Daun Indigofera Bisa Dijadikan Sebagai Pewarna Tekstil Alami

Daun indigofera, yang biasanya digunakan sebagai pakan ternak di Indonesia, ternyata memiliki prospek yang sangat baik untuk dijadikan sebagai pewarna tekstil alami. Terlebih lagi, batik yang merupakan warisan budaya nusantara, sangat cocok untuk diwarnai dengan daun indigofera karena tidak mudah luntur.

Produksi batik dengan menggunakan pewarna alami memiliki nilai yang lebih tinggi, merupakan suatu inovasi yang baru dan lebih ramah lingkungan. Produksi daun indigofera kering di Indonesia mencapai 30 ton per hektar per tahun (Tarin et al 2010).

Pigmen Biru Alami

Pewarna alami dari daun indigofera ini akan menghasilkan warna biru. Pigmen biru alami sangat umum dijumpai di kingdom plantae, terutama dalam bentuk antosianin. Pigmen ini dapat menghasilkan warna merah, ungu, dan biru seperti yang dapat dijumpai di kulit buah anggur, elderberry, blueberry, dan daun kubis merah.

Namun, sayangnya, pigmen yang ditemukan pada tanaman-tanaman tersebut tidak stabil dan tidak cocok untuk dijadikan pewarna tekstil. Anehnya, satu-satunya pewarna biru alami yang tahan lama adalah indigofera. Namun, warna ini bukanlah warna tumbuhan alami dan harus diproduksi dengan memfermentasi tanaman yang mengandung bahan kimia prekursor yang sesuai.

Meskipun prosesnya terlihat sederhana, dalam prakteknya, sangat sulit untuk menghasilkan pewarna biru tua. Akibatnya, hal ini menjadi keahlian khusus bagi banyak masyarakat di Asia Tengah sampai Indonesia. Saat ini, di negara-negara seperti Indonesia, hanya ada beberapa produsen pewarna alami indigofera.

Kain yang diwarnai daun indigofera
maiwahandprints.blogspot.com

Baca: Mengenal Daun Moringga dari Ir. Ai Dudi Krisnadi

Asal dan Penyebaran Indigofera di Indonesia

Kata indigo berasal dari bahasa Yunani ‘indikon’ atau dalam bahasa Latin ‘indicum’ yang berarti India atau dari India, mengacu pada sumber indigofera zaman Yunani-Roma. Tumbuhan indigofera ini kemudian tersebar luas di daerah tropis, termasuk Indonesia.

Pada abad ke-18, VOC Belanda memerintahkan pemerintah di Jawa Tengah dan Timor untuk menanam indigofera dengan bibit yang disediakan oleh VOC. Pada tahun 1830, Gubernur Hindia Belanda, Johannes Van Den Bosch menerapkan sistem tanam baru ‘Cultuurstelsel’ yang terinspirasi dari sistem tanam kolonial Inggris.

Perkebunan baru dibuka di wilayah seperti Cirebon dan Pekalongan di Pulau Jawa bagian utara untuk ditanam indigofera, tebu, dan kopi untuk diekspor. Sebagai bagian dari inisiatif ini, Belanda juga memperkenalkan indigofera Natal dan Guatemala di Jawa. I. Guatimalensis diperkenalkan oleh Belanda pada abad ke-19 dan masih ditanam di daerah Kerek, kecamatan di Tuban, sampai hari ini.

Baca: 5 Jenis Tanaman Hortikultura

Proses Pewarnaan Alami Indigofera

Untuk dapat memanfaatkan indigofera sebagai pewarna alami, terdapat beberapa tahap, yaitu proses pengambilan zat warna, pembuatan larutan pewarna, dan proses pewarnaan.

Proses pengambilan warna

  1. Daun indigofera direndam dalam air dingin selama 1 atau 2 hari (berikan pemberat agar daun tetap terendam).
    Setelah kurang lebih 10 jam, akan terjadi proses peragian yang ditandai dengan munculnya gelembung-gelembung gas dan berwarna biru. Proses ini akan selesai saat tidak lagi muncul gelembung. Oleh sebab itu, memerlukan waktu 1 sampai 2 hari. Untuk 1 kg daun indigofera, digunakan 5 liter air.
  2. Kemudian tiriskan dan peras, airnya disaring.
  3. Lakukan aerasi pada larutan selama setengah jam.
  4. Kemudian tambahkan +/- 30 gram bubuk kapur dan larutkan, kemudian lanjutkan aerasi selama setengah jam.
  5. Lakukan pengetesan untuk mengetahui apakah indigo sudah mengalami pengendapan.
    Pengetesan ini dilakukan dengan mengambil sedikit cairan yang sudah berwarna coklat dan amati apakah nampak butiran-butiran yang bergerak turun. Jika sudah, maka biarkan cairan selama semalam untuk menyempurnakan pengendapan. Buang cairan putih yang ada diatasnya untuk mendapatkan pasta indigo.

Pembuatan larutan pewarna (fermentasi):

  1. Pembuatan larutan pewarna dilakukan dengan mereduksi pigmen indigo menggunakan 7,5 gram hidrosulfat dan 0,75 kg gula jawa.
  2. Proses ini berlangsung selama +/-24 jam.
    Tanda bahwa proses ini telah selesai adalah dengan berubahnya larutan indigo dari warna biru menjadi warna hijau.
  3. Untuk 1 kg pasta indigo, dilarutkan ke dalam 10 liter air.

Proses pewarnaan kain dengan daun indigofera
pinterest.co.uk

Proses Pewarnaan :

  1. Kain dicelup selama 10-15 menit.
    Untuk frekuensi pencelupan, dilakukan sebanyak 3 kali.
  2. Kemudian kain dicuci dengan menggunakan air bersih dan diangin-anginkan.

Baca: Cara Basmi Hama Minim Biaya dan Pestisida

Prospek Budidaya Indigofera untuk Pewarna Tekstil

Tanaman indigofera dapat dengan mudah dibudidayakan. Tanaman ini dapat tumbuh subur pada ketinggian 0-1650 mdpl dan di tanah yang mengandung banyak bahan organik. Sebagai bahan baku pewarna alami, indigofera ditanam di dataran tinggi.

Dilansir dari kontan.co.id, harga pewarna alami dari indigofera ini dapat mencapai Rp 700.000,- per kg dan dapat menghasilkan omzet 70 juta per bulan. Suatu bisnis yang tentu sangat menggiurkan jika ditekuni, apalagi di negara kita yang merupakan rumah bagi produksi batik.

Namun, sayangnya, di Indonesia, indigofera hanya dibiarkan atau dijadikan sebagai pakan ternak. Selama ini, peminat pewarna alami ini rata-rata berasal dari luar negeri seperti Jepang dan Korea.

Referensi : American Institue of Physics, asiantextilestudies.com, kontan.co.id

Sumber gambar utama: green-ingredients.com

Penulis: Nevy Widya Pangestika
Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.