Mengetahui Sistem Surjan, Kearifan Lokal Masyarakat Tani Indonesia

Apa sih yang unik dari negara kita? Bentuknya berupa kepulauan yang luas, saat negara-negara lain umumnya menyatu daratannya satu sama lain. Indonesia juga multikultur alias memiliki beragam budaya dari Sabang sampai Merauke.

Yapp.. Benar. Lalu, apakah ada hal yang unik dengan pertanian Indonesia?

Satu kata yang mampu menjawabnya, yaitu Etnoagronomi, praktik pertanian yang khusus dilakukan di daerah-daerah tertentu dengan tujuan menyiasati iklim di daerah tersebut. Etnoagronomi ini unik dan hanya ditemukan di Indonesia. Jadi, kita patut berbangga ya, guys!!!

Konsekuensi dari luas wilayah Indonesia yang jarak Sabang-Merauke saja melebihi jarak Jakarta-Tokyo, menghasilkan iklim yang beragam dalam suatu negara. Nah, bagaimana masyarakat di daerah tersebut menyesuaikan diri terhadap daerahnya yang menghasilkan beragam-ragam budaya?

Ingat, kebudayaan tidak terbatas pada bahasa, tari-tarian, atau pakaian adat. Lebih jauh lagi, kebudayaan sendiri memiliki 7 unsur yang salah satunya adalah sistem mata pencaharian, dimana mayoritasnya adalah bertani.

Baca: Fakta dan Tantangan Pertanian di Indonesia

Apa itu sistem surjan?

Sistem surjan adalah sistem penanaman yang dicirikan dengan perbedaan tinggi permukaan bidang tanam pada suatu lahan. Dalam praktiknya, sebagian tanah lapisan atas diambil atau digali kemudian digunakan untuk meninggikan bidang tanah di sampingnya secara memanjang sehingga terbentuk surjan.

Sistem Surjan
Sistem Surjan | Sumber: Segalanya Rawa

Teknologi ini merupakan kearifan lokal masyarakat rawa, seperti Suku Banjar, Suku bugis, dan Suku Makassar yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Para petani transmigran dari Pulau Jawa yang melihat sistem tanam tersebut kemudian menamai cara bercocok taman ini dengan sebutan Surjan, karena mirip seperti lurik pada baju Surjan yang bergaris-garis.

Lahan bagian atas disebut guludan yang ditanami tanaman palawija (jagung, kedelai, kacang-kacangan, dan umbi-umbian), hortikultura, buah-buahan, dan juga tanaman perkebunan, sedangkan lahan bagian bawah (ledokan/tabukan) ditanami padi sawah.

Untuk guludan, sebenarnya dapat disesuaikan dengan keinginan petani. Jika menanam tanaman tahunan, maka waktu produksinya lebih lama. Hal ini dapat disiasati dengan sambilan menanam sayur yang bernilai ekonomi tinggi.

Dengan demikian, selain dapat melakukan diversifikasi tanaman, sistem surjan juga telah membagi resiko gagal panen dari lahan tani tersebut. Artinya, seandainya suatu ketika sawah terserang hama dan menimbulkan kerugian yang besar (balik modal pun tidak), masih ada sumber pendapatan lainnya dari palawija ataupun sayur-sayuran.

Lha, kalo gitu, manfaatnya sama dengan teknik tumpang sari dong ? Malah lebih ribet sistem surjan karena harus meninggikan beberapa bagian dari lahan yang kita punya.

Memang benar, bahkan sistem tumpang sari sendiri sudah memberikan keuntungan berupa diversifikasi dan pembagian resiko gagal panen.

Bedanya, sistem surjan cocok digunakan untuk bertani di lahan rawa yang terendam air terus menerus dan dapat kompromi dengan kondisi air yang permukaannya naik saat musim hujan ataupun pasang naik dengan adanya bagian lahan yang ditinggikan.

Mengingat luas daratan yang ditujukan untuk bertani semakin berkurang, lahan-lahan marjinal seperti di daerah pesisir, awalnya tidak ideal digunakan sebagai media tumbuh tanaman budidaya. Namun, dengan diterapkannya sistem surjan, lahan pasang surut di Indonesia yang mencapai 20,1 juta hektar dapat dimanfaatkan.

Baca: Indoor Farming, Wujud Pertanian Masa Depan yang Modern

Lahan Rawa di Indonesia
Sumber: Harian Nasional

Contoh Daerah di Indonesia yang Menerapkan Sistem Surjan

Kulon Progo – DIY

Kelompok Tani (KT) Eko Martani Dusun Jetis Sogan Wates bekerjasama dengan Dinas Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dan berbagai pihak di tahun 2013 melaksanakan upacara selamatan Tandur/penanaman padi dengan sistem surjan secara bersama-sama.

Dengan pelaksanaan upacara ini, selain untuk memberikan informasi kepada generasi sekarang tentang sistem surjan, juga untuk mengangkat kembali kearifan lokal tersebut sehingga tidak punah.

Barito Kuala – Kalimantan Selatan

Barito Kuala dikenal sebagai kawasan agropolitan di Kalimantan Selatan dengan komoditas utama yaitu padi-jeruk. Jeruk, selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi, juga mampu diolah menjadi berbagai macam produk turunan. Dan, semuanya ini dicoba dipraktekkan dengan sistem surjan sehingga mengalami surplus dengan nilai R/C >1.

Jambi

Lahan rawa merupakan agroekosistem yang terluas di Provinsi Jambi. Produktivitas padi di lahan rawa masih di bawah rata-rata nasional yaitu sekitar 2,6 – 3,9 ton/ha, sedangkan rata-rata nasional adalah 5,1 – 5,2 ton/ha. Potensi untuk meningkatkan produktivitas masih ada melalui penerapan teknologi dan diperkirakan bisa mencapai 7 ton/ha. Jawabannya ada pada penerapan teknologi surjan.

Baca: Sistem Mina Padi, Kombinasi Lahan Sawah dengan Budidaya Ikan

Sumber gambar utama: IRRI

Penulis: Junita Solin
Mahasiswa Agronomi Universitas Gadjah Mada


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.