Petani, Buruh Tani Atau Juragan Tani. Siapa Pemilik Kemiskinan Yang Sesungguhnya?

Mengubah Citra Petani

Di era saat ini, sangat penting mengubah citra petani yang selama ini identik dengan pekerja kasar, menguras tenaga, miskin, dan penghasilannya kecil.

Persepsi seperti ini harus segera diubah agar anak muda memiliki penilaian baru terhadap profesi petani. Bagi generasi milenial, pertanian tidak melulu harus kotor dengan bercocok tanam di sawah.

Akan tetapi perlu dimulai dari proses manajemen yang baik dari awal pra tanam, budidaya, panen, hingga pascapanen. Terobosan inovasi teknologi pertanian di era modern ini juga perlu dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi pertanian.

Diantaranya ada pertanian organik, hydroponik, mekanisasi alsintan, dan lain-lainnya.

Proses manajemen yang baik dan tepat, serta terobosan inovasi teknologi tersebut diharapkan menimbulkan daya tarik bagi generasi milenial, serta menjadikan profesi petani sebagai gaya hidup baru yang keren dan kekinian.

petani muda

Petani Milenial dan Teknologi Pertanian Modern

Sektor pertanian merupakan salah satu profesi yang kurang diminati dan cenderung ditinggalkan oleh kalangan anak muda.

Ironisnya, banyak lulusan dari kampus yang dulunya memilih jurusan yang berhubungan dengan pertanian, mendapat profesi selain dari sektor pertanian.

Salah satu penyebabnya, doktrin dari keluarga dan masyarakat pada umumnya yang mengatakan bahwa berprofesi sebagai petani tidak menjanjikan dari segi finansial.

Salah satu sebab anak muda malas menjadi seorang petani yaitu tak dimilikinya aset berupa tanah/lahan, serta modal yang minim untuk mengelolanya.

Anak muda mana yang memiliki lahan luas, kecuali mendapat warisan dari orangtuanya? Jikapun ada yang punya lahan, jumlahnya pasti jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang sama sekali tidak memiliki lahan.

Oleh karenanya, kita dapat memotivasi anak muda, semisal memulai usaha pertanian dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk hidroponik, aquaponik, hidroganik serta solusi teknologi pertanian lainnya yang lebih kekinian.

Perkembangan dan kemajuan teknologi pertanian dewasa ini telah banyak mengubah citra petani dan membuka berbagai peluang baru di sektor pertanian.

Petani muda yang identik melek dengan informasi dan teknologi tentu saja dapat memanfaatkan peluang ini untuk melakukan berbagai perbaikan dan perubahan yang lebih baik di sektor pertanian.

Baca Juga: Petani dan Solusi Perubahan Iklim

Harapan Baru Sektor Pertanian

Petani sebagai ujung tombak penyedia kebutuhan pangan di negeri ini harus diletakkan pada posisi yang terhormat.

Keluarga petani harus berdaulat untuk kebutuhan pangannya dan terhindar dari kelaparan, sebelum memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Sebab, bukan rahasia umum lagi bahwa pada saat puncak musim kemarau dan penghujan, keluarga petani justru mengalami kelangkaan pangan karena rusaknya lahan pertanian diterjang dinamika alam.

Ada pula yang hanya bertani dengan satu jenis komoditi, sehingga harus membeli bahan pangan di pasar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Kita harus merangkul para petani milenial, yang mungkin baru mampu bertani di pekarangan rumah atau di lahan pertanian yang luasannya sempit.

Kita beri perhatian dan peningkatan keterampilan yang serupa dengan petani-petani lain yang sudah mapan. Prestasi para petani milenial dan komunitasnya harus mendapatkan apresiasi yang memadai.

Besar atau kecilnya skala praktik pertanian bukan lagi persoalan, jika semua potensi yang ada di sektor pertanian ini diberdayakan sesuai dengan kadarnya untuk bersama-sama membesarkan dan memajukan pertanian Indonesia.

petani milenial

 

Posisi dan Peran Strategis Petani Milenial

Petani milenial adalah sebuah gerakan tentang optimisme dari generasi muda Indonesia di bidang pertanian yang dilakukan di berbagai wilayah nusantara.

