Mari Cari Tahu Tentang Keprokisasi Jeruk Nasional

Komoditas tanaman buah yaitu jeruk merupakan salah satu jenis tanaman yang diminati oleh petani di Indonesia. Iklim tropis Indonesia sangat cocok menjadi lingkungan tumbuhnya jeruk. Potensi ini sudah banyak disadari masyarakat, terlihat dari meningkatnya jumlah petani jeruk di sekitaran wilayah Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat, dan Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Dulu sekali, jeruk yang terkenal hanya berasal dari Berastagi, Kabupaten Karo. Sekarang ini, jika Anda berjalan-jalan ke beberapa wilayah kabupaten di dataran tinggi Toba, sudah banyak orang yang membudidayakan jeruk. Dan, di daerah lain juga, misalnya di Batu, Kabupaten Malang, jumlah petani jeruk mengalami peningkatan.

Permintaan jeruk yang kian meningkat dan harganya yang terbilang lumayan menjadi harapan yang menjanjikan bagi orang yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari bertani. Komoditas jeruk menempati urutan ke-3 sebagai buah yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia pada tahun 2015 dan 2016, dengan tingkat konsumsi 3,28 kg/kapita/tahun pada 2015 yang naik menjadi 3,6 kg/kapita/tahun pada 2016. Mengenai harga, seperti yang dilansir dari Sindo News, harga jeruk manis per kilogramnya bisa mencapai Rp 12.000,- hingga Rp 12.500,-.

Produksi jeruk diperkirakan akan terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 4,93% per tahunnya. Sayangnya, di pasaran, masih terdapat jeruk impor yang berukuran lebih besar. Menanggapi hal ini, Kementerian Pertanian bertekad untuk menggantikan jeruk impor dengan jeruk keprok (lokal) yang dihasilkan dari bibit unggul, sehingga ditargetkan pada tahun 2020, swasembada jeruk tercapai dan ekspor sudah dilakukan ke banyak negara lain.

Baca: Ekspor Hasil Pertanian Itu Tidak Seribet yang Kita Pikir

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman
Sumber: tulungagungtimes.com

Negara tujuan ekspor jeruk Indonesia dengan bentuk hasil segar yang terbesar adalah Malaysia (1.017,67 ton), Perancis (43.016 ton), Saudi Arabia (26.510 ton), Belanda (8.107 ton), dan Singapura (1.501 ton). Sedangkan pasar ekspor terbesar untuk produk jeruk dalam bentuk olahan adalah Papua New Guinea, dengan nilai ekspor sebesar US$ 417.497, dan Singapura dengan nilai ekspor sebesar US$ 23.644. Peluang pasar ekspor lainnya yang perlu dikembangkan untuk jeruk yaitu Hongkong dan Timor Timur.

Baca: Tingginya Potensi Ekspor Manggis di Pasar Dunia

Kementerian Pertanian mengawali target ini dengan membagikan bantuan satu juta benih jeruk keprok unggul sekaligus pupuknya secara gratis di Kota Batu, Malang pada pertengahan Juli 2018. Benih unggul ini memiliki produktivitas yang lebih tinggi dan tahan terhadap penyakit akar.

Jeruk keprok merupakan jeruk yang warna kulitnya hijau kekuningan. Iklim yang baik untuk jeruk keprok yakni tropis dengan suhu 25-30 derajat Celcius yang umumnya dimiliki oleh daerah di dataran tinggi. Sebenarnya, jeruk keprok dapat tumbuh di dataran rendah, namun kualitasnya tidak sebaik di dataran tinggi.

Mengapa Indonesia masih impor jeruk ?

Jeruk
Sumber: republika.co.id

Ironi ketika mengetahui fakta bahwa negara Indonesia belum mampu swasembada jeruk dan masih melakukan impor jeruk saat produksi jeruk dalam negeri melebihi permintaan. Bukan hanya jeruk saja, komoditas lainnya seperti kopi dan garam juga mengalami hal serupa.

Inilah yang terjadi di pasar komoditas jeruk.

  • Minat konsumen akan jeruk impor masih tinggi, artinya mindset “asal dari luar negeri pasti bagus” masih melekat di ingatan masyarakat Indonesia, termasuk komoditas pertanian lainnya.
  • Ketersediaan jeruk lokal yang tidak diatur dengan benar oleh pemerintah. Misalkan, terjadi panen raya jeruk lokal, sehingga jumlah jeruk lokal di pasaran melebihi permintaan konsumen. Idealnya disimpan di dalam stock storage, yang membuat jeruk mampu bertahan 6-12 bulan ke depan. Mirisnya, stock storage jeruk lokal tidak sebaik stock storage barang impor, yang mampu menyimpan barang impor relatif lebih lama.
  • Dalam beberapa aspek, jeruk lokal masih kalah saing dengan jeruk impor. Maka dari itu, gebrakan pemerintah dengan meluncurkan bibit unggul jeruk keprok ini diharapkan mampu menekan impor jeruk.

Baca: 5 Tips Sukses dalam Bertani

Penulis: Junita Solin
Mahasiswa Agronomi Universitas Gadjah Mada


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.