Stevia Rebaudiana

Apakah Anda sudah mengetahui tentang Stevia Rebaudiana, tanaman perdu dari Paraguay yang kemungkinan bisa menggantikan peran tebu?

Siapa yang tak suka rasa manis? Mayoritas semua orang pasti menyukainya. Meski ada ancaman kesehatan dibalik rasa manisnya gula tebu, nyatanya semua jenis makanan hampir mengandung gula dalam kadar yang tidak sedikit.

Dua isu utama selalu muncul akibat penggunaan gula dari ekstrak tanaman tebu. Pertama, masalah kesehatan. Gula tebu mengandung kalori tinggi yang dapat menyebabkan penyakit diabetes melitus, gagal ginjal, stroke, hingga obesitas.

Kedua, ketergantungan terhadap impor. Indonesia terus melakukan impor gula, bahkan pada 2018 tercatat sebagai negara pengimpor gula terbesar di dunia, yakni sebesar 4,45 juta metrik ton gula (BPS).

Produksi gula dalam negeri memang tidak mencukupi kebutuhan gula yang terus meningkat.

Upaya Mengurangi Ketergantungan Gula Tebu

Upaya mengurangi ketergantungan terhadap gula tebu pun dilakukan. Berbagai jenis pemanis alami dan buatan telah diproduksi. Gula aren, gula kelapa, bit, dan madu adalah jenis pemanis alami.

Sedangkan Aspartame, saccharine, sorbitol, siklamat, dan xylitol adalah pemanis buatan yang lebih umum digunakan oleh industri.

Berbagai jenis bahan pemanis pengganti tebu tersebut masih mengandung kalori yang dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Baca Juga: 5 Langkah Budidaya Selada Hidroponik dengan Mudah

Apalagi pemanis buatan, nilai kalorinya memang rendah, namun sulit dicerna oleh tubuh. Penggunaannya dalam jangka panjang bahkan dapat menimbulkan kanker.

Stevia Rebaudiana adalah salah satu jawaban yang coba diulik oleh peneliti Indonesia. Sejak 1984, pemerintah telah mencoba mengembangkan tanaman perdu yang berasal dari Paraguay, Amerika Latin.

Bahan pemanis yang dihasilkan oleh Stevia, yakni Glikosida Steviol (GS) termasuk dalam jenis high intense sweetener. Dalam jumlah yang sama, tingkat kemanisan GS setara dengan 300 kali gula tebu.

Menariknya lagi, GS bersifat nol kalori.  Sehingga, karakter bitter after taste yang dihasilkan GS tidak mengurangi minat masyarakat untuk mengonsumsinya.

Apalagi, telah ditemukan cara ekstraksi untuk menghilangkan karakter after taste tersebut.  

Benih Stevia Rebaudiana
bukalapak.com

Keamanan Penggunaan Glikosida Steviol (GS)

Banyak negara di dunia yang menggunakan GS sebagai bahan pemanis.  Keamanan GS memang telah diakui oleh Codex Alimentarius Commission (CAC).

Sebuah organisasi internasional yang bertanggung jawab melakukan sertifikasi bahan pangan dibawah FAO dan WHO. Bagaimana dengan Indonesia? Penggunaan GS telah diizinkan oleh BPOM RI sejak 2014.

Namun, hingga saat ini Stevia belum dibudidayakan secara massal. Petani masih enggan melakukan budidaya, sebab belum ada satu pun industri di Indonesia yang memproduksi GS dari ekstrak daun Stevia dalam skala komersial.

Baca Juga: Ini Dia 6 Langkah Mudah Budidaya Tebu yang Perlu Kamu Coba

Potensi Hasil Budidaya Stevia

Sebuah kabar gembira dari ITB hadir pada 2018. Tim peneliti ITB telah berhasil memproduksi GS dalam skala lapang. Penelitian yang didanai oleh Kemenkes tersebut dilakukan bersama PT. Kimia Farma.

Bahan baku berupa daun Stevia kering, didapatkan melalui proses budidaya di daerah Ciwidey, Bandung. Stevia yang mereka kembangkan berhasil panen hingga 12 kali dalam setahun.

Potensi hasil budidaya Stevia mencapai 12 ton per tahun, yang setara dengan 1,2 ton daun kering. Kandungan GS minimum dalam daun kering adalah 10%, sehingga 1 hektar lahan setidaknya dapat menghasilkan 120 kg GS. Jumlah ini setara dengan 3,6 ton gula tebu.

Kebutuhan Glikosida Steviol (GS) Di Indonesia Menjadi Peluang Bisnis

Estimasi kebutuhan GS di Indonesia telah mencapai 350 ton per tahun. Sedangkan daerah yang membudidayakan Stevia masih terbatas di dataran tinggi (700-1.500 mdpl).

Lahan budidaya Stevia di Ciwidey misalnya, hanya beberapa hektar saja. Daerah yang juga dikenal sebagai penghasil Stevia adalah Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Berdasarkan informasi dari pebisnis Stevia di Karanganyar, harga daun kering berkisar antara Rp7500-12.000 per/kg.  Ia berhasil mengembangkan budidaya Stevia dengan hasil 25-35 ton daun kering per hektar dalam setahun.

Peluang bisnis budidaya dan produksi daun kering Stevia masih terbuka luas. Sebab, telah ditemukan pula upaya rekayasa budidaya Stevia yang berhasil dilakukan di daerah dataran rendah.

Komersialisasi produk turunan Stevia juga tidak hanya berupa GS. Ekstrak stevia dapat dikemas sebagai pemanis untuk berbagai jenis minuman herbal seperti teh hijau, rosella, kopi, dan jamu.


Nah itu dia sedikit ulasan tentang Stevia Rebaudiana yang Berpotensi Menyingkirkan Tebu. Bagaimana sobat PTD?

Jangan lupa SHARE artikel ini kepada teman-teman kamu ya!

Baca Juga: Bagaimana Langkah Mentan Untuk Lawan Alih Fungsi Lahan ?

Penulis: Rahmawati Sa’diyah

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini.

Referensi:

  • https://www.itb.ac.id/news/read/56684/home/dosen-itb-kembangkan-pemanis-alami-dari-daun-stevia
  • Pengembangan Tanaman Pemanis Stevia rebaudiana (Bertoni) di Indonesia oleh Djajadi dalam Jurnal Perspektif Vo.13 No.1/Juni 2014 Hlm 25-33.
  • Komersialisasi Produk Stevia (Stevia Rebaudiana) sebagai Pemanis Alami Rendah Kalori oleh Didik Purwadi, Makhmudin Ainuri, M.Prasetya Kurniawan, dan Andi B.Dermawan dalam proceeding Seminar nasional APTA, 16 Desember 2010.
  • Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Stevia (Stevia rebaudiana b.) Pada Persentase Naungan dan Umum Panen Berbeda di Dataran Rendah dalam Jurnal Agro Complex 2(3):269-274, Oktober 2018.
  • Wawancara daring Pebisnis Stevia di Karanganyar melalui instagram @stevigro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.