Teknologi Peningkatan Produksi Padi

Padi merupakan salah satu komoditas pertanian terbesar di Indonesia. Padi juga menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, sehingga produksi padi selalu diusahakan untuk tidak mengalami penurunan, tetapi sebaliknya, semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian, sudah melakukan berbagai usaha untuk mengembangkan produktivitas padi, mulai dari usaha intensifikasi lahan hingga usaha ekstensifikasinya. Perkembangan zaman membawa usaha-usaha tersebut ke level yang lebih tinggi.

Dengan adanya teknologi, pemerintah mulai menemukan cara lain yang dapat meningkatkan produktivitas padi di Indonesia. Saat ini, setidaknya ada 3 teknologi peningkatan produksi padi yang telah diperkenalkan oleh Kementerian Pertanian. Tiga teknologi tersebut adalah sebagai berikut.

SMARt

SMARt merupakan sebuah teknologi baru berupa pupuk hayati tanaman padi yang dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanah.

SMARt dibuat berupa formula pupuk hayati yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan, produktivitas, dan ketahanan tanaman padi terhadap hama dan penyakit. Pupuk hayati ini dihasilkan dari konsorsium mikroba selektif yang dapat menambat N, melarutkan fosfat, dan menghasilkan hormon.

Pupuk SMARt, Teknologi Peningkatan Produksi Padi
Sumber: bukalapak.com

Salah satu hal lain dari SMARt yang menjadikannya demikian unggul adalah sifatnya yang ramah lingkungan. Hal ini disebabkan oleh SMARt menggunakan mikroba tropik yang mampu meningkatkan produktivitas padi serta menekan penggunaan pupuk kimia dan insektisida hingga 50% (Balitbangtan, 2018).

Oleh karena itu, SMARt berpotensi dikembangkan oleh industri sarana produksi pertanian untuk menggantikan pupuk kimia dan insektisida yang biasanya ditujukan untuk tanaman padi.

Baca juga: 6 Strategi Budidaya Padi dalam Pengendalian Penyakit

AWD (Alternate Wetting and Drying)

Salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh petani padi saat ini adalah pola perubahan iklim yang cukup sulit ‘diramalkan’. Perubahan iklim tentu berpengaruh pada pasokan air yang merupakan salah satu kebutuhan utama tanaman padi. Kelangkaan air menjadi masalah yang sangat serius karena hal ini dapat menurunkan produksi pertanian secara drastis, bahkan dapat menyebabkan gagal panen.

Oleh karena itu, para ahli dan peneliti telah menemukan sebuah teknologi yang bertujuan untuk menghemat air dalam irigasi, yaitu AWD (Alternate Wetting and Drying). Teknologi peningkatan produksi padi ini dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada tahun 2009 di Filipina.

Sejak saat itu, teknologi AWD telah diterapkan di beberapa negara Asia yang lain, seperti Jepang, Vietnam, Bangladesh, dan Thailand. Di Indonesia, AWD juga sudah diterapkan sebagai saran dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Penerapan teknologi ini dilakukan dengan adanya kerja sama pemerintah dengan National Agriculture and Food Research Organization pada tahun 2013-2016 selama 6 musim tanam.

Cara Membuat Alat AWD

Metode ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu berupa tabung yang terbuat dari pipa untuk mengukur ketinggian atau kedalaman air tanah.

Baca juga: 4 Upaya dalam Meningkatkan Produksi Padi di Indonesia

Tabung AWD, Teknologi Peningkatan Produksi Padi
Sumber: irri.org

Adapun cara yang dapat dilakukan untuk membuat alat AWD adalah sebagai berikut.

  1. Sediakan pipa dengan diameter 7-10 cm
  2. Potong pipa masing-masing sepanjang 30 cm
  3. Lubangi pipa sepanjang 20 cm dengan jarak antar lubang masing-masing 2 cm
  4. Tancapkan pipa di beberapa lokasi di sawah (10 cm bagian pipa—yang tidak berlubang—ditempatkan di atas permukaan tanah, sementara 20 cm pipa yang berlubang akan terkubur di tanah.

Setelah irigasi sawah dilakukan pada tahap awal penanaman, kedalaman air akan menurun secara bertahap disebabkan oleh evaporasi, rembesan, dan perkolasi.

Tabung (alat AWD) yang telah dipasang akan ‘memantau’ kedalaman air di bawah permukaan tanah hingga 15-20 cm. Ketika permukaan air turun 15 cm di bawah permukaan tanah, pengairan harus dilakukan kembali hingga airnya mencapai 5 cm di atas permukaan tanah. Ketinggian air ini harus sama hingga sebelum tahap pertengahan musim.

Selama pertengahan hingga akhir musim (pengisian biji-bijian dan tahap pematangan), biarkan ketinggian air turun hingga 15 cm ke bawah permukaan tanah sebelum dilakukan irigasi kembali.

Selain dapat menghemat air hingga 17-20%, penggunaan teknologi AWD ini juga dapat meningkatkan produksi padi dan menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak 35-38%.

Mesin Pasca Panen

Selain mengembangkan teknologi demi kelancaran proses penanaman hingga perawatan tanaman padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian juga mengeluarkan mesin yang dapat digunakan pasca panen padi.

Dalam hal ini, terdapat 4 paket mesin pengolahan benih padi untuk mendukung kinerja Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS). Empat paket mesin tersebut terdiri dari mesin pembersih (sortasi), mesin penimbang, mesin pengemas, dan mesin pengering.

Mesin Pasca Panen
Sumber: Balitbangtan

Pemerintah melalui Balitbangtan telah melakukan pengujian terhadap keempat mesin tersebut dan hasilnya menunjukkan masing-masing mesin dapat berfungsi dengan baik.

Mesin pembersih (sortasi) dapat digunakan dengan kapasitas 400-500 kg/jam. Hal ini tergantung pada laju pengumpanan dan tingkat kebersihan gabah.

Mesin penimbang memiliki kapasitas hingga 540 kg/jam. Petani tidak perlu khawatir dengan tingkat akurasi timbangan, karena mesin penimbang ini menawarkan akurasi hingga 99,57%.

Mesin pengemas memiliki kapasitas 613 kg/jam. Jika dikonversi dalam jumlah kemasan, maka mesin ini dapat membuat 122 kemasan/jam, tergantung keterampilan operator mesinnya.

Terakhir, mesin pengering tipe sirkulasi memiliki kapasitas muat dari 3-3,5 ton/proses dengan durasi pengeringan selama 16,5 jam pada suhu udara pengering 51,7 derajat Celsius. Dalam proses penggunaan mesin ini, sistem pemanasannya secara langsung menggunakan bahan bakar gas LPG.

Baca: Padi Buatan Universitas Jenderal Soedirman yang Wangi dan Kaya Protein

Sumber gambar utama: irri.org

Penulis: Hutri Cika Berutu 


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.