4 Upaya dalam Meningkatkan Produksi Padi di Indonesia

Di Indonesia, padi merupakan salah satu produk pertanian yang paling dibutuhkan karena merupakan sumber makanan pokok sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu, petani Indonesia harus selalu berusaha untuk memproduksi padi dalam jumlah besar jika tidak ingin pemerintah mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan pokok jutaan penduduknya.

Di bawah ini adalah 4 upaya yang dapat dilakukan oleh petani Indonesia dalam meningkatkan produksi padi bersama dengan pemerintah.

Adaptasi dengan iklim yang berubah-ubah

Saat ini, isu pemanasan global tampaknya semakin sering dibicarakan. Hal ini berkaitan dengan ketidakstabilan iklim wilayah-wilayah yang ada di Indonesia. Tentu saja, ketidakstabilan iklim menjadi salah satu masalah yang dihadapi oleh petani dalam mengembangkan produksi pertaniannya. Petani harus berupaya untuk beradaptasi dengan anomali iklim tersebut demi kelancaran produksi pertanian.

Untuk mencegah terjadinya ketidakstabilan produksi pangan nasional karena anomali iklim tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian, telah menyiapkan 3 varietas padi yang tahan terhadap cuaca buruk jangka pendek dan perubahan iklim jangka panjang, yaitu:

  1. Inpago (varietas tahan kekeringan),
  2. Inpara (varietas tahan genangan air),
  3. Inpari-13 (varietas tahan hama wereng coklat).

Petani Indonesia dapat menggunakan ketiga varietas tersebut untuk mewujudkan produksi padi yang tinggi.

Agar hasil yang didapatkan lebih maksimal, bersamaan dengan penggunaan 3 varietas padi tersebut, petani juga perlu menerapkan beberapa hal, yaitu melakukan optimalisasi pengelolaan sumber daya lahan dan air/irigasi, penyesuaian pola tanam/pengelolaan tanaman pangan, dan penerapan teknologi adaptif dan ramah lingkungan.

Baca: Indonesia Krisis Padi atau Krisis Petani?

Pembangunan infrastruktur pertanian oleh pemerintah

Infrastruktur paling penting dalam pertanian yang berkaitan dengan produksi padi adalah jaringan irigasi. Untuk jaringan irigasi, diperlukan pembangunan jaringan baru dan rehabilitasi jaringan lama.

Jaringan Irigasi di Sawah
Jaringan Irigasi di Sawah | Sumber: tataruangpertanahan.com

Bukan hanya itu, di wilayah-wilayah tadah hujan, pemerintah sebaiknya melakukan pengadaan pompa air, baik pompa berdaya kecil untuk sumur patek maupun pompa berdaya besar untuk menyedot air sungai. Hal ini dilakukan untuk membantu petani. Dengan adanya pompa air tersebut, irigasi dapat dilakukan dengan mudah oleh petani.

Menurut Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian Indonesia, penggunaan pompa air di wilayah tadah hujan dapat meningkatkan intensitas tanam hingga 100% dan produktivitas tanaman hingga 50%. Dengan cara ini, produktivitas petani padi di Indonesia dapat berjalan lebih maksimal sehingga pemerintah tidak perlu melakukan impor beras lagi.

Baca: Fakta tentang Padi (Beras) di Indonesia

Membuka sawah baru

Semakin luas sawah di Indonesia, semakin besar jumlah produksi padi yang dihasilkan. Peningkatan kapasitas produksi padi tersebut dapat dilakukan dengan membuka sawah-sawah baru di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik, lebih dari 50% lahan sawah di Indonesia berada di Pulau Jawa. Padahal, masih terdapat luas wilayah sekitar 16 juta hektar yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan sawah. Lahan tersebut sebagian besar terdapat di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Menerapkan penggunaan benih unggul dan pupuk

Biji PadiUntuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, petani memang seharusnya menggunakan bibit unggul. Namun, penggunaan bibit yang kurang baik merupakan salah satu masalah produksi padi di Indonesia. Oleh karena itu, petani sudah seharusnya beralih dari prinsip “bibit termurah untuk hasil produksi yang tinggi” ke prinsip “bibit unggul untuk hasil unggul”.

Selain itu, penggunaan pupuk juga sangat diperlukan demi menunjang produksi. Tentu saja benih unggul dan pupuk merupakan 2 sarana produksi tanaman yang sangat penting dan memerlukan penanganan serius.

Baca: Padi Buatan Universitas Jenderal Soedirman yang Wangi dan Kaya Protein

Sumber: Litbang Pertanian Indonesia

Penulis: Hutri Cika Berutu 


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.