Irfan Rahadian Sudiyana, Petani Kopi Sekaligus Dosen

Menuntut ilmu sampai ke negeri Jerman, Irfan Rahadian Sudiyana, S.P., M.Si., M.Sc., memilih menjadi petani kopi sekaligus dosen di negeri sendiri.

Irfan Rahadian Sudiyana menyandang 2 gelar master dari Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Gottingen University di Jerman. Meski bergelar akademik tinggi, Irfan tetap bangga menjadi petani kopi. Dari ladang dan warung kopi Kiwari Farmers, Irfan meraup omzet rata-rata Rp 50 juta per bulan.

Warung kopinya menyediakan aneka minuman kopi dengan berbagai teknik penyajian, seperti pour over, espresso, dan aeropress. Saat ini, bisnis kopi Irfan semakin berkembang hingga membangun cabang warung kopi baru dengan skala yang lebih luas lagi. Irfan mengunjungi warung kopinya di Desa Padasuka, Bandung setiap akhir pekan. Harap maklum, karena kini, ia juga menjadi dosen di Universitas Padjadjaran.

Irfan mengontrol kebun kopi miliknya di Dusun Cikawari, Desa Mekarmanik, Bandung. Kebunnya berlokasi di kaki Gunung Manglayang, sekitar 20 menit dari lokasi warung kopi bila ditempuh dengan menggunakan sepeda motor.

Di sanalah, Irfan memperkebunkan kopi di lahan 2,5 hektar berpopulasi 6.250 pohon kopi varietas Arabika Sigarar Utang dan Linie S. Dari jumlah populasi itu, Irfan memanen rata-rata 100 kg buah kopi segar/ceri kopi per hari. Buah segar hasil panen itu lalu ia rendam dalam air bersih. “Buah yang mengembang diambil karena kualitasnya jelek, itu berarti bijinya kempis,” katanya.

Baca: Karakteristik Kopi Robusta yang Perlu Anda Ketahui

Selanjutnya, Irfan mengolah hasil panennya menjadi kopi luwak. Ia memberikan buah kopi segar kepada 14 luwak yang menghuni kandang. Ukuran setiap kandang 3 m x 2 m. Setiap luwak mendapatkan jatah buah kopi segar segenggam tangan dewasa. Waktu pemberian buah biasanya pada sore hari bersamaan dengan jadwal pemberian pakan. Menurut Irfan, buah kopi segar adalah pakan “pencuci mulut” bagi luwak.

Sebagian utama, ia memberikan 1 kg daging cincang untuk seekor luwak per hari dan pisang, “Sebetulnya, luwak termasuk hewan karnivora, di alam luwak juga menggemari pisang. Oleh sebab itu, pakan yang kami berikan menyesuaikan dengan kebiasaan alami luwak di alam,” kata Irfan. Meski dikurung di dalam kandang, luwak mendapatkan fasilitas yang nyaman.

Tiga jam setelah makan, beberapa luwak biasanya mengeluarkan feses. Dalam feses luwak itu, buah kopi tak lagi berbalut kulit buah atau disebut gabah. Ia mencuci biji kopi hingga benar-benar bersih dan mengupas kulit buah yang tak termakan oleh luwak dengan mesin pengupas. Setelah itu, ia menjemurnya di ruang pengeringan. Lama pengeringan tergantung pada intensitas cahaya matahari.

Irfan lalu menggiling gabah kopi menggunakan mesin sehingga menghasilkan green bean atau biji kopi kering. Untuk memperoleh 1 kg green bean, diperlukan 10 kg buah kopi segar. Sejatinya, Irfan bisa menjual kopi kering/green bean. Pemilik warung kopi membeli green bean untuk dipanggang sendiri. “Mereka membeli green bean karena masing-masing warung kopi punya standar pemanggangan biji yang berbeda,” ujarnya.

