Nasib Industri Tembakau Indonesia di Masa Depan

Dengan konsumsi rokok domestik yang tinggi, terlebih di kalangan pria, tembakau menjadi salah satu industri terbesar di Indonesia. Diperkirakan 65% pria Indonesia adalah perokok. Di kalangan wanita, jumlahnya jauh lebih kecil, diperkirakan hanya sekitar 3%. Hal ini dikarenakan wanita yang merokok kurang diterima secara sosial di Indonesia.

Dua perusahaan dalam 10 besar perusahaan di Indonesia (terdaftar dalam kapitalisasi pasar) yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia adalah produsen rokok, sangat jelas menggambarkan besarnya industri tembakau di Indonesia.

Indonesia adalah pasar rokok terbesar kedua di Asia setelah China. Dari jumlah penduduk Indonesia yang merupakan terpadat keempat di dunia, sekitar 2/3 pria di Indonesia adalah perokok, yang berarti tembakau memiliki pasar yang besar di Indonesia. Indonesia menjadi negara dengan konsumen rokok terbesar ketiga di dunia setelah China dan Rusia. Jumlah perokok dewasa berjumlah 53,7 juta jiwa dan anak muda berjumlah 2,6 juta jiwa.

Penelitian WHO (World Health Organization) mengindikasikan bahwa anak muda di Indonesia mulai merokok pada usia yang semakin muda dari tahun ke tahun. Produsen rokok tanah air juga menargetkan pasar kalangan anak muda, karena anak muda merupakan sumber pendapatan pada masa mendatang. Selain itu, juga terdapat banyak perokok pasif di Indonesia.

Faktor lain yang menyebabkan banyak perokok di Indonesia adalah rokok dapat dengan mudah ditemukan di seluruh Indonesia dan harga rokok di Indonesia termasuk yang paling murah di dunia.

Bahan baku yang digunakan untuk produksi rokok umumnya berasal dari dalam negeri, sehingga dampak volatilitas valuta asing terbatas pada harga industri ini. Dengan sebagian besar bahan baku yang berasal dari dalam negeri dan dikombinasikan dengan tenaga kerja yang murah di Indonesia, membuat biaya produksi industri tembakau tergolong rendah. Hal ini membuat kita sering menjumpai orang Indonesia dengan ekonomi pas-pasan yang merokok.

Produksi Tembakau Indonesia

Produksi Tembakau di Indonesia
Sumber: liputan6.com

Menurut APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia), produksi tembakau di Indonesia semakin meningkat sejak tahun 2016. Pada tahun 2017, produksi tembakau mencapai 190.000 ton. Akhir tahun ini, diprediksi produksi tembakau mencapai 200.000 ton. Peningkatan ini disebabkan oleh cuaca yang mendukung. Selain itu, untuk mendorong peningkatan produksi tembakau, petani dan perusahaan harusnya bekerja sama untuk menghasilkan bibit tembakau yang unggul.

Baca: Tidak Disangka, Ternyata Tembakau Memiliki Dampak Positif

Selama ini, faktor yang menghambat petani dalam memproduksi tembakau adalah masalah cuaca yang tidak mendukung dan bibit yang kurang baik. Petani belum mampu membeli bibit yang berkualitas karena harganya yang mahal.

Melalui kerja sama dengan perusahaan besar, diharapkan petani tembakau dapat difasilitasi dengan input yang diperlukan termasuk bibit. Saat panen, perusahaan tersebut dapat menyerap bahan baku langsung dari petani, karena selama ini, perusahaan besar membeli tembakau dari pedagang. Dengan kata lain, terlalu banyak distribusi sehingga petani kurang mendapatkan keuntungan.

Baca: Cara Membuat dan Mengaplikasikan Pestisida Tembakau

Sikap Pemerintah Indonesia Terhadap Industri Tembakau

Pemerintah Indonesia menghadapi dilema untuk membatasi konsumsi tembakau masyarakat karena alasan kesehatan atau kehilangan pajak penghasilan dari industri tembakau. Untuk itu, pemerintah mengambil jalan tengah dengan menerapkan langkah-langkah mencegah merokok di satu sisi dan belum meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control).

Mandat FCTC ini memberikan batasan yang ketat terhadap iklan tembakau, produksi, penjualan, distribusi, dan perpajakan untuk melindungi generasi sekarang dan yang akan datang dari dampak negatif yang ditimbulkan rokok, baik itu secara kesehatan maupun ekonomi. Dan tentunya, perusahaan tembakau di Indonesia keberatan dengan ini.

Peringatan Bahaya Merokok pada Kemasan Rokok
Sumber: tribunnews.com

Namun, pemerintah juga telah menerapkan berbagai langkah selama beberapa tahun terakhir yang bertujuan untuk membatasi konsumsi rokok di Indonesia. Misalnya, ruang lingkup untuk iklan rokok telah dibatasi (tetapi tidak dilarang), kewajiban memberikan peringatan grafis pada kemasan rokok, dan menaikkan cukai pada produk-produk yang terkait dengan tembakau.

Baca: Prospek Produksi Kakao di Indonesia

Sumber gambar utama:merdeka.com
Referensi: Indonesia Investments, CNBC Indonesia

Penulis: Nevy Widya Pangestika
Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.