Kisah Agus Suprapto yang Sukses Berbisnis & Mengekspor Jeruk

Inspirasi

Written by:

Banyuwangi dikenal sebagai lumbung jeruk di Jawa Timur setelah padi. Bagi petani jeruk, berkebun buah rasa manis itu cukup menjanjikan. Gudang berukuran luas itu penuh dengan kotak yang terbuat dari kayu yang berisi buah jeruk. Di dalamnya, terdapat buah jeruk yang sudah dipilah-pilah, ada yang berukuran super, sedang, dan kecil. Buah-buah tersebut siap dikirim ke luar kota Banyuwangi. Puluhan orang sibuk mengepak buah jeruk yang selanjutnya akan diangkut truk. Itulah kesibukan yang setiap hari dilakukan oleh Agus Suprapto di Dusun Kaliboyo, Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi.

Pria berusia 37 tahun ini sudah bertahun-tahun menekuni bisnis jeruk manis. Selain sebagai pengepul, Agus juga memiliki lahan berhektar-hektar. Setiap hari, kesibukan bos UD Amalia Buah itu cukup padat. Dalam sehari, Agus mampu mengirim 4 sampai 5 truk Colt Diesel. Satu truk berisi 6 ton jeruk. Jika diasumsikan harga satu kilo jeruk dari petani Rp 7.000, maka terdapat nilai Rp 42 juta di dalam satu truk. Jika menggunakan 5 truk, sekali transaksi bisa mencapai Rp 210 juta dalam satu hari.

Bermula dari modal yang pas-pasan

Agus Suprapto menekuni usaha ini sejak tahun 1999. Setelah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja, dengan modal yang pas-pasan sekitar Rp 500 ribu, awalnya Agus hanya membeli jeruk kiloan dari petani untuk dijual kembali mulai dari pasar hingga rumah ke rumah. Jeruk tidak laku sudah menjadi hal yang wajar dialami oleh Agus. Jika jeruk yang dibawanya tidak laku dan sudah mendekati busuk, jeruknya dibagi-bagikan kepada saudara dan tetangganya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Agus sempat berpikir untuk menyuntikkan bahan pengawet ke dalam buah. Namun, lagi-lagi gagal, bukan untung yang didapat tetapi para pelanggan yang sudah pernah membeli, tidak ada satupun yang melirik jeruk miliknya.

Agus mulai berpikir dan memutar otak kembali. Agus lebih selektif dalam memilih jeruk yang dibeli. Agus mulai berpikir untuk menawarkan jeruknya lagi dan membuka jeruk yang masih utuh di hadapan para pembelinya yang dipersilahkan untuk mencoba secara gratis. Para pelanggan yang dulu membeli dan tidak lagi membeli kini mulai berdatangan kembali. Dari situ, usahanya mulai berkembang bahkan jangkauannya meluas.

Dari hasil penjualannya, beliau berhasil menyewa sebuah kios kecil berukuran kurang lebih 3 m x 5 m. Beliau juga menambah volume penjualannya dengan mengebas atau menampung hasil petani jeruk dalam jumlah kecil-kecilan.

Baca juga: Suryono, Petani Indonesia yang Berhasil Mendunia

Menjual jeruknya ke Kalimantan

Suatu hari, Agus Suprapto bertemu dengan teman sekolahnya dulu yang sekarang menjadi grosir buah-buahan dan sayuran di provinsi Kalimantan Tengah. Agus memang sengaja menawarkan buah yang dijual kepada temannya dalam jumlah besar dengan sistem konsinyasi atau titip barang.

Tanpa berpikir panjang, temannya meng-iya-kan tawaran dari beliau karena memang jeruk dari Pulau Jawa terkenal murah, manis, dan memiliki warna yang cerah. Awal perkenalan, beliau hanya mengirim 50 kg jeruk ke Kalimantan Tengah. Barang yang Agus kirim ternyata cukup banyak diminati oleh masyarakat pulau Kalimantan. Tidak hanya ke pulau Kalimantan saja, Agus juga mulai merambah ke beberapa kota di pulau Jawa dengan sistem yang sama.

Dengan semakin banyaknya permintaan konsumen, Agus mulai membeli sebidang tanah yang ditanami jeruk. Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh oleh Agus lebih berlipat ganda.

Sukses mengekspor jeruk ke 2 negara

Tanpa terasa, Agus Suprapto sudah cukup menguasai perkebunan jeruk. Kemudian, langkah selanjutnya yang dipikirkan oleh Agus adalah mengekspor jeruknya ke negara Australia dan Vietnam. Namun, itu bukan perkara yang mudah bagi Agus. Selain konsumennya yang belum jelas dan siapa yang akan menerima jeruk darinya, Agus juga lebih memperkirakan lagi soal kesegaran jeruk dari kebunnya tanpa bahan pengawet sedikitpun.

Cukup cerdik, Agus mencari konsumen dan siapa yang menjadi penampung jeruknya di media sosial Facebook. Dalam satu hari, Agus bisa mengekspor 2 sampai 3 ton per hari untuk kedua negara tersebut.


Dari pengalaman dan keuletan ini, usahanya terus berkembang. Usaha kiloan itu akhirnya merangkak menjadi skala besar. Tentu tidak semudah yang dibayangkan. Mulai dari berbagai rintangan, kebangkrutan, bahkan dijauhi oleh keluarga pernah Agus alami.

Baca juga: Kisah dan Tips Bisnis Ikan Laut Ala Bu Susi

Penulis: Irjaun Naim

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital belum? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.