Startup Sosial Petani Indonesia
Mau tau informasi mengenai kakao di tanah Papua? Berikut Pak Tani Digital akan membagikan informasi mengenai hal tersebut. Simak ulasannya!
Produksi Kakao di Papua
Menurunnya Produksi Kakao

Baca juga: Cara Budidaya Kakao Supaya Dapat Diterima Pasar Internasional
Pada tahun 2005-2010 Kabupaten Jayapura, Papua pernah mengalami masa kejayaan sebagai penghasil kakao (coklat) hingga mencapai 9.450 ton per tahun yang membuat masyarakat hidup sejahtera dan dapat menghidupi keluarganya.
Namun sayangngnya, tahun 2011 kejayaan itu mulai memudar, hingga saat ini penghasilan kakao sudah merosot, rata-rata penghasilan kakao hanya mencapai 1.500 ton per tahun.
Sayangnya, produksi kakao di hulu terus merosot, dari 600 ribu ton kini tinggal 200 ribu ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan kakao, perusahaan harus mengimpor biji kakao dari luar negeri.
Sehingga total impor biji kakao kurang lebih 250 ribu ton per tahun. Karenanya, ia menilai akar masalahnya yakni meningkatkan produktivitas petani.
Hal ini sangat mempengaruhi kehidupan petani kakao, sekarang mereka hanya bermimpi dapat meyekolahkan anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi.
Ironisnya banyak petani harus bekerja serabutan atau menjadi tukang senso (tebang kayu) di perusahaan ilegal untuk menyambung hidup keluarganya.
Penyebab Penurunan Produksi Kakao

Baca juga: Cara Fermentasi Biji Kakao untuk Menghasilkan Cokelat yang Berkualitas
Menurunya produksi kakao ini disebabkan masalah varietas, pohon kakao lama yang ditanam tak lagi resisten terhadap hama dan penyakit, di samping juga sistem pengolahan perkebunan dan budidaya yang beda.
Sangat disayangkan jika produksi kakao di Papua terus menurun padahal kakao dari tanah Papua memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Dari jenis yang sama, kakao di Papua dapat memiliki berat biji 1,1 gram – 1,2 gram, sedangkan di Sulawesi berat bijinya lebih rendah yaitu 0,8 gram-0,9 gram.
Selain kakao, Papua sebetulnya masih memiliki banyak hasil kebun lainnya, seperti kelapa sawit, kopi, kapas, karet, tebu, dan pinang.
Dari seluruh jenis komoditas perkebunan itu, kelapa sawit menjadi salah satu komoditas perkebunan terbesar di Tanah Cendrawasih.
Namun, berbeda dengan kakao yang mayoritas lahannya adalah kebun milik rakyat, Kusnan bilang perkebunan kelapa sawit mayoritas milik perusahaan kelas kakap.
Pernyataan itu sesuai dengan data organisasi swadaya masyarakat Transformasi untuk Keadilan Indonesia (Tuk Indonesia) yang menyebut bahwa 25 perusahaan besar menguasai 242 ribu lahan sawit di Papua.
Sebenarnya peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi kakao karena tidak semua negara dapat menumbuhkan kakao dengan baik.
Namun, dengan perubahan iklim, hama, dan penyakit membuat komoditas tersebut menjadi rentan. Di sisi lain, petani memiliki keterbatasan akses finansial untuk memenuhi kebutuhan permodalan.
Jika Papua ada 30 persen masyarakat yang bisa dikembangkan produk pertaniannya, maka kami setuju jangan lagi sawit.
Itulah informasi mengenai penurunan produksi kakao di Papua. Semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat ya sobat PTD!
Baca Juga: Syarat Tumbuh Kakao Agar Tumbuh Optimal
Sumber: CNNindonesia
Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di .
Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di