Mengapa Sawah ‘Hilang’? Apa Penyebabnya?

Hilang? Sebenarnya sawah tidak hilang, melainkan mengalami alih fungsi menjadi lahan perkebunan bahkan lahan permukiman.

Nah loeh, kalau begitu, di masa depan, akankah kita mampu beralih fungsi selera juga, menjadikan mie dan roti sebagai makanan pokok yang bahan bakunya berasal dari negara lain? Saya rasa itu tidak mungkin. Lidah masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan beras bahkan di kalangan masyarakat, muncul ungkapan “kalau tidak makan nasi, namanya belum makan”.

Oleh karena itu, sawah menjadi area yang wajib dipertahankan, mengingat sebagian besar penduduk Indonesia masih menjadikan beras sebagai makanan pokok.

Namun, seiring berjalannya waktu, sawah semakin lama semakin “menghilang”. Petani menjadi tokoh utama yang dicari dan dimintai keterangan, mengingat mereka-lah faktor penting dan penentu hilangnya sawah.

Baca: Fakta tentang Padi (Beras) di Indonesia

Saya mencoba mencari informasi dengan turun langsung ke wilayah sentra beras di Kabupaten Pasaman Barat. Beberapa alasan terungkap kenapa petani beralih membudidayakan komoditi lain. Berikut adalah beberapa alasannya.

Rusaknya jaringan irigasi

Jaringan irigasi sangat penting untuk menjaga pasokan air di areal sawah petani dalam segala musim. Dengan terkelolanya sumber daya air yang mengaliri sawah, produktivitas tanaman akan optimal dan lahan petani terhindar dari kekeringan.

Namun, di lapangan, terjadi kerusakan jaringan irigasi baik primer, sekunder, maupun tersier yang disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor alami seperti gempa bumi dan banjir. Kerusakan sarana irigasi juga disebabkan oleh kurangnya perawatan dan faktor usia.

Perbaikan jaringan irigasi program RJIT

Mengenai masalah tersebut, pemerintah sebenarnya sudah menjawab keluhan petani dengan membangun kembali jaringan irigasi yang rusak melalui program yang bekerja sama dengan pihak – pihak terkait seperti PUPR dan Kementerian Pertanian. Program IPDMIP, DAM PARIT, RJIT adalah contoh program yang secara bertahap dan berkelanjutan diberikan kepada kelompok tani yang jaringan irigasi di kawasan persawahannya mengalami kerusakan.

Akan tetapi, masalahnya tidak hanya tentang air yang sudah kembali mengalir. Mengembalikan lahan sawah menjadi seperti semula setelah ditanami tanaman lain tidaklah mudah. Petani harus mengalami penurunan pendapatan pada awal musim karena struktur tanah sudah mengalami kerusakan karena tidak lagi dialiri air dalam jangka waktu yang lama.

Serangan hama burung dan tikus

Hama burung dan tikus menjadi penyebab gagal panen yang membuat petani enggan untuk kembali menanam padi. Kondisi seperti ini sebenarnya bisa diatasi dengan menerapkan tanam serentak pada lahan sawah. Selain itu, petani harus sedikit ramah kepada hama burung dan tikus dengan menyediakan sumber makanan alami di kawasan persawahan.

Burung tidak akan memakan padi jika di pinggir area sawah ditanam tanaman seperti pohon seri dan biji-bijian lainnya. Sementara itu, hama tikus bisa diatasi dengan menjaga kebersihan areal persawahan.

Baca: 5 Cara Ampuh Mengusir Hama Burung Padi

Ketersediaan sarana produksi

Petani menanam benih

Ketersediaan benih dan pupuk yang tidak selalu ada mengakibatkan petani memutuskan untuk beralih menanam tanaman lain di areal sawah mereka. Kondisi ini sebenarnya bisa diatasi jika petani tepat waktu menyerahkan Rencana Definitif Kelompok Tani (RDKK) setiap tahunnya, sehingga pemerintah dapat mengalokasikan ketersedian benih dan pupuk pada lokasi tersebut tepat waktu dan tepat jumlah.

Efektifitas waktu dan tenaga

Menanam padi dianggap lebih banyak menyita waktu dan tenaga dibanding menanam komoditi lain. Padi membutuhkan perhatian ekstra mulai dari pengaturan air hingga pengontrolan pertumbuhan tanaman tiap hari.

Oleh karena itu, petani menganggap budidaya padi sedikit merepotkan dan memilih beralih ke komoditi lain seperti jagung bahkan kelapa sawit.


Permasalahan alih fungsi lahan yang mengakibatkan sawah “hilang” adalah masalah yang sudah menahun. Artinya petani cenderung akan menanami lahannya dengan komoditi yang dianggap memberikan keuntungan yang lebih tinggi tanpa harus direpotkan dengan rutinitas yang menguras waktu dan tenaga.

Baca: Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia

Hilangnya sawah juga disebabkan oleh pembangunan pemukiman. Dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga dan budaya sistem pembagian warisan, saya rasa juga menjadi penyebab yang perlu diperhatikan mengingat petani Indonesia belum benar-benar belajar dari petani negara maju.

Di negara maju seperti Jepang, areal pertanian hanya diwariskan kepada 1 anggota keluarga yang benar-benar berkomitmen menjadi petani, sehingga luas lahan bisa dipertahankan. Sementara, di Indonesia, cenderung menganut pembagian warisan sama rata sehingga luas lahan berkurang dan cenderung beralih fungsi menjadi lahan pemukiman. Luas lahan akan mempengaruhi dana produksi yang harus dikeluarkan petani. Semakin sempit lahan, semakin besar dana produksi sehingga keuntungan yang diperoleh akan menjadi semakin kecil.

Keberadaan kelompok tani dan koperasi menjadi solusi yang konkrit namun tidak dilakoni secara serius oleh petani, sehingga banyak kelompok tani yang sekedar terdaftar. Muncul ketika ada program dan tidak punya visi dan misi ke depan.

Disinilah para sarjana pertanian berperan. Mau tidak mau, sebagai generasi muda kita harus turun tangan. Setidaknya kita hadir di antara petani, berbagi informasi tentang teknologi dan pemikiran terbaru serta yang paling penting adalah kita mau dan bangga menyebut diri sebagai sarjana pertanian yang menjadi petani, bukan sarjana pertanian yang memakai seragam kemudian duduk manis di dalam ruangan. Kecuali kalian mau mengubah pola makan menjadi makan mie dan roti dan cukup kenyang dengan game dan media sosial setiap hari.

Yuk, mari jadi petani!

Penulis: Sulassky
Farmer – Traveller – Blogger


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.