Pandangan Seorang Gadis Jerman Terhadap Isu Pertanian Indonesia

Indonesia merupakan negara agraris, yang berarti sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani. Sebagai warga Indonesia, kita pasti sudah paham seperti apa masalah pertanian di Indonesia. Banyaknya petani Indonesia yang berusia di atas 50 tahun, terjadinya alih fungsi lahan, teknologi yang kurang memadai, dan sebagainya.

Pertanian menjadi objek yang sangat seksi untuk dibicarakan, terlebih pada saat-saat pemilu karena banyak calon pemimpin yang selalu berkampanye akan mensejahterakan petani.

Namun, bagaimana orang asing memandang isu-isu pertanian di Indonesia? Simak uraian berikut!

Paula Dietrich, Seorang Gadis Jerman

Paula Dietrich, seorang gadis Jerman berusia 24 tahun yang saat ini sedang menjadi volunteer di ROLE Foundation yang berlokasi di Nusa Dua, Bali ini menjelaskan seperti apa sih gambaran umum pertanian di Indonesia dan bagaimana jika dibandingkan dengan negaranya?

Pertanian Skala Kecil

Menurut Paula, pertanian di Indonesia termasuk pertanian skala kecil karena memang benar bahwa kepemilikan lahan pertanian di Indonesia oleh petani tergolong rendah. Hal ini sama dengan di negaranya karena di Jerman, biasanya petani mempunyai luas lahan yang tergolong skala kecil, sementara untuk skala besar dimiliki oleh perusahaan.

Trend Organic Farming

Saat ini, Jerman sedang mengalami tren organic farming, yang pada dasarnya terjadi dimana saja, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, tren ini juga terus berkembang karena semakin sadarnya masyarakat akan keberlanjutan lingkungan dan kesehatan. Bahkan saat ini, di Bali, sudah terdapat BOA (Bali Organic Association).

Monokultur dan Rotasi Tanaman

Paula berpendapat bahwa masih banyak petani Indonesia yang menerapkan sistem tanam monokultur. Sedangkan di Jerman, kebanyakan petani menanam secara polikultur dan hanya sebagian kecil yang menanam secara monokultur.

Menanam dengan sistem monokultur dapat menyebabkan terjadinya ledakan hama dan kurang menguntungkan secara ekonomi. Dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman, tidak akan terjadi kelebihan jumlah komoditas tertentu dibandingkan dengan permintaan yang menyebabkan harganya menjadi murah.

Baca: Meningkatkan Pendapatan Petani dengan Pola Tanam Polikultur

Selain itu, baik di Indonesia maupun di Jerman, petani telah menerapkan sistem rotasi tanam. Sistem pergantian tanaman ini berguna untuk memutus rantai hama dan penyakit, meningkatkan kesuburan tanah, dan meningkatkan struktur tanah. Sistem rotasi tanaman juga sangat direkomendasikan pada sistem pertanian organik.

Kompensasi untuk Petani

Di Jerman, jika terjadi gagal panen karena cuaca, pemerintah akan memberikan kompensasi kepada petani sebesar kerugian yang mereka alami. Jadi, petani mendapat jaminan dan tetap mendapat uang meskipun gagal panen karena cuaca.

Hal ini berbeda dengan di Indonesia dimana petani tidak mendapatkan jaminan dari pemerintah. Paula berharap agar pemerintah Indonesia dapat memberikan regulasi yang baik bagi petani Indonesia, baik pemberian kompensasi maupun mengenai jalur distribusi. Hal ini disebabkan oleh petani yang mengeluarkan input yang sering tidak sesuai dengan outputnya.

Impor Pangan

Paula mengaku kaget bahwa Indonesia masih mengimpor beras karena komoditas tersebut merupakan makanan pokok Indonesia. Sementara di Jerman, kentang dan gandum merupakan produksi terbesarnya sebagai bahan makanan pokok. Jerman banyak mengimpor tomat, paprika, dan mentimun dari Spanyol.

Baca: Indonesia Krisis Padi atau Krisis Petani?

Sudah lumayan banyak penggunaan rumah kaca di Jerman dan biasanya digunakan untuk komoditas seperti stroberi.

Image Petani

Seorang Petani Jerman
Sumber: deutschland.de

Paula juga menyadari bahwa petani di Indonesia kebanyakan merupakan orang tua yang sudah tidak produktif lagi usianya. Hal ini berbeda dengan di Jerman. Petani di Jerman berasal dari semua usia serta tidak memiliki stigma yang negatif, dan image petani yang kotor, kepanasan, atau miskin.

Bekerja sebagai petani dianggap sebagai pekerjaan yang netral. Jadi, alangkah baiknya jika kita mulai menghapus pandangan-pandangan negatif tersebut terhadap petani, karena mereka-lah orang yang paling berjasa dalam ketersediaan pangan di negeri ini!

Baca: Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia

Penulis: Nevy Widya Pangestika
Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.