Indonesia, negeri dengan keindahan alam yang sangat menawan, menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata internasional. Hampir semua pemandangan alam seperti gunung, laut, danau, dan hutan dapat ditemui di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga menawarkan keragaman budaya yang menjadi daya tarik tersendiri.

Berbicara soal pariwisata, Pulau Dewata Bali tentunya menjadi maskot wisata Indonesia. Di Bali, segala hal dibumbui pariwisata, termasuk berkuliah di Fakultas Pertanian. Di sini, diajarkan mengenai agrowisata dan bagaimana seharusnya petani mampu menyuplai kebutuhan konsumsi untuk hotel dan restoran yang sayangnya belum berjalan dengan baik.

Namun, haruskah kita mengembangkan agrowisata di Indonesia? Menurut warga Indonesia, jawabannya adalah iya. Karena dengan mengembangkan agrowisata, penduduk sekitar dapat meningkatkan penghasilan, dari menjual souvenirs, memanfaatkan rumahnya untuk dijadikan ‘guest house’, dan berkreasi untuk menciptakan produk olahan pasca panen.

Tapi, bagaimana jika kita melihat dari perspektif yang berbeda? Bagaimana jika kita lihat dari sudut pandang seorang WNA di Indonesia? Simak uraian berikut ini.

Xavier Zayou, Wisatawan Perancis di Bali
Xavier Zayou

Menurut Xavier Zayou, bule Perancis-China yang saat ini tengah bermukim di Nusa Dua Bali untuk kegiatan volunteer, mengaku bahwa secara khusus, Bali sudah sangat padat dengan wisatawan asing dan pengembangan-pengembangan pariwisata umumnya menguntungkan pihak asing, sedangkan warga negara Indonesia hanya bekerja kepada mereka di negeri sendiri. Selain itu, Xavier mengaku kurang setuju jika digencarkan pengembangan agrowisata karena alasan berikut:

Terjadi eksploitasi SDA besar-besaran

Di Bali, pada khususnya, terjadi alih fungsi lahan secara masif. Lahan yang mulanya persawahan kini dibangun menjadi hotel. Xavier mengaku bahwa 2 tahun yang lalu, ia mengunjungi Ubud dan belum terdapat ‘Bali Swing’ di sana, sekarang sudah ada banyak sehingga daerah tersebut kehilangan keautentikannya.

Baca: Mengapa Sawah ‘Hilang’? Apa Penyebabnya?

Pengembangan Hotel Lebih Masif

Dengan pengembangan pariwisata, khususnya agrowisata, diharapkan masyarakat lebih berperan aktif agar mereka juga ikut menikmati keuntungan dari pariwisata tersebut.

Namun, sangat sulit untuk melibatkan masyarakat dengan cara mengubah rumah mereka menjadi ‘guest house’ sehingga kebanyakan tamu menginap di hotel. Jika banyak wisatawan yang menginap di rumah-rumah warga yang dijadikan ‘guest house’, tentunya akan membantu meningkatkan pendapatan mereka. Nyatanya, hal tersebut masih sulit dilakukan.

Pembangunan Hotel di Bali
Pembangunan Hotel di Bali | Sumber: beritabali.com

Baca: 6 Penyebab Lahan Pertanian di Indonesia Semakin Kritis

Produksi Wine Indonesia

Berasal dari negeri Eiffel, tentu Xavier sudah sangat familiar dengan wine. Di Indonesia sendiri, pasar wine masih didominasi oleh wine impor.

Hal yang bagus memang jika kita berusaha mengembangkan wine sendiri. Bahkan, saat ini, wine Indonesia produksi Bali sudah diekspor ke Australia dan tidak kalah dengan wine buatan Perancis dan Italia.

Namun, Xavier juga berharap bahwa masyarakat Indonesia tidak hanya fokus memberikan wisatawan asing hal-hal yang bisa mereka dapatkan di negerinya melainkan seharusnya lebih memperkenalkan kuliner atau minuman lokal seperti jamu.


Kesimpulannya adalah sektor pariwisata memang mungkin lebih berpotensi untuk menghasilkan banyak uang termasuk mendatangkan devisa negara. Menurut Xavier, jika memang Indonesia ingin mengembangkan agrowisata, harus lebih mempedulikan kesejahteraan masyarakatnya terlebih dahulu karena kita sudah terlalu banyak berkorban untuk turis.

Di Bali, misalkan, banyak air dari sumber yang langsung dialirkan dengan pipa ke kawasan pariwisata sehingga hal tersebut merugikan warga karena mereka mengalami kekeringan saat kemarau tiba.

Indonesia juga memiliki kendala pembuangan limbah. Dengan semakin banyaknya hotel, semakin besar masalah limbah yang harus ditangani.

Selain itu, hotel dan restoran harusnya lebih melibatkan petani sebagai suppliernya.

Baca: Pandangan Seorang Gadis Jerman Terhadap Isu Pertanian Indonesia

Gambar utama: Malini Agro Park Bali (phinemo.com)

Penulis: Nevy Widya Pangestika
Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Udayana


Sudah download aplikasi Pak Tani Digital? Klik di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.