Kacang Lurik, Kacang Tanah Varietas Unggul yang Tahan Penyakit

Tanaman kacang tanah yang hijau di lahan yang segambreng itu sudah cukup memuaskan bagi Barno. Namun, pekebun di Desa Depokrejo, Purworejo, Jawa Tengah itu terkejut ketika menemukan tanamannya layu. Dari pengalaman sebelumnya, tanaman seperti itu tidak bisa menghasilkan polong. Dari hari ke hari, makin banyak tanaman yang layu. Ketua Kelompok Tani Makmur 05 menduga tanamannya terserang penyakit layu bakteri.

Penyakit akibat serangan bakteri Raistonia solanacearum dapat mengagalkan panen hingga 15-35%. Sebab, bakteri itu dapat menyerang mulai dari tanaman berumur sepekan hingga siap panen. Akibatnya, para petani pun menjadi rugi. “Sebelumnya saya bisa panen sekitar 3 ton per ha. Namun, sekarang akibat penyakit layu, saya hanya bisa panen maksimal 1,5 ton per ha sekali panen” ujar Barno.

Maka dari itu, cara untuk mengatasi masalah penyakit layu bakteri, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada mengembangkan kacang tanah unggul. Varietas kacang tanah baru itu memiliki karakter yang berbeda dengan kacang tanah lain. Jumlah polong minimal 3, maksimal 5. Bijinya pun berukuran lebih besar dengan bobot 0,89 g per polong atau 89 g per 100 biji. Kacang tanah lain hanya berbobot polong 0,5 g per biji atau 50 g per 100 biji. Itulah varietas kacang tanah lurik.

Menurut ketua peneliti, Dr Budi S. Daryono, produktivitas per tanaman tergolong tinggi, kurang lebih 25 polong per tanaman. Umumnya, hanya 15 polong per tanaman. Itulah pilihan baru petani kacang tanah, Arachis hypogaea yang menambah produksi tinggi. Jika rata-rata produktivitas lokal 1,5-3 ton per ha, kacang lurik mencapai 3,7-4,5 ton per ha. Petani akan mendapatkan untung hingga 2 kali lipat dari sebelumnya.

Kacang Lurik

Baca: Kopi Rengganis, Kopi Manis dari Bumi Nusantara

Menurut mahasiswa Fakultas Biologi UGM, Aditya Novianto, kacang varietas baru ini dikembangkan di Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Fakultas Biologi UGM dengan proses teknik polipodisasi atau penggandaan kromosom tumbuhan. Dengan cara itu, tanaman yang dihasilkan mempunyai ukuran karakter fenotip baik akar, batang, daun, bunga, buah, serta biji yang umumnya lebih besar daripada tanaman induknya.

Selain itu, kacang varietas baru ini memiliki ciri yang unik. Bagian kulit dan polong bijinya mempunyai corak lurik atau bercak-bercak garis ungu kecoklatan. Hasil riset menunjukkan bahwa kacang lurik tahan terhadap penyakit layu bakteri. Aditya berserta temannya, Ikhsanudin Nur Rosyidi, membudidayakan tanaman anggota famili Fabaceae itu di green house.

Uji multilokasi dilaksanakan di beberapa area yang tersebar di 3 provinsi, yakni Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Para periset menguji kacang baru itu berdasarkan rancangan acak kelompok berulangan. Caranya, mereka menanam setiap galur berjarak tanam 45 cm x 30 cm. Selanjutnya, mereka membuat lubang dengan cara menugal. Tiap lubang terdiri atas satu benih kacang tanah.

Pemeliharaan kacang tanah asal Blitar, Jawa Timur, itu relatif mudah. Penyiraman cukup 4 kali dalam satu periode budidaya atau 75 hari. “Lebih sedikit dibanding varietas lain, 6 kali per siklus,” kata Ikhsan. Penyiraman pada periode budidaya kritis yaitu pada umur 1-5 hari setelah tanam, 25-35 hari (waktu berbunga), 45-55 hari (saat pembentukan polong), dan 70-80 hari (saat kacang siap panen).

Selain itu, juga melakukan penyiangan untuk mengurangi persaingan  tanaman dengan gulma. Frekuensi penyiangan sebanyak 2 kali, yakni pada saat tanaman berumur 2 MST dan 4 minggu (tergantung keadaan gulma). Tanaman dipanen pada umur 75 hari. Dengan potensi hasil polong kering rata-rata hingga 4,5 ton per hektar, kacang lurik bisa menjadi solusi untuk mengatasi impor kacang tanah.

Lahan Pertanian Kacang Tanah

Baca: Mengenal Daun Moringga dari Ir. Ai Dudi Krisnadi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi kacang tanah Indonesia pada tahun 2015 mencapai 1 juta ton dari luas panen 794.000 ha. Itu berarti rata-rata produksi nasional 1,3 ton per ha. Yang terus mengkhawatirkan, luas panen 5 tahun terakhir terus menurun. Pada tahun 2015, Indonesia mengimpor 130.000 ton kacang tanah. Volume impor sebesar itu boleh jadi tidak perlu dilakukan bila petani menanam varietas kacang lurik.

Kacang asal Blitar mampu adaptif jika ditanam di lahan kering dan lahan penyakit layu bakteri seperti yang dialami Barno serta penyakit karat daun. Menurut pemulia kacang tanah di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, Prof. Dr. Astanto Kasno, “Di lahan marginal, kacang tanah paling adaptif ditanam dan menguntungkan dibanding dengan tanaman pangan lain.”

Di Indonesia, terdapat 25 juta ha lahan kering yang belum tergarap maksimal. Petani menginginkan kacang tanah yang produktif. Selain produksi yang tinggi, juga harus unggul dari segi ketahanan terhadap hama dan penyakit. Kehadiran kacang tanah lurik yang tahan penyakit dan cekaman kekeringan dapat menjadi solusi di tengah perubahan iklim yang tidak menentu. Produktivitas tetap tinggi dan pendapatan pekebun dapat meningkat.

Baca: Padi Buatan Universitas Jenderal Soedirman yang Wangi dan Kaya Protein

Penulis: Yusril Wicaksana
Mahasiswa Jurusan Agroteknologi – Univ. Muria Kudus


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.