Sutarjo, Petani Muda Buah Naga yang Meraih Penghargaan dari Kementan

Menimba ilmu pertanian, lalu mempraktikannya di ladang buah naga. Itulah pilihan Sutarjo, seorang petani muda buah naga yang meraih penghargaan pelopor petani muda dari Kementerian Pertanian pada tahun 2016.

Sebuah tiang setinggi 2 meter cukup untuk dirambat 4 tanaman buah naga. Di lahan 5.000 m2, Sutarjo membudidayakan 1.400 tanaman buah naga pada tahun 2015. Tanaman-tanaman itu merambat di 350 tiang. Magori atau panen perdana adalah pada tahun 2016 saat tanaman berumur satu tahun. Pekebun di Desa Tanjungsari, Bogor itu memperoleh 750 kg buah naga.

Satu tiang menghasilkan rata-rata 4-5 kg buah naga. Harga jual buah naga adalah Rp 30.000 per kg. Sutarjo meraih harga tinggi karena buah naga hasil panen berkualitas tinggi. Bobot buah 500 gram, warna daging buah merah terang, dan cita rasa manis menjadi penyebab mengapa hasil panennya terserap pasar.

Pada suhu ruang, buah dapat bertahan selama sepekan. Masa konsumsinya lebih lama yaitu selama 2 pekan bila disimpan di dalam lemari es.

Menurut Sutarjo, biaya produksi buah naga mencapai Rp 8.000-Rp 10.000 per kg. Biaya produksi itu sudah memperhitungkan pupuk, tenaga kerja, dan sewa lahan.

Dalam mengatasi organisme pengganggu tanaman, petani muda buah naga ini tidak menggunakan pestisida kimiawi. Ia memilih memotong bagian tanaman yang terserang. Meskipun penanganannya lebih lama, produk yang dihasilkan lebih sehat.

Baca: Cara Basmi Hama Minim Biaya dan Pestisida

Sutarjo mengatakan, produksi tanaman akan meningkat pada tahun-tahun berikutnya. “Pada tahun kedua, prediksi panen meningkat menjadi 10 kg,” kata Sutarjo. Panen semakin meningkat menjadi lebih dari 20 kg pada tahun ketiga hingga seterusnya.

Sejatinya, Sutarjo membudidayakan 1.600 tanaman lagi pada tahun 2016. Tanaman itu kini berumur satu tahun. Sutarjo membudidayakan buah naga secara intensif. Ia menerapkan jarak antar tanaman sebesar 3 m x 3 m. Sebelum tanam, ia memasang tiang untuk menopang tanaman. Petani muda kelahiran Rembang ini membenamkan 20 kg pupuk kandang, 1 kg sekam, dan 2 kg kapur sebagai pupuk dasar per lubang tanam.

Kemudian, ia menanam bibit yang telah bertunas yang sebelumnya sudah disemai selama 1,5-2 bulan. Pada umur 2 pekan setelah tanam, ia mengikat bibit pada tiang. Setiap 20 cm dilakukan pengikatan hingga ujung tiang. Di bagian ujung, pengikatannya menggunakan strapping plastik.

Umumnya, pekebun buah naga memanfaatkan ban untuk menopang tanaman. Namun, Sutarjo justru menggunakan strapping plastik untuk mengikat tanaman. “Penggunaan strapping plastik mengefisienkan biaya,” kata Sutarjo. Serangan penggangu tanaman juga dapat berkurang. Pada ban, ada rongga tersisa yang menyebabkan adanya genangan air sehingga dapat memicu serangan organisme pengganggu. Sementara itu, penggunaan strapping plastik tidak menyisakan celah.

Buah Naga

Uniknya, Sutarjo menerapkan penjualan buah langsung ke konsumen (direct selling). Konsumen datang ke kebun memetik buah sendiri, menimbang, dan membayar Rp 30.000 per kg. Sutarjo memang merencanakan membuka kebun agrowisata. Dengan melihat kebun secara langsung, konsumen biasanya lebih bahagia dan tahu bagaimana proses produksinya.

Baca: Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia

Sutarjo tidak memasarkan buah naga ke toko karena biasanya harganya lebih murah. Selain itu, budidaya intensif membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Ia mengatakan, dengan menciptakan pasar sendiri, harga jual produk juga lebih stabil. Cara yang diterapkan Sutarjo pertama kali dalam mencari pasar adalah menjemput bola. Ia mendatangi perumahan-perumahan, membagikan brosur, mengikuti pameran, dan mempublikasi lewat media sosial.

Ia juga menciptakan personal branding sendiri. Contohnya, produk yang dihasilkan tidak menggunakan pestisida, zat pengatur tumbuh (ZPT), bercita rasa manis, dan orang bisa datang ke lahan. Promosi itu sudah gencar ia lakukan ketika tanaman berada pada fase vegetatif. Sampai sekarang, ia pun masih gencar melakukan promosi.

Selain menjual produk berkualitas, Sutarjo juga kerap memberikan edukasi kepada pengunjung.

Menjadi yang pertama dalam ber-agribisnis memang jarang. Sebab, sudah banyak orang yang berkecipung di bidang pertanian, apalagi buah naga. Namun, agar produk bisa bertahan, “Harus berbeda dengan yang lain dalam hal kebaikan, itulah yang saya pakai,” ujar Sutarjo. Pembedanya bisa banyak hal, misalnya dari teknologi, personal branding, atau product branding. Dengan begitu, produk yang dihasilkan memiliki daya tarik tersendiri.

Ketertarikan Sutarjo pada buah naga bermula ketika masih kuliah. Pada semester 7, ia belajar di Sabisa Farm (kebun milik Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor). Pembina Sabisa Farm adalah Gun Sutopo, yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Buah Naga Nasional. Dari sanalah, semangat Sutarjo mengembangkan buah naga muncul, “Saya sarjana pertanian harus bergerak di bidang pertanian terutama mulai dari on farm,” ujarnya.

Itulah kisah Sutarjo sebagai petani muda buah naga yang patut dicontoh oleh anak-anak muda lainnya untuk terjun ke dunia pertanian.

Baca: Cerita Dosen Sekaligus Petani Kopi

Penulis: Yusril Wicaksana


Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.