Teknik Underplanting Sawit di Indonesia: Direkomendasikan atau Dilarang?

Apa itu underplanting sawit? Masih berkaitan dengan budidaya salah satu tanaman produksi yaitu kelapa sawit. Produksi sawit di Indonesia hingga sekarang masih melimpah. Bahkan, produksi tersebut mampu menembus pasar ekspor dunia sehingga bisa menyumbang devisa negara yang tidak sedikit. Maka dari itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mendukung dan menggalakkan budidaya kelapa sawit. Para petani dan pembudidayanya juga diberi bantuan dan pendampingan teknis agar bisa meningkatkan produksi kelapa sawit.

Beragam teknik/metode penanaman kelapa sawit dipraktikkan. Tentu saja ada kelebihan dan kekurangan tiap teknik penanamannya. Salah satunya adakah teknik underplanting sawit yang diadopsi dari Malaysia. Lalu, apa itu teknik underplanting sawit dan apa kelebihan serta kekurangannya? Untuk lebih jelasnya, silakan membaca uraian berikut ini.

Apa itu underplanting sawit?

Perlu Anda ketahui bahwa underplanting adalah teknik penanaman kembali (replanting) jenis pohon atau tanaman tertentu, dimana tanaman muda atau bibit ditanam di bawah tanaman lama berjenis sama yang masih hidup. Begitu juga dengan teknik underplanting sawit yang dilakukan dengan menanam bibit sawit muda di bawah tegakan pohon sawit lama yang masih hidup.

Setelah dibiarkan tumbuh sekitar satu tahun, pohon sawit tua akan dimatikan agar tanaman sawit muda dapat tumbuh dengan maksimal dan optimal. Sementara itu, cara mematikan pohon sawit yang lama yaitu dengan memotong dan mencabut hinga ke akarnya. Namun demikian, saat melakukannya, jangan sampai tanaman sawit muda ikut tercabut atau rusak. Hal itu malahan bisa mematikan keduanya. Oleh karena itu, harus dilakukan dengan hati-hati.

Tidak dapat dipungkiri bahwa teknik underplanting sawit mempunyai keuntungan dan kerugian tersendiri. Para petani sawit yang ingin mempraktikkan metode penanaman ini harus mengetahui keuntungan dan resiko yang akan dihadapi. Dengan begitu, petani baru bisa mempertimbangkan dengan matang.

Jenis-Jenis Kelapa Sawit

Baca juga: Apakah Lahan Gambut Cocok untuk Perkebunan Sawit?

Keuntungan teknik underplanting sawit

Dimulai dari keuntungan menerapkan teknik underplanting pada tanaman kelapa sawit, biaya replanting atau menanam kembali bibit sawit dapat ditekan. Artinya, petani sudah pernah menanam sawit di lahan yang sama sehingga dia meneruskan replanting saja. Petani tak perlu mengolah lahannya saat underplanting karena pohon sawit lama masih berdiri di atasnya. Dengan begitu, petani bisa menghemat pengeluaran biaya penanaman.

Bukan hanya itu keuntungannya. Petani yang menerapkan underplanting sawit masih bisa memetik buah sawit dari tanaman lama yang memang dibiarkan hidup. Maksimal hingga satu tahun setelah tanaman baru ditanam di bawahnya, tanaman lama masih dapat berbuah dan dipetik hasilnya. Hal tersebut sama saja bisa menutup biaya penanaman sawit baru karena masih mengambil hasil dari tanaman sawit lama. Dengan kata lain, petani bisa mendapatkan keuntungan terus menerus dari hasil sawit yang ditanamnya, meskipun melakukan penanaman kembali sawit-sawit baru.

Itulah beberapa keuntungan menerapkan teknik underplanting sawit, khususnya bagi para petani sawit. Lalu, bagaimana dengan kerugiannya?

 

Kerugian teknik underplanting sawit

Selain ada keuntungan, ternyata metode penanaman sawit yang satu ini juga ada kerugiannya. Bahkan, tidak sedikit orang atau pihak yang merekomendasikan petani sawit untuk tidak menerapkannya. Hal itu disebabkan oleh kerugian yang bisa dirasakan dalam jangka panjang. Jika dibandingkan dengan keuntungan yang dirasakan dalam 1-2 tahun underplanting, sepertinya lebih terasa kerugiannya atau tidak sebanding.

Tegakan pohon sawit yang masih berdiri dalam teknik underplanting sawit menjadi sarang Oryctes atau larva-larva besar, yang bermetamorfosis menjadi kumbang tanduk. Hewan tersebut merupakan salah satu hama tanaman sawit yang berbahaya. Larvanya saja dapat mengakibatkan batang sawit banyak berlubang. Jika terus digerogoti, sama saja pohon sawitnya mati dan tumbang. Begitu juga kumbang tanduk yang bisa memakan batang, daun, maupun kelapa sawitnya.

Ciri-Ciri Morfologi Kelapa Sawit dan Perkembangbiakannya

Bahaya sekaligus kerugian lain saat menerapkan underplanting sawit yaitu penyakit busuk pangkal batang dan busuk batang yang disebabkan oleh Ganoderma, terutama di daerah atau wilayah endemik Ganoderma. Penyakit pembusukan tersebut dapat menjangkiti tanaman sawit lama yang kemudian menularkannya kepada tanaman sawit baru. Hal ini harus segera diantisipasi dan jika terlambat, bisa berdampak jangka panjang.

Perlu dipahami bahwa kedua hama dan penyakit tersebut, jika sudah menjangkiti sawit, maka sulit disembuhkan. Bahkan, sangat mungkin menulari pohon-pohon sawit lainnya hingga akhirnya bertumbangan semuanya. Selain itu, siklusnya bisa selalu bertahan selama sumbernya tidak dibasmi hingga ke akar-akarnya.

Sementara itu, penerapan teknik underplanting sawit dianggap hanya mempertahankan siklus hama dan penyakit tersebut sehingga sulit dibasmi dan merugikan petani yang bersangkutan. Sebaliknya, siklus hama dan penyakit yang menyerang tanaman sawit seharusnya diputus. Cara memutusnya yang paling efektif yaitu dengan melakukan replanting, bukan underplanting.

Replanting dapat diartikan sebagai menanam kembali bibit sawit baru di atas lahan yang sudah diolah dengan baik dan benar. Semua pohon sawit lama dicabut sampai akar-akarnya. Lalu, lahan sawit diolah kembali, diberi nutrisi pupuk sesuai kebutuhannya, dibersihkan dari gulma tanaman yang mengganggu, dan membuat drainase di lahan sawit. Dengan begitu, lahan sama sudah siap ditanami bibit sawit baru yang pastinya terbebas dari hama dan penyakit.


Demikianlah informasi mengenai teknik underplanting sawit yang bisa diinformasikan di sini. Dapat disimpulkan bahwa underplanting untuk tanaman sawit tidak direkomendasikan untuk diterapkan oleh petani sawit Indonesia. Pasalnya, penghematan biaya yang didapatkan saat proses penanaman kembali sawit baru di bawah pohon sawit lama, tidak sebanding dengan kerugian besar yang nantinya dialami.

Baca juga: 6 Tips Mengelola Perkebunan Sawit

Penulis: Arifin Totok

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.