Masa depan pangan Indonesia, bahkan dunia, jelas berada di tangan petani. Kita ditantang untuk dapat mengambil peran penting tersebut.

Bagi seorang pemuda, dalam kamus hidupnya tidak mengenal frasa saling menyalahkan. Menyesali bahkan sampai mengutuk yang telah berlalu, ibarat menepak air didulang terpercik muka sendiri.

Macetnya regenerasi petani di Indonesia harus direspon dengan jalan keluar yang penuh dengan kreatifitas serta keinovatifan. Problematika yang kusut tersebut justru dapat menghadirkan tantangan yang lebih menarik.

Akan muncul banyak sekali kesempatan baru jika kita dapat mengurai benang-benang masalah yang ada di sektor pertanian menjadi solusi.

Kelak, kita mungkin akan sangat bangga saat seorang anak kecil ditanya oleh sang guru di sekolah tentang cita-citanya. Sang anak dengan lugas dengan sorot mata terang yang mengungkap kepercayaan diri tinggi menjawab. “Saya ingin menjadi seorang petani sukses, Bu!”

Bung Karno berkata. “Generasi sekarang biarlah generasi sekarang. Tetapi engkau, pemuda pemudi di seluruh Indonesia, yang sekarang duduk di bangku-bangku SMA adalah generasi baru.

Engkau adalah generasi yang akan datang! Engkaulah yang bertanggung jawab atas nasib bangsamu di masa depan. Kita kekurangan kader bangsa, terutama di lapangan pertanian dan peternakan.

Soal persediaan makan rakyat ini bagi kita adalah soal hidup atau mati, kenapa dari kalangan-kalanganmu begitu kecil minat untuk studi ilmu pertanian dan ilmu perhewanan? Pemuda bertani, berarti memilih untuk Merdeka. (By : Muhammad Syahri Mubarok, SST)


Bagaimana menurut kamu, apakah kamu sudah tertarik untuk menjadi seorang petani milenial?

Jangan lupa SHARE artikel ini kepada teman-teman kamu ya!

Baca Juga: Indonesia Akan Krisis Petani 15 Tahun Mendatang

Penulis: Syahri Mubarok

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

 

