Sistem Tanam Paksa, Kilas Balik Mula Sejarah Perubahan Lingkungan di Indonesia

Jika kita telaah secara perlahan, kita tahu bahwa lahan hutan di Indonesia semakin lama semakin mengecil. Masalah ini disebabkan oleh perluasan industri ekstraktif yang sudah lama terjadi sejak Sistem Tanam Paksa (Culturstelsel) diberlakukan di era kolonial Hindia Belanda sejak 1830.

Beberapa ilmuwan, di antaranya Sony Mumbunan, ahli ekonomi lingkungan yang juga peneliti di World Resources Institute (WRI) Indonesia, mengajukan konsep transfer fiskal ekologis (ecological fiscal transfer/EFT) untuk mengatasi berkurangnya luasan hutan itu.

Baca Juga : Majukan Pertanian Lewat Pembangunan Jalan Sawah

Sebagai informasi, transfer fiskal berbasis ekologis adalah skema pendanaan yang diperoleh dari APBN untuk melindungi konservasi lingkungan di daerah-daerah.

Itu tentu saja hanya salah satu usulan di antara berbagai usulan lain yang bisa dilakukan pemerintah. Tapi pada initinya, krisis ekologi di Indonesia bukan hanya wacana di kalangan akademisi atau aktivis. Krisis ekologi sudah menjadi fakta sosial. Dan para ilmuwan itu berikhtiar untuk memecahkannya.

Bagaimana Proses Perubahan Ekologi Bermula?

Awal mula sejarah perubahan ekologi diawali setelah Perang Jawa berakhir di tahum 1830. Dikala kas pemerintah Hindia Belanda yang terkuras habis akhirnya pemerintah Belanda menugaskan Gubernur baru untuk menyelesaikannya.

Dibawah kepemimpinan Johannes van den Bosch, seorang Gubernur yang dipilih pemerintah Hindia Belanda oleh Raja William I, ia ditugaskan misi yang cukup sulit. Sebagai birokrat handal, ia bertugas untuk mengekploitasi Jawa untuk dieksploitasi dalam rangka membayar hutang yang menumpuk sebesar 3 milliar $USD jika dikalkulasikan dengan kurs sekarang.

Sistem Tanam Paksa
Ilustrasi : Sistem Tanam Paksa menjadi andalan bagi pemerintah kolonial Belanda pada saat itu untuk mendongkrak pelunasan hutang

Oleh kepemimpinan van den Bosch, ia memberlakukan kebijakan Tanam Paksa (Cultuurstelsel).

Sebagai informasi, Sistem Tanam Paksa merupakan sistem yang digunakan untuk menaikkan volume ekspor sebesar-besarnya dari wilayah koloni. Pemberlakuan sistem ini menjadikan gula, karet dan indigo menjadi andalan pada kala itu. Tak lupa kepengurusan eksploitasi sistem ini diurus langsung dibawah pemerintah kolonial.

Hasil Yang Diperoleh Dari Sistem Tanam Paksa

Dalam buku Sistem Tanam Paksa di Jawa (2003) oleh Robert van Neil melaporkan bahwa sejak 10 tahun penerapan, Sistem Tanam Paksa sangat sukses. Keberhasilan ini ditandai dengan meningkatnya ekspor Hindia Belanda sekitar 14%.

Baca Juga : Sertifikasi Benih Pertanian, Haruskah?

Keuntungan yang diperoleh pemerintah Hindia Belanda lambat laun mulai terisi. Hutang yang semakin lama semakin mengecil hingga lunas, sampai kas kerajaan pemerintah kolonial pun mulai terisi lagi.

Namun mirisnya, lewat perjanjian tertulis di atas kertas, sistem ini justru memberatkan para petani atau pemilik tanah. Kewajiban mereka untuk menyerahkan seperlima lahan mereka untuk ditanami tanaman impor. Bahkan ada juga yang dicekali sehingga ada yang sampai menyerahkan hingga hampir separuh total lahannya ke pemerintah kolonial.

Sistem Tanam Paksa
Ilustrasi : Peningkatan ekspor dari sistem tanam paksa membuat pemerintah kolonial mengalami keuntungan, namun tidak dengan masyarakat pribumi kala itu (Foto : Sibokpranoto)

Lewat hasil studi oleh James C. Scott dalam Moral Ekonomi Petani : Pergolakan dan Subsitensi di Asia Tenggara (1983) menyebutkan bahwa selama Sistem Tanam Paksa berlangsung, masyarakat Jawa menanggung penderitaan yang sangat perih. Ketidakleluasaan dalam menanam padi sudah diambil alih dengan tanaman ekspor.

Selain itu pekerjaan para petani juga semakin berat karena harus mengurus dua buah pekerjaan sekaligus. Yakni lahan sendiri dan lahan yang ditanami tanaman ekspor untuk pemerintah kolonial.

Dalam kondisi seperti itulah, sebagaimana dianalisis Clifford Geertz dalam Involusi Pertanian: Proses Perubahan Ekologi di Indonesia (1983), Tanam Paksa memicu perubahan ekologi besar-besaran di hampir seluruh Pulau Jawa. Sistem yang dicetuskan van den Bosch itu tidak mendorong terjadinya evolusi pertanian, tapi mengakibatkan apa disebut Geertz sebagai ‘involusi pertanian’.

Dilansir dari Tirto ID


Itulah dia sejarah sistem tanam paksa yang menjadi pendorong terjadinya perubahan ekologi sampai saat ini. Menurut kamu bagaimana?

.

.

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.