Oversupply Sawit, Mampukah Indonesia Bertahan?

Dalam penyerahan Surat Keputusan Perhutanan Sosial pada Januari 2019 silam di Taman Pinus, Kenali, Kota Jambi dalam rangka menyerahkan Surat Keputusan Perhutanan Sosial, Presiden mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia sedang oversupply sawit atau sedang mengalami kelebihan stok CPO.

“Jangan semua mau menanam sawit. Tanaman lain bisa ditanami seperti kopi. Lahan tanam sawit di Indonesia sudah gede banget kurang lebih 13 juta hektare dan produksinya per tahun 42 juta ton. Kalau terlalu gede lagi, harganya nanti turun,” tutur presiden.

Meskipun demikian, anjuran presiden juga logis. Terlebih lagi bahwa sudah 90% izin perkebunan yang dikeluarkan dalam bisnis didominasi oleh kelapa sawit. Besarnya dominansi kelapa sawit sehingga menghasilkan sekitar 14,03 juta hektar untuk perkebunan sawit menurut laporan Kementerian Pertanian.

Oversupply Sawit Menjadi Momok Menakutkan Bagi Petani

Seperti yang kita ketahui bahwa kondisi tanah dan iklim di Indonesia sangat mendukung perkebunan sawit. Tidak hanya itu, sawit juga menjadi salah satu komoditi tertinggi penghasil devisa negara.

Baca Juga : 7 Masalah Perkebunan Sawit di Indonesia

Data menunjukkan lewat hasil riset Perkumpulan Prakasa, minyak sawit menjadi penyumbang ekspor terbesar di Indonesia sepanjang tahun 1989 – 2017. Pertumbuhannya pun sangat signifikan sekitar 2.782% per tahunnya.

Tingginya produktivitas kelapa sawit dalam menghasilkan minyak nabati dinilai lebih tinggi dibanding tanaman lain. Dengan capaian produksi mencapai 3,6 ton perhektar pada tahun 1970-2017. Jika ditotalkan, saat ini produksi CPO di Indonesia sudah mencapai 44 hingga 46 juta ton per tahun dengan jumlah luas lahan sebesar 14 juta hektare.

Jika ini berlanjut terus, perkiraan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi akan memperkirakan produksi sawit mencapai 51,7 juta ton di tahun 2025. Oversupply sawit tidak akan terhindar lagi jika kondisi ini terus berlanjut.

Baca Juga : Apa Jenis Tanah yang Baik untuk Kelapa Sawit?

Besarnya produksi kelapa sawit yang tidak terserap oleh pasar tentu akan menimbulkan dampak buruk bagi petani. Menurunnya harga jual produk menjad momok menakutkan akibat oversupply sawit yang terjadi.

Sebab, sebagaimana hukum ekonomi yang berlaku, “Apabila volume produksi melebihi kebutuhan pasar, maka kelebihan pasokan akan membuat harga jual menjadi jatuh. Tentunya hal itu merugikan petani maupun pengusaha perkebunan sawit,” jelas Hammam kepada Tirto.

Menurut data dari GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) menunjukkan bahwa ekspor minyak sawit dan turunannya mencapai 34,71 juta ton di tahun 2018. Jumlah ini meningkat sekitar 8% dari tahun 2017 dengan total produksi 32,18 juta ton di tahun 2018.

Diversifikasi Oversupply CPO dan Inovasinya.

Belajar dari data kelebihan produksi, maka salah satunya jalan adalah melakukan diversifikasi dan inovasi dalam pengolahan minyak sawit. Dengan dilakukannya diversifikasi, penggunaan kelapa sawit menjadi tepat guna untuk mengendalikan produksi berbasis sawit yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Diperlukan analisa yang rinci, agar kebutuhan pasar bisa diprediksi lebih akurat agar Indonesia bisa melakukan perencanaan produksi dengan lebih matang,” jelas Hammam.

Industri Sawit di Indonesia
Oversupply sawit dapat ditangani dengan melakukan diversifikasi, inovasi serta melakukan diferensiasi.

