Pengaruh Swasembada Pangan Indonesia di Tangan Petani Muda

Berbicara mengenai ketahanan pangan sudah merupakan hal yang wajib, mutlak untuk dipenuhi karena ketahanan pangan adalah kelangsungan hidup dan stabilitas ekonomi masyarakat. Suatu negara akan tetap aman jika ketahanan pangannya kuat.

Hal ketahanan pangan tersebut telah dijelaskan dalam Undang Undang No 18 Tahun 2012 yang menjelaskan “Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia sebagai Negara Agraris dengan letak yang sangat strategis serta iklim yang mendukung dalam kegiatan bercocok tanam, tanah yang subur sangat menguntungkan bagi kita. Namun permasalahannya adalah, apakah dengan kondisi seperti itu sudah menjamin ketahanan pangan negara?

Realita Petani Indonesia

Tahukah Anda, ternyata jumlah petani di Indonesia dari tahun ke tahun semakin menurun. Menurut data dari Pusat Data dan Informasi Pertanian 2018 menunjukkan bahwa jumlah petani Indonesia hanya 30,46%, sedangkan non petani mencapai 69,54%. Sedangkan menurut data dari BPS 2015 menunjukkan bahwa jumlah petani di Indonesia hanya 26,14 juta orang. Saat ini kita sedang mengalami krisis pertumbuhan petani muda. Semua SDA (Sumber Daya Alam) yang kita miliki tidak akan berguna apabila tidak ada yang mengolahnya.

Baca Juga : Indonesia Krisis Padi atau Krisis Petani?

Jika kita telaah lagi, ternyata ada beberapa masalah yang muncul di tingkat petani, yaitu :

1. Usia petani
2. Status pendidikan petani
3. Kondisi perekonomian petani
4. Paradigma masyarakan terhadap petani

Mari kita bahas satu-satu masalah yang muncul di tingkat petani tersebut.

1. Usia Petani Indonesia

Jika kita perhatikan,kondisi umur petaninya sendiri ternyata tidak baik. Umur dari petani kita rerata sudah tua, dimana 87,14% sudah diatas 34 tahun (BPS 2015). Sedangkan menurut Data Kementerian Pertanian 2018, usia petani terbanyak di usia 60 tahun keatas yaitu 17,90%, sedangkan usia muda 15-24 tahun hanya berkisar 11,11%.

2. Status Pendidikan Petani

Menurut data Statistik Ketenagakerjaan Sektor Pertanian 2017-2018, 86,49% pendidikan petani masih di jenjang pendidikan dasar. Sementara di tingkat pendidikan menengah dan pendidikan tinggi hanya 14,23%.

Sungguh jauh sekali perbedaan jenjang pendidikan yang dimiliki oleh petani kita. Tidak hanya sampai disitu, ternyata mereka yang adalah sarjana pertanian dahulunya, malah memilih bekerja di perkantoran, Bank dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena mereka beranggapan sektor pertanian tidak dapat menjamin kehidupan yang layak.

Pengaruh Swasembada Pangan Indonesia di Tangan Petani Muda

3. Kondisi Keuangan Petani

Dari data Kinerja Pembangunan Pertanian 2015-2018 “dalam 5 tahun terakhir tercatat mulai dari 2014 hingga 2018 nilai NTUP (Nilai Tukar Usaha Petani) mengalami kenaikan 5,39% dan nilai NTP (Nilai Tukar Petani) mengalami kenaikan 0,22%. Sungguh perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dari NTUP dengan NTP.

Baca Juga : Apakah Pandangan Kamu Terhadap Petani Sudah Benar?

Tidak hanya disitu, pertanian memiliki peran besar dalam menaikan kemiskinan. Tercatat angka kemiskinan di pedesaan menurun 10,87% dari tahun 2013 hingga 2018 yaitu 17,74 juta jiwa menjadi 15,81 juta jiwa.

Jika dilihat dari data diatas, pertanian memang memiliki peran fital meningkatkan perekonomian desa, namun lagi-lagi permainan tengkulak masih menjadi musuh utama. Permainan para tengkulak menyebabkan penurunan penghasilan petani, karena memberikan harga yang tidak pantas bagi petani.

4. Paradigma Masyarakat Terhadap Petani

Masalah-masalah yang menimpa para petani seperti yang disebut diatas adalah sebagian yang membentuk paradigma petani masih jelek. Banyak yang masih beranggapan bahwa menjadi petani terlihat rendahan, melelahkan, sering merugi, panas-panasan, kotor, dan sebagainya.

Paradigma-paradigma buruk seperti diatas yang membuat para orang tua yang pekerjaannya petani justru mengajak anaknya tidak menjadi petani. Dengan alasan agar anaknya lebih sejahtera kelak.


Pengaruh Regenerasi Petani dalam Swasembada Pangan Indonesia di Tangan Petani Muda?

Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa peran petani adalah menjadi penyokong ketersediaan pangan untuk keberlangsungan hidup negara. Apalagi jika melihat jumlah penduduk di Indonesia sudah mencapai angka 265 juta. Angka ini akan terus bertambah, dan tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang pasti memerlukan makanan. Oleh karena itu, regenerasi petani adalah masalah yang harus diselesaikan.

Baca Juga : Petani Diminta Konsultasi Ke Penyuluh Guna Menghindari Pupuk dan Pestisida Palsu

Dalam aplikasinya, pemerintah harus tegas turut serta mengatasi masalah tersebut. Yakni dengan memberikan hak bagi petani lewat menjamin pendidikan yang layak. Dengan demikian hak-hak anak petani dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan dalam menyongsong swasembada pangan di indonesia.

Pemerataan pembangunan terkhusus ketersediaan listrik dan jalur transportasi untuk kegiatan distribusi hasil panen petani. Kebijakan harga minimum dari pemerintah diharapkan dapat menyelamatkan petani dari permainan harga oleh tengkulak.

Baca Juga : Nur Agis Aulia, Sarjana Cumlaude yang Memilih Menjadi Petani

Selain itu dibentuknya koperasi kelompok tani diharapkan juga dapat membantu petani dalam berbagai hal. Seperti perpanjangan tangan dalam bantuan modal, distribusi bibit, pupuk, penyuluhan pertanian, penentuan harga jual, dan sebagainya. Dengan dilakukan hal ini, diharapkan petani dapat lebih terarah untuk mewujudkan petani lebih sejahtera.

Tidak hanya upaya-upaya dari jajaran pemerintah, para petani juga diharapkan mampu mengubah mindset masyarakat terutama kepada kawula muda. Mindset untuk meningkatkan minat terjun ke pertanian kepada kawula muda untuk mewujudkan regenerasi petani. Hal ini tentu pertanian berkelanjutan dalam menyongsong swasembada pangan di indonesia

Sumber : Dilansir dari Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.