ddigitalisasi pasar tradisonal

Mau tau informasi mengenai digitalisasi pasar tradisonal? Berikut Pak Tani Digital akan membagikan informasi mengenai hal tersebut. Simak ulasannya!

Digitalisasi Pasar Tradisional

apa itu QR code?

digitalisasi pasar tradisonal
inews.id

Baca juga: Waspadai Virus Corona, Apakah Harus Hentikan Impor Hewan dari China?

Digitalisasi pembayaran nontunai (cashless) dilakukan dengan menggunakan QR code yaitu merupakan bentuk evolusi dari kode batang dari satu dimensi menjadi dua dimensi.

QR code ini menyerupai kode matriks yang dikembangkan oleh Denso Wave, dari divisi Denso Corporation yang merupakan sebuah perusahaan Jepang yang dipublikasikan tahun 1994.

Keunggulan QR code dibandingkan dengan kode batang adalah fungsinya yang lebih mudah dibaca oleh pemindai QR, Jika kode batang hanya menyimpan data secara horizontal, maka QR code mampu menyimpan data baik secara horizontal maupun vertikal.

QR code berfungsi seperti hipertaut fisik yang mampu menyimpan alamat serta URL, nomor telepon, teks, kartu nama, dan masih banyak lagi. Dengan kata lain, QR code merupakan penghubung secara cepat konten daring dan juga konten luring.

Kehadiran kode ini memungkinkan banyak orang berinteraksi dengan media yang ditempeli melalui pemindai secara efektif dan efisien.

Maka tidak mengherankan apabila QR code ini banyak diaplikasikan untuk beragam kepentingan yaitu untuk kepentingan komersia, umum dan pendidikan.

Digitalisasi Terhadap Pasar Tradisonal

digitalisasi pasar tradisonal
telko.id

Baca juga: Jagung Pelangi yang Baik Untuk Kesehatan dari Cinajur

Kementerian Perdagangan berencana merevitalisasi pasar tradisional dari sisi non-fisik. Salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan mendorong cashless di pasar tradisional.

Bertujuan untuk menyetarakan pasar tradisional agar bisa bersaing dengan pasar modern. Langkah ini juga diharapkan dapat melindungi pasar tradisional sebagai sumber perekonomian masyarakat.

PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) atau LinkAja terus berupaya meningkatkan inklusi keuangan di seluruh Indonesia. Salah satunya dengan menerapkan gerakan nontunai di pasar, untuk mendorong ekonomi kerakyatan dan daya saing pasar sebagai pusat perekonomian daerah.

Pada 2020 ini, LinkAja menargetkan digitalisasi 445 pasar di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini sesuai dengan program prioritas LinkAja dalam memperluas akses layanan keuangan digital untuk segmen underbanked dan unbanked di berbagai daerah suburban di Indonesia.

Tidak hanya memberi kemudahan berarti bagi para pedagang dalam transaksi harian, kecepatan transaksi dengan LinkAja juga memberi kenyamanan pada pelanggan.

Riwayat transaksi yang terekam secara digital, hingga faktor risiko keamanan yang berkurang karena tidak perlu lagi membawa dan menyimpan uang tunai dalam jumlah besar.

Dengan menggunakan LinkAja, para pembeli dapat dengan mudah bertransaksi hanya dengan dua langkah mudah, yaitu memindai QR Code yang tersedia, lalu memasukkan nominal harga pembelanjaan, pembayaran pun sukses dilakukan.

Sebagai informasi, berbagai pasar tradisional di kota-kota lain di Indonesia yang telah dapat menggunakan LinkAja sebagai solusi pembayaran nontunai antara lain adalah Pasar Beringharjo Yogyakarta, Pasar Mayestik DKI Jakarta, Pasar Oro-oro Dowo Malang, Pasar Buah Berastagi, dan beberapa pasar lainnya di Jawa dan Sumatra.


itulah informasi mengenai digitalisasi pasar tradisional. Semoga informasi yang diberikan dapa bermanfaat ya sobat PTD!

Baca juga: Persedian Gula Menipis, Apakah Harus Impor Gula ?

Sumber: Detik.com

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.