Setelah itu, melakukan pembukaan pasar-pasar baru oleh pemerintah. Inovasi yang dilakukan pun dimulai di sektor hilir. Contoh yang dapat dilaksanakan adalah memproduksi biodiesel lebih banyak untuk menambah nilai jual dari produk olahan sawit.

Jika hal ini bisa dilakukan, maka Indonesia bisa mengekspor biodiesel dengan harga disamakan dengan Mean of Platts Singapore (MOPS) ke negara-negara tujuan seperti Cina, India, Jepang, Arab Saudi serta Korea Selatan. Secara keseluruhan, negara-negara tersebut mampu mengonsumsi 28,8 juta barel per hari.

Baca Juga : Jenis-Jenis Kelapa Sawit yang Perlu Diketahui

Konsumsi solar negara-negara tersebut mencapai 568 juta kiloliter per tahun. Oleh karena itu, lanjut Hammam, jika Indonesia mampu melobi negara-negara tersebut dan mempromosikan B1 produksi dalam negeri, maka ada serapan biodiesel setidaknya sebanyak 5,68 juta kiloliter.

“Akan lebih baik jika Indonesia bisa mempromosikan B-25, maka serapan biodiesel bisa bertambah 14,2 juta kiloliter lagi. Hampir di seluruh segmen industri tidak berkeberatan menggunakan biodiesel 2,5 persen. Dengan begitu, pabrik biodiesel yang saat ini idle, bisa dimanfaatkan secara penuh,” ungkap Hammam.

Diferensiasi Produk Kelapa Sawit

  • Pengolahan Sampah Perkebunan Sawit

Selain melakukan diversifikasi, diferensiasi produk kelapa sawit juga harus dilakukan. Adapun hal yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan pengelolaan sampah perkebunan sawit. Lewat pengelolaan ini, produk lainnya yang dapat dihasilkan adalah bahan bakai cair (Bio Crude Oil) , bubur kertas, dan sebagainya.

Dampak yang terjadi tidak hanya itu saja. Diversifikasi minyak sawit dalam bentuk bahan bakar akan menghemat anggaran negara dalam menurunkan impor solar ke Indonesia. “Harus ada upaya mengurangi impor dengan melakukan diversifikasi,” sambung Hammam.

Saat ini pemerintah terus mengkaji penerapan biodiesel 30 persen (B30). Nantinya, B30 diprediksi akan menghemat impor solar 9 juta kiloliter (KL) setara dengan US$ 6 miliar.

Buah sawit
Diferensiasi produk dapat dijadikan solusi untuk mengendalikan jumlah CPO yang terlalu banyak.
  • Penyerapan CPO Oleh PLN

Selain itu mempercepat penyerapan CPO dapat juga secara langsung dilakukan Perusahaan Listrik Negara untuk mencegah oversupply sawit. Saat ini ada empat buah pembangkit yang sedang melakukan uji coba untuk menggunakan CPO secara langsung.

Kempat pembangkit itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Kanaan Bontang berkapasitas 10 megawatt (MW), PLTD Batakan Balikpapan (40 MW), PLTD Supa Pare-pare (62 MW), dan PLT Gas (PLTMG) Jayapura dengan kapasitas 10 MG. Untuk memasok keempat pembangkit tersebut, PLN memerlukan sekitar 190 ribu kiloliter CPO per tahun.

Baca Juga : 6 Alasan Menanam Kurma di Indonesia

  • Replanting atau Peremajaan Tanaman

Langkah lain yang dapat ditempuh melakukan peremajaan tanaman. Melakukan replanting ini akan menimbulkan dua efek. Yakni mengurangi pasokan CPO serta perbaikan kualitas produksi CPO di masa mendatang.

Namun, terlepas dari itu semua, Joko mengatakan bahwa hal terpenting yang patut diperhatikan oleh Indonesia terkait sawit adalah keberlanjutan pasar CPO itu sendiri. “Ada atau tidak adanya oversupply CPO, yang perlu menjadi perhatian adalah sustainable market CPO Indonesia termasuk pasar ekspor, untuk jangka panjang,” sebut Joko.

Disadur dari Tirto.id


Bagaimana menurut kamu tentang artikel ini sobat PTD? Akankah sawit Indonesia akan mengalami perbaikan di masa mendatang?

.

.

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.