Saya menerima beberapa nasihat terbaik yang pernah saya terima, namun pada waktu itu, saya sedikit lengah.

Saat yayasan kami baru berdiri beberapa tahun, mantan pemimpin World Food Programme mengatakan hal ini kepada rekan saya, “Jika suatu yayasan tidak memperhatikan perbedaan kesetaraan gender di pertanian, yang engkau kerjakan sama seperti para pendahulumu di masa lampau, yang hanya menghamburkan uang. Namun perbedaannya, apa yang engkau hamburkan malah lebih banyak”.

Baca Juga : Ini Dia Masalah Menahun Pertanian di Indonesia

Bill dan saya mulai membangun yayasan untuk membantu melawan penyakit dan kemiskinan di seluruh dunia. Kami berinvestasi di bidang pertanian karena setidaknya ada 75% orang-orang termiskin didunia bertempat tinggal di daerah pedesaan, dan mayoritas dari mereka sangat bergantung kepada pertanian sepanjang hidup mereka. Bagaimana membuat ladang mereka menjadi lebih produktif menjadi lebih berdampak?

Wanita, Pertanian dan Kesetaraan Gender

Saya malu untuk mengatakannya hari ini, namun waktu itu, saya tidak berpikir banyak soal kesetaraan gender dalam pekerjaan kami untuk mengatasi kemiskinan. Saya pastinya tidak berpikir bagaimana hubungan mereka dengan pertanian. Saya berani bertaruh bahwa jika Anda meminta saya untuk menutup mata saya dan meminta saya membayangkan petani yang ingin kami bantu, saya akan membayangkan seorang lelaki.

Baca Juga : Pangan Murah Petani Sejahtera, Benarkah?

Namun sebaliknya, setidaknya saya mungkin juga akan membayangkan seorang wanita, yaitu seorang ibu. Dalam upaya menghidupi keluarga kecil petani tidak tergolong mudah. Data menunjukkan bahwa sebuah studi di tahun 2011 dari Organisasi Pangan dan Pertanian Persatuan Bangsa-Bangsa, jumlah petani wanita di negara-negara berkembang hanya mencapai angka 20%-30% lebih rendah dari petani pria.

Mengapa jenjang ini tetap ada? Bukan karena dari dasarnya bahwa pria lebih baik dalam hal bertani, namun petani yang sukses benar-benar membutuhkan pembelajaran di banyak hal. Seperti memiliki lahan yang baik, bibit benih unggul, peralatan, dan pengetahuan. Namun kebanyakan petani wanita tidak memiliki kesetaraan yang sama dalam mengakses hal-hal demikian.

Baca Juga : Melihat Kiprah Koperasi Pertanian Dalam Menyejahterakan Petani Indonesia

Sebuah dinding yang menahan para petani wanita terlihat dari berbagai sisi dan aspek. Beberapa negara masih memiliki peraturan yang mengatur para wanita dalam mengurus lahan pertanian. Norma budaya juga mengatur perbedaan segi dari sisi keterlibatan pria dan wanita dalam bertani maupun beternak. Dan karena pertanian membutuhkan fokus yang tinggi agar lebih banyak menghasilkan hanya dapat dilakukan oleh pria, dibandingkan wanita saat bertani.

Hal itu masih sebagian saja. Wanita juga jadi memiliki tanggung jawab yang sedikit dalam mengurus rumah, seperti mengurus keuangan keluarga. Norma budaya juga menggambarkan bahwa wanita tidak hanya bertani, mereka juga harus mampu menghabiskan waktu untuk mengumpulkan air dan kayu dalam memasak dan mengurus keluarga. Karena keterbatasan itulah yang membuat wanita tidak memiliki waktu yang cukup untuk bertani.

Pertanian dan Kesetaraan Gender
Ilustrasi : Pertanian dan Kesetaraan Gender (Pixabay)

Program Nyata Untuk Kesetaraan Gender Dalam Pertanian

Apa yang kami pelajari ini adalah suatu anugrah untuk saya dan Bill. Kami mulai berpikir bagaimana teknologi dapat membantu mereka untuk meningkatkan pendapatan lewat bertani. Namun potensi dalam pertanian tidak hanya berkembang seperti penggunaan bibit unggul, namun memiliki kekuatan dari mereka yang menanamnya. Karena itu, usaha kami haruslah memadukan kedua sisi tersebut.

Sejak saat itu, kami mulai membuat pendanaan secara cuma-cuma yang ditujukan untuk merefleksitas kehidupan petani wanita yang sesungguhnya. Contohnya, kita membantu salah satu dari rekan kita, Radio Pertanian Internasional untuk membangun program yang mendidik wanita dalam bertani. Berbagai program kita canangkan seperti bagaimana teknik menanam dari dasar. Tidak hanya acara, program yang dibuat juga disesuaikan dengan waktu yang tepat dimana waktu kapan wanita mendengarkan radio. Dengan demikian semuanya menjadi terarah programnya.

Program lain yang kita laksanakan yaitu pendidikan untuk mengajari para suami betapa pentingnya kesetaraan gender dalam bertani kepada istrinya. Program ini dilaksanakan oleh rekan kami, CARE.

Dampak Program Kesetaraan Gender Untuk Pertanian

Saya berkeliling ke Malawi untuk melihat bagaimana program ini berjalan dan menghabiskan waktu bersama seorang petani bernama Patricia. Ia mengatakan bahwa program ini telah menolongnya untuk belajar hal baru dalam pertanian. Dan sangat berdampak di kehidupan pernikahannya.

Setelah ikut dalam program tersebut, suami Patricia sadar bahwa tidak mengikutsertakan istrinya dalam pertanian hanya akan menjauhkan ia dari penambahan penghasilan keluarga. Karena demikianlah suaminya mulai berubah.

Baca Juga : 3 Alasan Petani Harus Bergabung Dengan Koperasi Pertanian

Saat saya mengunjungi desanya, Particia telah meningkatkan hasil panennya empat kali lipat dan berencana akan meluaskan lagi lahannya. Sembari ia mempelajari ilmu baru dan tenik yang telah ia gunakan dalam teknik pertaniannya, ia berkata kepada saya, “Sekarang saya sudah mampu membantu suami saya”.

Saat saya menutup mata setelah membayangkan Patricia, saya juga membayangkan rekan saya untuk melakukan demikian. Karena saat kita sadar tentang permasalahan utama dalam pertanian, kita lebih gampang membantu mereka.

Buku terbaru saya “The Moment of Lift” mengangkat sebuah kasus yang memprioritaskan kesetaraan gender di seluruh dunia. Saya percaya, dengan mengangkat derajat, kita mampu untuk menaikkan para wanita, terkhusus memberi dampak kemanusiaan. Cerita Patricia mendemonstrasikan secara keseluruhan apa yang harus diangkat dari sisi wanita tidak boleh dilupakan.

Dilansir dari CNN Business


Catatan Editor : 

Melinda Gates adalah  wakil ketua dari Yayasan Bill & Melinda Gates. Semua yang tertulis dibawah adalah atas keinginan beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.