Ekspor Produk Sawit Turun Akibat Adanya Corona

Mau tau informasi mengenai ekspor sawit mengalami penurunan? Berikut Pak Tani Digital akan membagikan informasi mengenai hal tersebut. Simak ulasannya!

Eksor Produk Sawit

Penurunan Ekspor Sawit

ekspor sawit
ekonomibisnis.com

Baca juga: DPR Cecar Kementan Peremajaan Lahan Sawit Jauh dari Target

Produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) domestik mengalami keresahan dari beberapa bulan yang lalu, saat virus corona menyerang ribuan warga China.

Serangan virus corona ini berpotensi membuat permintaan CPO dari China, yang merupakan pasar terbesar dunia mengalami  penurunan yang sangat tajam.

Adanya wabah virus corona ini telah berdampak serius terhadap industri sawit Indonesia dikarenakan Negara China, India dan Eropa masih merupakan pasar terbesar.

Kalau pengiriman ke China terganggu pastinya akan berdampak sangat besar.

Hal ini dibuktikan dengan produksi kelapa sawit dalam negeri per Januari 2020 meningkat sekitar 0,86% atau sebesar 3,48 juta ton.

Dibandingkan produksi Desember 2019 yang hanya 3,45 juta ton, China menjadi pasar ekspor terbesar sebanyak 6 juta ton (di luar produk oleokimia dan biodiesel).

Sayangnya, peningkatan produksi itu harus diiringi oleh penurunan ekspor produk turunan kelapa sawit mulai dari CPO, Palm Kernel Oil (PKO), dan biodiesel sebesar 35,6% atau hanya 2,39 juta ton.

Selain China, ekspor CPO terbesar kedua ke India sebesar 4,8 juta ton dan Uni Eropa 4,6 juta ton.

Khusus untuk produk oleokimia dan biodiesel, ekspor terbesar adalah ke China 825 ribu ton, diikuti oleh Uni Eropa 513 ribu ton.

Sementara itu, ekspor minyak sawit ke Afrika mencapai 2,9 juta ton pada 2019, naik 11% dari 2,6 juta ton pada 2018.

Harapan Petani Sawit

ekspor sawit
rri.co.id

Baca juga: Pendanaan Petani Sawit Sebesar Rp 25 Juta/Hektar, Kok Bisa?

Adapun penurunan tersebut terjadi di hampir semua negara tujuan ekspor sawit. Mulai dari China turun 57% atau sebanyak 381 ribu ton.

Ke Uni Eropa (European Union/EU) turun 30% atau 188 ribu ton, ke India turun 22% atau sebanyak 141 ribu ton

Dan ke Amerika Serikat (AS) turun 64% atau sebanyak 129 ribu ton. Sementara, ke Bangladesh naik 52% atau sebanyak 40 ribu ton.

Penurunan ekspor yang cukup drastis dalam bulan Januari kemungkinan karena masih tersedianya stok di negara-negara importir utama, atau importir menunggu respons pasar terhadap program B30 yang diterapkan Indonesia.

Konsumsi CPO dalam negeri meningkat 1,8% menjadi 1,47 juta ton di Januari 2020, sementara pada Desember 2019 hanya 1,45 juta ton.

Selain itu, harga CPO dunia menjadi sebesar US$ 830/ton dari yang hanya sebesar US$ 787/ton pada Desember 2019.

Kenaikan ini diharapkan dapat mendorong produksi petani sawit dan keinginan akan merawat kebunnya agar produktivitas meningkat.

Harga yang baik ini diharapkan akan menjadi penyemangat bagi pekebun dan perusahaan perkebunan untuk memelihara kebun dengan lebih baik agar mendapatkan produktivitas yang tertinggi.


Itulah informasi mengenai penurunan ekspor sawit akibat Wabah Corona. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat ya sobat PTD!

Baca juga: Pembangkit Listrik Biogas dari Limbah Sawit

Sumber: Detikfinance.com

Ingin menjual hasil panen kamu langsung ke pembeli akhir? Silahkan download aplikasi Marketplace Pertanian Pak Tani Digital di sini.

Butuh artikel pertanian atau berita pertanian terbaru? Langsung saja klik di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.