Produksi Pertanian Terancam Akibat Pandemi

Berikut informasi dari Pak Tani Digital mengenai produksi pertanian yang mulai terancam.

Sektor Pertanian

Keadaan Pertanian Saat Pandemi

pertanian
pixabay.com

Baca juga: Faktor Penurunan Harga Pada Produk Pertanian

Dimasa pandemi setiap sektor kehidupan masyarakat berubah menjadi keresahan, kepanikan dan kekhawatiran karena menyangkut ekonomi masing-masing.

Bahkan pada sektor pertanian yang merupakan bahan pemasok pangan bagi manusia mengalami perubahan dalam aktivitas petani.

Mirisnya banyak sekali keluhan yang berdatangan dari para petani terhadap dampak pandemi yang merubah nasib petani yang hampir mengalami kerugian karena penurunan harga komoditas pertanian merosot kebawah.

Adanya keadaan virus pandemi yang belum diketahui sampai kapan akan berakhir memiliki dampak yang signifikan bagi petani, pemasok  bahan pangan atau sektor pertanian.

Sebagian besar pelaku pertanian telah merasakan dampak dimulai dari hasil penjualan panen yang mulai sepi pelanggan dikarenakan kebijakan untuk tetap berada dirumah.

Sehingga berpengaruh terhadap harga yang turun dan kondisi petani yang mulai panik akan kerugian yang di alami.

Himbauan kebijakan pemerintah untuk tetap di rumah tidak  bisa sepenuhnya dilakukan oleh para petani, hal ini disebabkan karena bertanilah mata pencaharian mereka.

Menurut survey memang terjadi penurunan pemesanan hasil panen dari pasar yang sangat drastis tanpa disadari pelanggan di pasar mulai sepi.

Penurunan Harga Produk Pertanian

pertanian
pixabay.com

Baca juga: Seharusnya Petani Mendapat Apa Saat Pandemi ?

Daya beli masyarakat menurun imbas pandemi, hal ini juga dirasakan oleh komoditas pangan yang menurut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri, penjualannya turun antara 40-60% dibandingkan sebelum pandemi.

Hal ini di khawatirkan akan menurunkan semangat para petani untuk terus berproduksi karena takut untuk mengalami kerugian besar saat harga tak kunjung stabil.

Penurunan penjualan turut berdampak pada penurunan harga.

Penurunan harga terjadi pada hampir seluruh komoditas, kecuali beras, gula, dan telur ayam. Harga beras dinilai stabil karena adanya pembagian bantuan sosial (bansos) sembako.

Sedangkan harga gula dan telur ayam dinilai sulit turun, harga gula pasir di pasar DKI sekitar Rp 14.500-15.000 per kg, sementara harga telur ayam kisaran Rp 25.800 per kg.

Sebaliknya, harga pangan yang dikhawatirkan naik pada September yaitu bawang merah dan cabai. Namun, kenaikan harga diperkirakan akibat masuknya musim kemarau.

Ditambah lagi pasar Induk juga dinilai tidak mampu menampung pasokan petani karena kapasitasnya terbatas. Bila tidak terserap pasar, kontinuitas produksi dapat terhambat.

Dengan demikian, petani tidak berproduksi dan berpotensi kelaparan.

Selanjutnya, komoditas pangan tertentu yang mestinya dihasilkan petani dapat mengalami kekosongan stok karena petani tidak berproduksi. Bila kondisi tersebut terjadi, konsumen tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar makanannya.

Dengan harapan pemerintah bisa memberikan bantuan kepada petani pedagang, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bantuan tersebut dapat berupa bantuan modal atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk menjaga keberlangsungan bisnis.

Oleh karena itu, menurutnya harus ada kebijakan untuk menyerap produk pangan petani. Bantuan dari pemerintah tidak harus berupa subsidi kepada petani.


Itulah informasi mengenai ancaman bagi produksi pertanian. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat ya sobat PTD!

Baca juga: Antisipasi Perubahan Iklim Terhadap Hasil Perkebunan

Sumber: Katadata.com

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.