Melihat Daya Saing 4 Komoditas Ekspor Pertanian Indonesia

Pertanian masih sangat berperan penting dalam perekonomian Indonesia meskipun telah terjadi industrialisasi saat ini. Pada tahun 2011, jumlah GDP negara dari bidang pertanian turun 15,7%, namun pada tahun yang sama, sejumlah 42,5% penduduk Indonesia bekerja di bidang pertanian. Hal tersebut merupakan indikasi dari perubahan struktural ekonomi Indonesia yang belum sempurna.

Komoditas ekspor pertanian Indonesia berpotensi tinggi untuk mencapai daya saing yang lebih baik dan meningkatkan keberlanjutannya di masa depan meskipun ada beberapa hambatan seperti pertanian skala kecil, kualitas produk yang rendah, kegiatan pertanian yang masih tradisional, dan aturan pemerintah yang membatasi.

Berikut ini adalah daya saing dan keberlanjutan beberapa komoditas ekspor pertanian utama Indonesia:

KOPI – Peningkatan Perhatian pada Sertifikasi

Indonesia adalah penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolumbia. Harga kopi dunia semakin meningkat sejak tahun 2007, disebabkan oleh jumlah kopi yang diperdagangkan semakin berkurang dan faktor lainnya yang mempengaruhi harga produk makanan dan pertanian secara tiba-tiba.

Luas perkebunan kopi di Indonesia diestimasikan mencapai 1,3 juta hektar yang tersebar di Aceh Barat, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Timur. Lampung, Sumatera Selatan, dan Jawa Timur memproduksi kopi Robusta, sedangkan dataran tinggi Aceh, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Bali lebih cocok untuk membudidayakan kopi Arabika.

Peningkatan Perhatian pada Sertifikasi KOPI
Sumber: Kompas Ekonomi

Peraturan saat ini lebih difokuskan pada peningkatan kualitas kopi, baik untuk ekspor maupun kebutuhan domestik, dan untuk mendorong praktik pertanian yang baik. Skema sertifikasi komoditas kopi telah muncul bersamaan dengan keprihatinan yang berkembang akan tata kelola lingkungan sejak awal 1990-an dan berkembang lebih cepat. Perspektif keberlanjutan, konsekuensi jangka panjang, budidaya kopi di ekosistem alami, dan penghidupan sosial ekonomi lebih lanjut dibahas oleh akademisi, pemerintah, pihak swasta, dan LSM.

Institusi atau badan sertifikasi dapat berperan sebagai cara baru dalam mengontrol perusahaan atas produksi, perdagangan, dan konsumsi pangan dunia. Meningkatkan kompetisi sertifikasi kopi seharusnya dimulai pada tingkat yang paling mendasar yaitu memperbaiki praktek perkebunan kopi guna meningkatkan produksinya.

Masalah-masalah yang dihadapi petani skala kecil perlu ditangani dengan memberikan bantuan teknis, penyuluhan, dan pemberdayaan di lapangan. Kualitas kopi dapat ditingkatkan dengan mendorong petani untuk memilih kopi yang berwarna merah ceri. Upaya ini membutuhkan lebih banyak tenaga dan biaya sehingga petani perlu terhubung dengan sumber modal. Selain itu, kualitas kopi juga dapat ditingkatkan dengan menyediakan lantai beton untuk memastikan pengeringan biji kopi yang lebih baik.

Baca juga: 4 Masalah pada Tahap TBM Kopi dan Cara Mengatasinya

KAKAO – Revitalisasi Industri

Indonesia adalah produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Sekitar 60% wilayah perkebunan kakao Indonesia terletak di di Sulawesi. Namun, akhir-akhir ini, perkebunan kakao semakin menyebar di Sumatera karena harga kakao yang semakin meningkat di pasar dunia.

Ekspor kakao saat ini bernilai lebih dari 1 milyar USD per tahun. Sentra produksi kakao berada di Sulawesi dan Sumatera yang kemudian diekspor ke pasar Amerika Serikat dan Eropa.

Buah Kakao
Sumber: thenewcrusadingguideonline.com

Masalah yang dihadapi petani kakao Indonesia adalah hama dan penyakit, produktivitas lahan menurun yang berakibat pada menurunnya kualitas biji kakao. Selain itu, manajemen yang tidak teratur, kondisi tanah, dan distribusi yang buruk juga merupakan hambatan dalam daya saing produksi kakao Indonesia. Kebijakan ekonomi Indonesia terhadap industri kakao adalah mempromosikan ekspor langsung untuk meningkatkan devisa negara.

Gerakan nasional yang dapat dilakukan untuk mempertahankan posisi Indonesia sebagai salah satu penghasil kakao terbesar di dunia adalah dengan melakukan revitalisasi. Gerakan ini telah mengadopsi teknologi ‘somatic embryogenesis’ pada benih kakao guna memenuhi kebutuhan pembaruan bahan tanaman serta pengelolaan hama dan penyakit.

