I Kadek Agus Indrawan, Pemuda yang Bangga Jadi Petani

Sudah kenal dengan seorang pemuda yang bernama I Kadek Agus Indrawan?

Jika berbicara tentang pertanian di Indonesia, beragam stigma negatif bermunculan, mulai dari dianggap tidak keren, kotor, panas, dan tidak menghasilkan banyak uang. Profesi yang satu ini memang kurang menarik perhatian anak muda di Indonesia. Banyak anak muda di Indonesia yang merasa bahwa menjadi petani tidak memerlukan pendidikan tinggi, semua orang bisa bertani.

Namun, jangan salah, dengan penguasaan ilmu pertanian yang lebih tinggi, pasti akan mendapatkan hasil yang lebih tinggi pula. Hal ini yang membuat I Kadek Agus Indrawan memilih untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian. Saat ini, pemuda yang akrab dipanggil Agus ini tengah menempuh pendidikannya di Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Udayana.

Pemuda 21 tahun ini memang berasal dari keluarga petani yang bermukim di dekat Danau Tamblingan, Kabupaten Singaraja. Mata pencaharian penduduk daerah ini memang rata-rata sebagai petani, tidak seperti Bali selatan yang cenderung ke sektor pariwisata. Karena terletak di dataran tinggi, komoditas yang ditanam di daerah ini adalah tanaman hortikultura dan perkebunan.

Baca juga: Feri Agus Yadi, Petani Muda Pamekasan yang Patut Diteladani

Kubis Hijau Budidaya I Kadek Agus Indrawan
Kubis Hijau Budidaya Agus

Agus mengaku sudah terbiasa membantu orang tuanya di sawah sejak kecil. Sampai saat ini pun, Agus tetap membantu orang tuanya karena jarak kampus dan rumahnya tidak terlalu jauh sehingga dapat pulang kampung seminggu sekali.

Dengan melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian, Agus berharap dapat membantu meningkatkan kualitas produksi pertanian keluarganya. Komoditas yang ditanam antara lain kubis, brokoli, tomat, kentang, wortel, ‘marygold’, cabai, dan kopi. Omzet usaha ini mencapai 15-40 juta per panen, sementara utuk pemasarannya, saat ini melalui pengepul dan supplier.

Setelah mempelajari pertanian lebih dalam, kini Agus semakin memperhatikan syarat tumbuh setiap tanaman, memperhatikan cara mengaplikasikan pestisida dengan tepat, dan rutin melakukan rotasi tanaman. Agus sadar bahwa ilmu yang didapatkannya dari kuliah pertanian memang sangat membantu dan mempengaruhi hasilnya.

Sementara, saat ini, seperti yang kita ketahui, petani di Indonesia rata-rata sudah tua dan tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Rata-rata petani hanya bertani karena orang tuanya petani dan bertani berdasarkan pengalaman dan ‘trial and error’. Hal tersebut yang akhirnya menggerakkan Agus untuk berkuliah di pertanian karena untuk melakukan perubahan, tentu harus dimulai dari diri sendiri.

Selain itu, banyak petani ‘part time’ yang berarti mereka hanya menjadikan pertanian sebagai sampingan, bukannya bisnis. Hal itu sudah pasti hasilnya tidak maksimal karena waktu yang dicurahkan untuk menggarapnya saja juga tidak maksimal.

Marigold Budidaya I Kadek Agus Indrawan
Marigold Budidaya Agus

Secara pribadi, Agus berharap agar ke depannya dapat menambah komoditas yang ditanam dan dapat mengekspor produknya. Namun, Agus juga menyadari bahwa untuk mengekspor produk pertanian memang tergolong sulit karena setiap negara memiliki aturan masing-masing, seperti jumlah residu pestisida, harus bebas penyakit, membutuhkan proses karantina, dan produk pertanian termasuk barang yang cepat membusuk sehingga proses pengiriman juga harus cepat.

Baca: 4 Langkah Tata Cara Ekspor untuk Pemula

Tentu Agus berharap agar pemerintah lebih memberikan sosialisasi mengenai hal ini karena sebagian besar petani tidak menerapkan GAP (Good Agricultural Practices), jumlah residu pestisida pada produk pertanian Indonesia masih sangat tinggi, petani bahkan kurang peduli tentang bagaimana cara mengaplikasikan pestisida dengan benar, ‘trend organic farming’ juga belum begitu ‘booming’ di Indonesia sehingga sangat sulit bagi produk pertanian Indonesia untuk diekspor.

Secara umum, Agus berharap agar anak muda di Indonesia tidak malu untuk terjun ke dunia pertanian, karena Agus sendiri membuktikan bahwa pertanian sebenarnya adalah bisnis jika kita menjadikannya bisnis. Kita tidak bisa bekerja di suatu bidang secara ‘part time’ namun mengharapkan hasil maksimal.

Itulah kisah I Kadek Agus Indrawan sebagai pemuda yang bangga menjadi petani.

Penulis: Nevy Widya Pangestika
Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana


Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.