STOP Bakar Jerami di Sawah, Ini Alasannya

Data dari Badan Pusat Statistik (2014) menunjukkan bahwa produksi padi di Indonesia pada tahun 2014 sebesar 70,83 juta ton gabah kering giling, sedangkan produksi jerami padi yang dihasilkan mencapai 50% dari produksi gabah kering panen (sekitar 35,46 juta ton).

Pada 2017, luas lahan padi di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, yakni menjadi 15,81 hektar. Dengan lahan padi seluas itu, jerami yang dihasilkan tentunya semakin banyak.

Baca: Fakta tentang Padi (Beras) di Indonesia

Selama ini, banyak petani yang membakar jerami karena abu hasil bakaran jerami tersebut dirasa berguna untuk menyuburkan tanah. Selain itu, abu jerami juga dipercaya dapat membuat tanaman lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Padahal menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dari Kementerian Pertanian, pendapat tersebut merupakan pendapat yang salah.

Justru hasil pembakaran jerami dapat memberikan dampak yang buruk bagi tanaman. Selain itu, ada dampak-dampak lain yang juga diakibatkan oleh pembakaran jerami.

Berikut ulasannya:

Jerami yang dibakar dapat menghilangkan banyak kandungan zat hara dalam tanah

Jerami memiliki kandungan unsur hara yang cukup besar. Dobermann dan Fairhurst, dua peneliti yang pernah melakukan riset tentang jerami, mengatakan bahwa  jerami mengandung 0,5 – 0,8% N, 0,07 – 0,12 P2O5, 1,2 – 1,7% K2O dan 4 – 7% Si.

Oleh karena itu, jika jerami dijadikan sebagai kompos, ia akan memperbaiki sifat-sifat tanah, baik fisik, kimia, dan biologi tanah.

Sebaliknya, jika jerami dibakar, tingkat absorpsi hara tanah dan kadar K akan semakin meningkat. Hal ini tidak baik bagi tanah dan akan menurunkan produktivitas tanaman.

Membakar jerami justru membuat tanaman mudah terserang hama dan penyakit

Selama ini, banyak petani di Indonesia yang berpikiran bahwa abu yang dihasilkan dari pembakaran jerami dapat membuat tanaman terhindar dari hama dan penyakit.

Nyatanya, pemikiran ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lapangan. Hal ini disebabkan karena tidak ada keseimbangan dalam tanah, di mana abu jerami sama sekali tidak menyebabkan adanya penambahan unsur hara Kalium ke tanah yang menyebabkan tanaman malah mudah terkena hama dan penyakit.

Membakar jerami berpotensi mencemari lingkungan

dampak dari membakar jerami

Sejak duduk di Sekolah Dasar, kita mungkin sudh sering diingatkan untuk tidak membakar sampah, melainkan mendaur-ulangnya.

Hal ini dikarenakan pembakaran sampah dapat mencemari lingkungan, atau secara spesifik menyebabkan polusi udara. Hal yang sama juga terjadi jika kita memusnahkan jerami dengan cara membakarnya.

Lebih lanjut lagi, asap yang dihasilkan dari pembakaran jerami dapat membuat lapisan ozon semakin menipis. Hal inilah yang dapat mengakibatkan pemanasan global (global warming).

Baca: 3 Inspirasi Cantik dari Produk Pertanian

Oleh karena itu, sebagai manusia yang mencintai alam dan ingin bumi kita tetap lestari, sebaiknya hindarilah aktivitas-aktivitas pembakaran, termasuk pembakaran jerami.

Bumi sudah sangat berjasa karena ia memberikan sumber daya alam yang dapat kita manfaatkan untuk kehidupan sehari-hari.

Jerami dapat dimanfaatkan sebagai pupuk

Untuk mengurangi sampah plastik, selain dibakar, ada cara lain yang dapat kita lakukan, misalnya 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Cara ini memang lebih ramah lingkungan. Hal yang sama dapat dilakukan dalam pengelolaan jerami. Selain dibakar, kita dapat mengurangi jerami dengan memanfaatkannya sebagai kompos organik.

Banyak petani yang sudah membuktikan bahwa pemberian kompos jerami pada tanaman mampu meningkatkan hasil panen. Hal ini dikarenakan kompok jerami dapat menambah hara pada tanah.

Berdasarkan hasil uji lab yang dilakukan oleh Balai Pertanian, unsur hara dari kompos jerami lebih banyak disbanding pupuk kimia. Selain itu, kompos jerami juga dapat membuat tanah subur, mengurai tanah hingga menjadi gembur, dan membuat nutrisi dalam tanah dapat diserap dengan mudah oleh tanaman.

Baca: Cara Deteksi Tanah Masam dengan Melastona Malabathricum

Cara Pembuatan Kompos Jerami

Cara pembuatan kompos jerami ini juga tidak sulit.

  • Pertama-tama, kita harus menyiapkan jerami. Kemudian, buatlah lubang berukuran 1,5 m x 1m x 1m. Setelah itu, masukkan jerami dengan ketebalan kita-kira 10 cm ke dalam lubang yang telah dibuat.
  • Tambahkan air kira-kira satu ember ke permukaan jerami. Tambahkan juga mikroba dekomposer. Dalam hal ini, kita dapat memakai Mol atau EM4 Cair.
  • Terakhir, tutup jerami dengan plastik mulsa atau jenis plastik lain yang berwarna gelap. Untuk hasil yang maksimal, kita bisa harus menunggu proses pengomposan tersebut hingga tiga bulan agar kompos tersebut cukup matang untuk digunakan.

Penulis: Hutri Cika Berutu 


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

3 thoughts on “STOP Bakar Jerami di Sawah, Ini Alasannya

  1. Jika data yang disajikan tersebut benar…., produksi gabah kering giling petani Indonesia mencapai 70,83 ton/ tahun…,
    Artinya, cadangan konsumsi beras di Indonesia masih sangat cukup, dengan kata lain, ketersediaan cadangan beras sebanyak 262.333/kg per-Jiwa dibagi 365 hari dalam setahun sama dengan 0.7187kg konsumsi/Jiwa/hari. Kalkulasi tersebut dengan asumsi rakyat Indonesia sebanyak 270,000,000 jiwa.
    Pertanyaannya adalah :
    Kenapa pemerintah melalyi kementerian perdagangan masih import beras dari Vietnam/Thailand…??…

    1. Dari 0,7sekian perhari di konsumsi per manusia, penggunaan beras bukan saja untuk manusia tapi industri pangan baik dalam bentuk siap makan maupun setengah jadi. Belum lagi mungkin untuk campuran pakan ternak tertentu… kira kira begitu kang karena masih import

  2. Lubang galian di tanah ?
    Bukan kah nanti air siraman bakal terserap ke tanah shg kompos mengering dan berakibat matinya mikro organik tsb
    Mohon pencerahannya
    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.