inovasi pertanian oleh mahasiswa UGM

Universitas Gadjah Mada (UGM) merupakan salah satu universitas di Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan “Kampus Kerakyatan”.

Sebagai kampus yang merakyat, UGM sangat peduli dengan sektor utama yang menjadi sumber nafkah sebagian besar rakyat Indonesia, yaitu sektor pertanian.

Oleh karena itu, tidak heran jika mahasiswa UGM yang bergelut di bidang pertanian tidak henti-hentinya memperkenalkan ide dan penemuan baru demi mengembangkan pertanian di Indonesia.

Berikut beberapa ide yang disumbangkan Millenial UGM di bidang pertanian:

1. Sistem irigasi otomatis kelapa sawit

Pada Desember 2016 lalu, tiga mahasiswa UGM menjadi juara dalam kompetisi Agribiz Challenge. Mereka berhasil mengembangkan sistem irigasi otomatis untuk kelapa sawit. Sistem irigasi (alat) yang mereka buat diberi nama AiRi dan masih berupa prototipe.

AiRi merupakan teknologi yang irigasi otomatis yang dibuat dengan mengombinasikan perangkat keras dan perangkat lunak yang bekerja secara real time.

Alat ini menggunakan sensor nutrisi, lengas tanah, dan iklim mikro berbasis nirkabel. Sensor-sensor tersebut akan melihat kondisi kelembaban tanah, iklim, dan nutrisi di area perkebunan sawit. AiRi akan bekerja otomatis saat tanaman membutuhkan air. Sebagai sumber energi, alat ini dilengkapi dengan panel surya.

Baca: 5 Aplikasi Pertanian yang Harus Kamu Tahu

AiRi sebenarnya telah dirancang sejak tahun 2012. Pembuatannya berawal dari keprihatinan Millenial UGM tersebut terhadap sistem irigasi tradisional yang dilakukan petani Indonesia. Mereka menilai sistem tersebut kurang efektif karena membutuhkan banyak waktu dan tenaga.

 2. Integrated Farming System di Dusun Pending

inovasi pertanian indonesa
Source: ugm.ac.id

Masih di tahun 2016, empat mahasiswa UGM juga memperkenalkan ide mereka untuk mengembangkan integrated farming di Dusun Pending, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Alasan para millenial tersebut memilih Dusun Pending dikarenakan daerah ini merupakan daerah yang memiliki potensi pertanian yang besar, di mana pertanian pun dijadikan sebagai leading sektor. Namun, SDM di daerah ini masih terbilang rendah.

Baca juga: 5 Tips Sukses Dalam Bertani

Keempat mahasiswa UGM tersebut melakukan pengabdian selama beberapa hari di Dusun Pending. Kemudian, mereka berbagi pengetahuan dengan masyarakat mengenai pertanian modern untuk memberikan jaminan keberhasilan pertanian yang lebih tinggi.

Dalam sosialisasi yang dilaksanakan, para Millenial UGM tersebut menjelaskan program pembuatan pupuk organik, pestisida organik kebun sayur.

Hal ini dilakukan dengan harapan masyarakat mendapat pengetahuan teori sekaligus praktik tentang pengembangan pertanian yang lebih efektif dan efisien.

3. Wisata cokelat pasir Merapi

inovasi pertanian di indonesia
Source: ugm.ac.id

Pada 2016, beberapa mahasiswa UGM yang tergabung dalam sebuah kelompok di Fakultas Pertanian UGM berhasil mengembangkan Wisata edukasi cokelat pasir Merapi.

Program ini dinamakan Edu Agro Tourism of Cocoa (EAT COCOA Merapi) dan dilaksanakan di Dusun Tanen, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.

Pengembangan EAT COCOA Merapi dilakukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat petani. Hal ini juga sekaligus dilaksanakan untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga desa sekitar.

Kawasan Agrowisata seluas 9,9 hektar ini dikelola oleh Kelompok Tani Cokelat Tanen. Kegiatan mereka berupa pelaksanaan konservasi lingkungan, pembibitan kakao, pembuatan pupuk kompos dan pupuk cair organik, fermentasi biji kakao, dan pengendalian hama penyakit.

Baca: Millenial, Yuk Belajar Mengatasi Hama Tanaman dari Teknik Pertanian Amerika Serikat!

Atas kegiatan-kegiatan tersebut, program agrowisata ini berhasil mendapat Hibah Bina Desa dari DIKTI yang digunakan untuk menunjang segala kegiatan di Dusun Tenan untuk pengembangan wisata cokelat pasir Merapi.

4. Pelatihan tanam anggrek secara kultur jaringan 

Pada 2017 lalu, beberapa mahasiswa dari Fakultas Biologi UGM beserta sejumlah dosen mulai melakukan pelatihan tentang budidaya anggrek secara kultur jaringan.

Pelatihan ini dilaksanakan di Dusun Banyunganti, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Kegiatan ini dilakukan untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat Banyunganti tentang cara mengembangkan anggrek sebagai eduwisata. Selain itu, pelatihan juga dilaksanakan dalam usaha pengembangan konservasi anggrek di daerah tersebut.

Fakultas Biologi UGM pun menjadikan Dusun Banyunganti sebagai desa binaan. Untuk keperluan budidaya anggrek tersebut, selain softskill, warga juga diberikan alat-alat yang diperlukan  untuk pengembangan anggrek. Harapannya, warga tersebut dapat menjadikan budidaya anggrek sebagai kegiatan bisnis mereka.

Demikian beberapa ide yang telah disumbangkan mahasiswaUGM di sektor pertanian Indonesia.

Bagi kamu yang merupakan millenial dari kampus lain, terutama yang sedang menempuh pendidikan di bidang pertanian, jangan mau kalah yaaa! Yuk, sama-sama kita bangun sektor pertanian Indonesia menjadi lebih baik!

Penulis: Hutri Cika Berutu 

Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.