Kini, permintaan green bean justru berkurang. Mereka lebih suka membeli biji kopi sangrai. Tren itu justru menguntungkan karena margin Irfan lebih tinggi. Harga biji kopi sangrai termurah adalah Rp 235.000 per kg. Untuk memperoleh 1 kg biji kopi sangrai, diperlukan 1,2-1,3 kg green bean atau susut bobot 20%. Bila harga jual green bean Rp 65.000 per kg, maka modal bahan baku yang dikeluarkan untuk menghasilkan 1 kg kopi panggang hanya Rp 78.000-Rp 84.500.

Baca juga: Kopi Nasional Kian Dicintai Lokal dan Internasional, Peluang & Tantangan

Menurut Irfan, sebenarnya yang merintis budidaya kopi adalah ibunya. Pada saat ibunya membeli lahan di kaki Gunung Manglayang, lahan itu semula adalah kebun sayur. Namun, kondisi lahan di sana mengkhawatirkan. “Lahannya miring dan tandus. Walau ditanami sayuran, lahan itu rawan erosi karena perakaran sayuran yang dangkal sehingga tidak kuat mencekam tanah,” tutur ibunya.

Untuk mencegah erosi, ia menanami lahan itu dengan 500 tanaman kopi. Ia memilih kopi karena perakarannya lebih kuat mencekam tanah. Selain itu, ia juga menanam komoditas lain, seperti kayu manis dan avokad sebagai tanaman naungan.

Saat kopi mulai berproduksi pada tahun 2013, ia langsung menjual buah kopi segar kepada para tengkulak. Ia bahkan pernah menjual kopi di bawah harga pasar, yakni hanya Rp 3.500 per kg. Padahal, harga pasarnya adalah Rp 8.000 per kg.

Irfan menyayangkan hasil panen kopi yang ditanam ibunya yang dihargai sangat murah. Padahal, kebun kopi yang dirintis sang Ibu bisa lebih berkembang dan menguntungkan.

Usai menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Gottingen University di Jerman pada tahun 2014, Irfan pun turun tangan mengelola kebun kopi. Ia secara bertahap memperluas areal tanam kopi hingga akhirnya mencapai 2,3 hektar. Irfan juga bekerja sama dengan masyarakat sekitar kebun untuk mengembangkan kopi. Ia membagikan 10.000 bibit kopi secara gratis kepada warga yang berminat menanam kopi.

Irfan Rahadian Sudiyana

“Kami memberikan pengetahuan bahwa selain menghasilkan, kopi juga dapat mencegah erosi dan menjaga sumber air,” katanya. Irfan lalu mengajak kedua teman SMA-nya, yaitu Muhammad Fajrur dan Andry Yanuar, menghimpun warga yang menanam kopi dalam kelompok tani bernama Kiwari Farmers. Dalam bahasa Sunda, kata Kiwari adalah masa kini. Dengan nama itu, tiga sekawan ini ingin menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang petani dan pembisnis harus mengikuti perkembangan zaman.

Irfan membeli hasil panen dari para anggota kelompok tani dengan harga yang lebih tinggi daripada harga tengkulak. “Kami ingin menyejahterakan petani,” tuturnya. Meski begitu, ia tak khawatir labanya berkurang. Sebab, ia memperoleh nilai tambah lebih tinggi dengan mengelola bisnis kopi dari hulu ke hilir.

Irfan berencana membuka kebunnya sebagai kawasan agrowisata. “Nanti para pengunjung bisa berkeliling kebun sambil belajar memetik kopi, proses pengelolahan, hingga penyajian kopi,” kata Irfan.

Itulah kisah Irfan Rahadian Sudiyana sebagai seorang lulusan Pascasarjana yang lebih memilih menjadi petani kopi sekaligus dosen di Indonesia.

Klik & Baca: Produksi Kopi Turun dalam 5 Tahun Terakhir, Apa yang Harus Dilakukan?

Penulis: Yusril Wicaksana


Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.