Comments

  1. sdr syahri mubarok, salut pada anda dg tulisan di atas. sebagai petani yg usia saya di atas 50 th ingin memberi beberapa catatan ;
    1. pertanian yg arahnya memenuhi ketahanan pangan adl pertanian dg produksi masal spt padi, jagung, kedelai dsb. sementara utk peternakan ayam, kambing & sapi. Indonesia ini dikaruniai alam yg subur, ibarat anda lempar biji dimanapun akan tumbuh jadi tanaman yg baik, shg semestinya biaya produksi pertanian bisa lebih rendah dibanding di negara sub tropis. Oleh krnnya hidroponi, aquaponik atau urban farming tdk jadi solusi. krn hal2 tsb dilakukan dinegara2yg memiliki keterbatasan kualitas & kuanritas alamnya, shg biaya produksinya jadi sangat mahal. Selanjutnya output pertanian dimaksud tdk mampu dibeli oleh rakyat kebanyakan. Tapi klo hidroponik dll tsb sekedar entry point sbg daya tarik kaum milenial oklah.
    2. anak2 skr sangat prakmatis, tdk suka bacaan yg berat2, mereka lebih suka melihat contoh & tdk tertarik dg wacana. Idealisme anak milenial adl bersenang-senang sebisanya, bekerja hanya agar bisa membiayai kesenangan esok hari, kurang peduli dg jangka panjang, dan diwaktu skr sangatlah mudah mencari uang asalkan hanya utk makan esok. Kalau toh belakangan ada beberapa milenial yg konon sukses bertani, klo ditilik lebih telihaliki (tetap dg penuh salut pd ybs) bukanlah petani dlm pengertian hakiki, tp trader yg memanfaatkan jaringan & lobi yg dimiliki shg mampu mendapatkan harga istimewa, shg keuntungan akhirnya cukup menjanjikan, krn konsumennya high class yg sangat terbatas jumlahnya, spt saupermarke, hotel, restoran & apartemen, & bukannya ibu2kebanyakan.
    3.kepemilikan lahan 2ha sangatlah luas. sy kurang yakin ada 10 jt kk petani memilikinya apalagi 22 jt, mohon dicek ulang. saya kok menduga petani pemilik 1 ha saja sdh sangat langka.m klo ada yg memiliki >2 ha ybs bukanlah petani tp spekulan tanah menunggu harga naik dikemudian hari. mohon datanya lebih akurat.
    3. dugaan 15 th kw depan akan krisis petani?
    statemen ini spt yg dinyatakan rektor IPB terlambat jauh, bahkan sekarangpun sudah SOS. utk mencari pekerja di sektor pertanian kami sdh hrs antri krn keberadaannya sdh nyata langka. bahkan ada banyak kampung yg masih mmemiliki lahan pertanian tp buruhnya hrs mendatangkan dr kampung lain, spt di tempat tinggal sy skr dan itupun usia rata2 di atas 50 th.
    4. klo tujuannya utk ketahana pangan, tdk sy maksudkan merendahkan kaum milenial, tp pola pengelolaanpengelolaanhra diubah bukan lagi pertanian rakyat tp industri pertanian sebagaimana di negara2maju spt.
    1. pertanian bukan lagi padat kerja & sambilan tp hrs padat modal & teknologi.
    2. subsidi bukan pada input spt pupuk, bibit dll, tp output. berapapun volume produksi hrs dibeli (pemerintah) dg harga yg menguntungkan petani, selanjutnya pemerintah yg menyalurkan hasil pertanian baik dg ataupun tanpa subsidi.
    3. agar pemerintah dpt menganggarkan pembelian hasil pertanian maka komoditi yg ditanam ditentukan pemerintah.
    dengan pola demikian maka ;
    1. tdk ada penyalahgunaan subsidi spt yg terjadi hingga skr.
    2. petani jadi sejahtera krn pasti untung krn harga jual petani stabil.
    3. selanjutnya kaum milenial akan tertarik memasuki dunia pertanian krn menarik & menguntungkan.
    4. dan yg paling menggembirakan ” BAJINGAN2 TENGIK LINTAH DARAT PENGHISAP DARAH RAKYAT INDONESIA PARA MAFIA PANGAN & PERTANIAN” akan mati dg sendirinya.
    Semudah & sesederhana itu sebenarnya bila pemerintah memiliki pilitical will & serius membangun & mencapai ketahanan pangan.

    salam & tetap semangat.

    1. Terimakasih atas tanggapan dan masukkannya pak Agus Wahyudi, salam kenal dari saya Muhammad Syahri Penyuluh Pertanian dari Kalimantan Barat. pandangan bapak terkait anak milenial zaman sekarang yg sangat pragmatis itu mungkin asumsi bapak yang mungkin tinggal di Jawa. kami di Kalimatan Barat tepatnya di Kab. Sambas sudah terbentuk dan sudah kami bina beberapa tahun kebelakang sebuah wadah Komunitas Petani Muda yang masih berusia disekitaran 20-40 tahun dan berjumlah ratusan pemuda. mereka semua luar biasa semangat dan keinginan untuk majunya. Mereka semua sudah bisa mandiri (terkait biaya produksinya), mereka semua tidak malu dan minder untuk berkotor-kotor dilahan. Dari semua proses budidaya sampai menghasilkan produksi mereka semua sudah kategori mahir, cuma yang masih menjadi kendala dan hambatan memang untuk melawan mafia pasar (para tengkulak, pengepul, cangkau,dll) para petani milenial masih belum mampu untuk menghadapi dan melawan permainan mereka semua, sehingga akhirnya mau ga mau mereka akhirnya memulai merintis untuk menjalin dan membuka pasar ekspor ke Malaysia, karena pasar untuk kesana terbuka lebar dan aksesnya tidak terlalu jauh,.
      kalau bapak mau kenal dan mendalami kiprah para petani milenial yang sudah kami bina silahkan berkunjung ke Kab. Sambas Kalimantan Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.