Terdapat 2 strategi yang dapat dilakukan untuk me-revitalisasi industri kakao dalam meningkatkan daya saing komoditas ekspor kakao.

  1. Pemerintah harus menetapkan tindakan nyata yang efektif dengan memperkuat penyuluhan, pemberdayaan petani, dan program pembangunan kapasitas.
  2. Benih SE (‘somatic embryogenesis’) harus disebarkan ke daerah-daerah penghasil kakao di Indonesia atau ke daerah lainnya yang tertarik dengan industri kakao. Secara teori, benih SE ini dapat meningkatkan produksi kakao di masa mendatang dan dapat berkontribusi dalam upaya revitalisasi industri kakao Indonesia.

Baca juga: Prospek Produksi Kakao di Indonesia

TEH – Menghilangkan Masalah Struktural

Indonesia termasuk produsen teh yang kecil di kancah dunia dimana hanya berkontribusi pada industri teh dunia sebesar 4% dari produksi teh dunia. Indonesia hanya memproduksi 150 ribu ton teh pada tahun 2010, jauh dibawah China, India, Sri Lanka, Kenya, Vietnam, dan Turki.

Menurunnya produksi teh Indonesia disebabkan oleh masalah struktural (masalah berskala besar yang sudah ada sejak lama dan mendasar) seperti luas lahan yang dipanen menurun. Hal ini disebabkan oleh terjadinya alih fungsi lahan dari pertanian atau perkebunan ke fungsi lainnya.

Teh, Komoditas Ekspor Pertanian dengan Daya Saing yang Tinggi
Sumber: Southeast AgNET

Pengembangan produksi teh Indonesia cukup lambat karena kurangnya investasi insentif. Selain itu, juga disebabkan oleh krisis ekonomi global 2008, harga teh dunia menurun dari 2,92 USD/kg pada tahun 2011 menjadi 2,69 USD/kg pada tahun 2012. Meskipun harga mengalami peningkatan pada tahun 2012, faktor-faktor lain yang mempengaruhi ekspor teh Indonesia yaitu kualitas produk teh dan hambatan perdagangan di negara-negara tujuan.

Masalah struktual dalam industri teh dapat diselesaikan dengan mempromosikan kebijakan yang konsisten untuk membangun kembali sistem produksi dan pemasaran. Secara teori, reformasi kebijakan seharusnya mudah diimplementasikan dilakukan karena mayoritas (56%) perkebunan dikelola dalam skala besar.

Karakteristik dan manajemen perkebunan teh perusahaan milik negara dan perusahaan swasta tentunya berbeda, sehingga sistem insentif (pendorong) dalam mengusulkan kebijakan untuk membangun kembali sistem produksi dan pemasaran di perkebunan skala besar ini harus disesuaikan dengan kebutuhan kedua perusahaan (milik pemerintah dan swasta).

KACANG METE – Dari Konservasi ke Sumber Penghasilan

Pada komoditas kacang mete, sama seperti teh, Indonesia juga termasuk produsen kecil di kancah dunia dengan hanya menyumbangkan sekitar 8% dari ekspor dunia.

Sayangnya, sebagian besar produksi mete yang diekspor ke pasar dunia belum dikuliti. Kecenderungan ini juga terjadi di beberapa negara penghasil kacang mete lainnya, dimana 40% dari produk kacang mete dunia dikuliti di luar negara penghasil. Penambahan nilai kacang mete dapat dilihat di negara seperti India dan Vietnam yang mengimpor banyak mete dari Asia dan Afrika, kemudian memberikan nilai tambah dengan mengkuliti serta proses-proses lainnya di negara mereka.

Kacang mete yang belum dikuliti dari Indonesia dapat diterima dengan baik di pasar dunia. Mete produksi Indonesia juga memiliki keunggulan yaitu berat kacang yang baik. Selain itu, Indonesia juga memiliki posisi yang baik secara geografis sehingga mampu melayani dua pembeli utama yaitu India dan Vietnam.

Waktu panen juga sangat ideal sehingga tidak ada produsen pesaing lain yang mampu memasok pembeli di periode kuartal keempat ketika Indonesia biasanya memanen.


Itulah beberapa daya saing beberapa komoditas ekspor pertanian yang perlu diketahui. Jika daya saing komoditas ekspor semakin tinggi, peluang petani untuk mengekspor hasil panennya juga semakin tinggi.

Baca juga: 4 Cara Meningkatkan Ekspor Pertanian untuk Kesejahteraan Petani

Sumber : ASEAN Journal of Economics, Management and Accounting 1 (1) : 81-100 (June 2013) ISSN 2338-9710

Penulis: Nevy Widya Pangestika
Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.